Lokadata.ID

3 unicorn fintech India incar pasar Asia Tenggara, masuk Indonesia?

Ilustrasi pengguna layanan fintech di Malaysia
Ilustrasi pengguna layanan fintech di Malaysia / ANTARA FOTO/REUTERS

Tiga perusahaan rintisan teknologi keuangan paling bernilai di India kini mulai mengincar pasar Asia Tenggara. Ekspansi ini tak pelak membawa gelombang persaingan baru di pasar pembeli muda di kawasan, terutama di Indonesia, Thailand, Filipina, dan Singapura.

Pendatang baru dari India kemungkinan akan menambah persaingan yang sudah ketat untuk pembeli Asia Tenggara. Saat ini, Grab, Gojek, dan Sea telah berinvestasi secara agresif dalam layanan keuangan untuk mengunci basis pelanggan mereka yang besar.

Unicorn fintech pertama India yang akan mengincar Asia Tenggara adalah Pine Labs, penyedia terminal point-of-sale untuk pengecer, mengklaim telah mencapai valuasi sebesar AS$3 miliar (Rp 42,5 triliun) dalam putaran pendanaan bulan lalu. Definisi industri unicorn adalah startup dengan valuasi AS$1 miliar (Rp 14,1 triliun) atau lebih.

Pine Labs baru-baru ini mulai menawarkan layanan "beli sekarang, bayar nanti (pay later)" kepada pengecer di Malaysia. Layanan ini memungkinkan pelanggan membayar dengan mencicil tanpa bunga menggunakan kartu kredit mereka. Pine Labs mengambil potongan dari pembayaran, serta biaya dari bank yang mengeluarkan kartu untuk menggunakan perangkat lunaknya dalam memproses transaksi.

"Sebagian besar pasar Asia Tenggara adalah tempat India berada sekitar dua setengah tahun yang lalu," kata CEO Pine Labs, Amrish Rau, dalam sebuah wawancara dengan Deal Street Asia, Kamis (10/6/2021).

April lalu Pine Labs telah mengakuisisi Fave, sebuah startup Malaysia yang menawarkan promosi untuk pembelian daring. Menurut Rau, perusahaan berencana untuk meluncurkan layanan pay later ini di Thailand, Singapura, Indonesia, dan Filipina melalui kemitraan dengan bank lokal.

Meskipun penguncian Malaysia membuat transaksi merosot, Pine Labs masih tetap optimis dalam jangka panjang. “Konsumen akan meminta lebih banyak transaksi pembayaran digital daripada sebelumnya,” ujarnya optimistis.

Selain Pine, fintech India lain, Zeta Services, juga mengincar ekspansi ke kawasan Asia Tenggara. Startup bervaluasi AS$1,45 miliar, yang menawarkan produk jasa keuangan kepada bank dan perusahaan lain ini, mendapat suntikan AS$250 juta oleh Vision Fund 2 SoftBank Group.

Zeta berencana menggunakan 70 persen dana segar itu untuk meningkatkan penjualan, pemasaran, dan pengembangan bisnis di Asia Tenggara. “Kami bahkan sudah punya tim dan klien di AS,” kata CEO Zeta, Bhavin Turakhia dalam sebuah wawancara dengan Nikkei Asia.

Satu lagi, Razorpay, yang memproses pembayaran untuk layanan online seperti pengiriman makanan dan e-commerce, juga berekspansi ke Asia Tenggara. "Jadi Anda melihat pasar seperti Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan Filipina. Kami akan meluncurkan setidaknya satu atau dua pasar sebelum akhir tahun keuangan ini,” kata Harshil Mathur, salah satu pendiri dan CEO Razorpay.

Perusahaan berencana menambah jumlah karyawannya sebesar 50 persen dari 1.400 orang yang sudah ada saat ini. Dengan tambahan modal dari GIC Singapura, Razorpay April lalu juga telah meningkatkan valuasi menjadi sebesar AS$3 miliar.

Hujan unicorn di India

Di tengah tsunami pandemi korona, startup fintech di India tetap berkembang pesat karena populasinya yang besar dan semakin terhubung ke internet. India memiliki sekitar 500 juta pengguna smartphone, terbesar kedua di dunia setelah Cina. Pemerintah India telah melarang uang kertas denominasi tinggi pada 2016, yang langsung memicu lonjakan transaksi non-tunai.

Pandemi korona bahkan semakin mendorong permintaan untuk belanja daring dengan pembayaran non-tunai. Akibatnya, jumlah terminal point-of-sale yang terpasang meningkat dua kali lipat dari 2,5 juta pada 2017 menjadi 5,1 juta pada Maret 2020, menurut laporan Sanford C. Bernstein.

The Wall Street Journal melaporkan, saat pandemi menghantam India, pasar sahamnya justru melonjak. Indeks MSCI India mencapai rekor tertinggi minggu ini, naik 14 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Tentu, pasar yang kuat akan membantu para unicorn fintech ini untuk mendapatkan penilaian yang mereka cari dalam IPO.

Investor yang telah menggelontorkan uang ke perusahaan teknologi India dalam beberapa tahun terakhir akan dapat menguangkannya. Tidak termasuk infrastruktur dan real estat, modal ventura dan dana ekuitas swasta yang diinvestasikan AS$93 miliar di India dari 2018 hingga 2020, menurut laporan oleh Ernst & Young pada bulan Maret. Teknologi dan e-commerce termasuk di antara sektor yang paling populer. Itu belum termasuk lebih dari AS$10 miliar yang dicurahkan ke platform online Reliance.

Menurut laporan NASSCOM, yang dikutip IBS Intelligence, India diprediksi akan memiliki 50 unicorn pada akhir tahun 2021. Bahkan, di tengah pandemi yang mengerikan ini, 13 startup telah masuk ke daftar unicorn selama empat bulan pertama 2021. Diyakini, bakal lebih banyak lagi unicorn di India, yang akan mengumpulkan AS$13,7 miliar tahun ini.

Delapan perusahaan rintisan, yakni startup fintech CRED, startup media sosial ShareChat, perusahaan manajemen kekayaan Groww, platform perpesanan Gupshup, startup social commerce Meesho dan epharmacy PharmEasy — memasuki klub unicorn pada April 2021.

Pada Mei, India telah melihat masuknya dua startup yaitu Moglix dan Zeta di klub unicorn, menjadikan jumlah total startup teknologi India yang telah masuk klub menjadi 55. India diperkirakan akan memiliki lebih dari 100 unicorn pada 2023, seperti dilaporkan Inc42 Plus.

Perkembangan pesat India yang bahkan melampaui Cina ini telah membuat Amerika Serikat khawatir. Senator Steve Daines dari Montana bahkan menyebut pasar fintech India tumbuh paling cepat, sampai mengungguli AS dalam inovasi keuangan.

'India adalah salah satu pasar fintech yang tumbuh paling cepat di dunia. Faktanya, India memproses hampir 10 miliar lebih banyak pembayaran real-time daripada Cina pada tahun 2020, AS$25,5 miliar, dibandingkan AS$15,7 miliar untuk Cina,” kata Daines dilansir Yahoo Finance.

Dia mengatakan, dibandingkan dengan India dan Cina, Amerika Serikat kalah telak. Sebab, mereka hanya memproses pembayaran real-time senilai AS$1,2 miliar.