Lokadata.ID

33 Provinsi minus, hanya satu yang tumbuh positif

Pengeluaran konsumsi rumah tangga Indonesia menurun
Pengeluaran konsumsi rumah tangga Indonesia menurun Lokadata / Lokadata

Konsumsi rumah tangga merupakan penopang utama perekonomian. Pada 2019, pos ini menyumbang 56,8 persen total output perekonomian atau kerap disebut sebagai produk domestik bruto (PDB), Indonesia.

Hingga dua bulan pertama 2020, konsumsi tetap menjadi mesin utama perekonomian. Namun, memasuki masa pandemi, pertengahan Maret, konsumsi rumah tangga mulai layu.

Kebijakan pembatasan sosial yang menghambat mobilitas penduduk, memukul sebagian besar pendapatan pekerja informal, mulai dari pedagang keliling, tukang ojek, tukang parkir, buruh bangunan, juga pelayan toko dan pembantu di warung makan.

Demand yang melemah memaksa sejumlah perusahaan menggilir waktu kerja karyawan dalam sistem sif. Sebagian perusahaan bahkan merumahkan pegawai, memberikan fasilitas cuti tanpa gaji (unpaid leave), atau melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Akibatnya, pendapatan masyarakat menurun, dan tingkat konsumsinya makin merosot.

Pada triwulan II/2020, tiang penyangga perekonomian ini menyusut cukup dalam, minus 4,7 persen dbandingkan dengan posisi triwulan II/2019, jika diukur atas dasar harga konstan 2010.

Jika dirinci, dari 34 provinsi di Indonesia, hanya ada satu wilayah yang konsumsi rumah tangganya masih tumbuh positif, yaitu Aceh, yang meningkat 0,95 persen. Sisanya, 33 provinsi, semuanya turun. Celakanya, penurunan terbesar justru terjadi di Jawa yang selama ini menjadi daerah penyumbang perekonomian yang terbesar.

Ekonom Core Yusuf Rendy Manilet menilai konsumsi rumah tangga yang tetap tumbuh di Aceh tak lepas dari terbatasnya penyebaran pandemi di wilayah itu. Hingga 30 Juni (akhir triwulan II/2020), kasus positif Covid-19 di Aceh baru ada satu dari 58.750 penduduk. Pada saat yang sama, di Jakarta, misalnya, sudah ada satu kasus di setiap 925 penduduk.

“Kecilnya kasus di Aceh mendorong masyarakat beraktivitas seperti biasa, termasuk melakukan kegiatan perekonomian,” kata Yusuf saat dihubungi Lokadata.id (10/9/2020).

Mobilitas warga Aceh juga tampak pada Google Mobility Report yang menunjukkan masyarakat masih beraktivitas untuk pergi ke pusat grosir, dan retail. Selama Triwulan II, pemerintah Provinsi Aceh memang belum memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) seperti sebagian besar daerah lain di Indonesia.

Provinsi yang terempas korona

Dari 33 provinsi yang tingkat konsumsi rumah tangganya menyusut, terdapat 12 wilayah yang merosot paling tajam, dan lima di antaranya ada di Jawa, penyumbang 59 persen perekonomian Indonesia pada 2019.

Di DKI Jakarta, misalnya, konsumsi rumah tangga menyusut 5,2 persen. Data BPS DKI Jakarta mencatat, penurunan didorong oleh indeks retail yang minus 52,7 persen; impor barang konsumsi minus 10,30 persen; merosotnya penjualan sepeda motor, negatif 86 persen; dan perubahan kebijakan THR pegawai negeri sipil yang tak menyertakan para pejabat tinggi sebagai penerima tunjangan.

Sama seperti Jakarta, konsumsi rumah tangga Provinsi Jawa Barat juga turun 5,5 persen. Data BPS Jawa Barat mengungkap, sepanjang triwulan II/2020, terdapat 300.000 tenaga kerja terdampak (baik PHK maupun dirumahkan) di wilayah ini.

Di Sumatra, konsumsi rumah tangga Provinsi Sumatera Selatan melorot paling tajam, minus 6,7 persen. Berdasarkan hasil Survei Konsumsi Rumah Tangga (SKKRT) triwulan II/2020, penurunan tertinggi terjadi pada subkomponen pengeluaran rekreasi dan budaya (92,41 persen), transportasi (54,12 persen), dan makanan minuman non-alkohol (20,12 persen).

Menurut Yusuf Rendy Manilet, konsumsi rumah tangga masih akan menyusut di kuartal III/2020 yang akan berakhir 30 September nanti. "Orang di Jakarta belum seaktif masa sebelum pandemi," katanya, "konsumsi rumah tangga berpotensi kembali negatif."

Pemerintah berusaha menggenjot konsumsi rumah tangga dengan memberikan bantuan sosial bagi masyarakat rentan, agar daya beli tidak merosot. Sedangkan bagi kelompok menengah ke atas, upaya mendongkrak konsumsi dilakukan dengan membangun kepercayaan bahwa rantai penyebaran virus bisa segera diputus.