Lokadata.ID
Adhe Bakti: Al-Fatihin memicu lone wolf perempuan
Direktur Pelaksana Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikalisasi (PAKAR) Adhe Bakti saat ditemui di sebuah tempat makan di kawasan Kebon Jeruk Jumat sore (2/4/2021). Aminudin Azis/Lokadata.id

Adhe Bakti: Al-Fatihin memicu lone wolf perempuan

Ia mengiyakan jika ada eks FPI yang hijrah ke kelompok teroris. Namun, tidak menemukan fakta jika FPI memiliki sistem pendanaan untuk aksi "amaliah".

Mungkin, Adhe Bakti adalah orang yang selalu menghabiskan waktunya untuk memikirkan teroris, selain tentunya Sidney Jones dan aparat. Adhe bahkan pernah memberi tahu petinggi negara akan adanya “konser ISIS” pada 2016 dan itu benar-benar terjadi.

“Polanya sama. Setelah bom gereja dan Mabes Polri, mungkin akan ada aksi lagi dalam tiga bulan ke depan,” ujar Direktur Pelaksana Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikalisasi (PAKAR) ini saat wawancara dengan Heru Triyono dan fotografer Aminudin Azis di sebuah tempat makan di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Jumat sore (2/4/2021).

Adhe memang menampilkan dirinya sebagai orang yang tahu segalanya tentang teroris. Sejak 2005, ia sudah mengikuti persidangan teroris dan menemui ribuan terdakwa di tahanan pengadilan, termasuk Abu Bakar Ba'asyir dan Aman Abdurrahman.

Hal itu menempatkan dirinya dalam bahaya berulang kali. Tapi, Adhe tak peduli, karena merasa memiliki agenda sendiri: memahami motivasi di balik aksi dan mengoleksi informasi untuk dikaji. “Saya menikmati prosesnya,” kata Adhe.

Sore itu, kami fokus membahas dua tema, ditemani es kopi susu dan putra keduanya. Yaitu, serangan teroris perempuan seorang diri (lone wolf) dan arsiran Front Pembela Islam (FPI) dengan jaringan teroris. Berikut tanya jawabnya:

Direktur Pelaksana Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikalisasi (PAKAR) Adhe Bakti saat ditemui di sebuah tempat makan di kawasan Kebon Jeruk Jumat sore (2/4/2021).
Direktur Pelaksana Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikalisasi (PAKAR) Adhe Bakti saat ditemui di sebuah tempat makan di kawasan Kebon Jeruk Jumat sore (2/4/2021). Aminudin Azis / Lokadata.id

Sidney Jones bilang kalau Pemerintah Indonesia terkesan mengait-ngaitkan antara FPI dan terorisme, bagaimana?
Kita bicara fakta saja. Jangan kesan. Bisa diriset oleh publik. Salah satunya tentang ketua JAD (Jama'ah Anshorud Daulah) di Jawa Timur yang dipimpin Zainal Anshori.

Zainal itu adalah tokoh FPI di Lamongan. Sekarang sudah ditangkap.

Itu kan sudah dibantah oleh pihak FPI?
Tentu dari organisasinya ada penyangkalan. Tapi kalau bicara oknum, ya sudah enggak terhitung.

Beberapa waktu lalu saja ada temuan puluhan nama mantan FPI yang terlibat dalam kelompok teroris.

Secara ideologi, nyambung enggak sih antara FPI dan kelompok teroris tertentu, katakanlah JAD?
Hampir enggak. Ketika bicara state representative, FPI kan menerima. Mereka menerima keberadaan negara dan pejabatnya, juga polisi serta aturannya.

Kalau begitu, di mana letak irisannya?
Saya kira soal kekerasan dan keinginan jihad mereka ya. Seperti Palestina atau Filipina. Di berbagai media kan sudah tersebut.

Ketika FPI tidak merepresentasikan keinginan itu, maka anggotanya akan melakukan pencarian ke kelompok lain. Ini yang jadi langkah awal.

Siapa mentor mereka atau dari mana mendapatkan ideologi teroris ini?
Begini. Pasca-tsunami di Aceh, kelompok Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Jamaah Islamiyah (JI) dan FPI itu ngeblend.

Ada anggota MMI dan JI bergabung dengan FPI atau sebaliknya. Campur baur. Termasuk dengan militan GAM.

Kita harus akui, FPI adalah kelompok sipil pertama yang mendarat saat tsunami. Mereka memandikan ribuan jenazah, membersihkan masjid, dan banyak lagi.

Tapi, mereka memang berbaur dengan berbagai kelompok di sana. Termasuk jaringan teroris.

Apakah oknum FPI juga mendapat pelatihan selayaknya teroris?
Yang pasti, terdapat data bahwa pelatihan militer kelompok teroris di Aceh juga pernah diikuti eks anggota FPI.

Oke. Mereka ini punya kemampuan merakit bom—seperti yang ditemukan di Condet dan Bekasi?
Menurut saya, bom di dua tempat itu independen ya. Tidak ada hubungannya dengan jaringan teroris.

Apalagi manual bom rakitan itu banyak tersebar dan bisa dipelajari. Bahkan anak-anak saja bisa membuat bom.

Apakah FPI memiliki sistem untuk mendanai aksi-aksi teroris?
Bahwa ada eks FPI yang tidak puas lalu hijrah ke kelompok teroris, memang iya. Tapi saya tidak menemukan fakta jika mereka memiliki sistem pendanaan untuk aksi teroris.

Sebagian publik memandang ada unsur politik di balik keterkaitan FPI dan teroris ini…
Mbak Sidney Jones memang bilang pemerintah seperti terobsesi untuk mengaitkannya. Tapi itu isu lama dan enggak baru-baru ini saja.

Kalau sudah lama, kenapa ramainya sekarang-sekarang ini?
Tidak juga. Lihat kasus JAD Lamongan. Kan bicara juga keterlibatan Zainal Anshori yang juga anggota FPI ketika itu.

Mungkin saja menjadi ramai karena FPI sudah dibubarkan, lalu mendapat serangan dari berbagai arah dan imam besar mereka ditangkap.

Ini yang memicu mereka sampai merakit bom?
Ketika diserang dari berbagai arah, tentu ada oknum-oknum yang ingin melawan.

Condet adalah contoh paling pas. Sah-sah saja fight back tanpa bermaksud membenarkan ya.

Direktur Pelaksana Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikalisasi (PAKAR) Adhe Bakti saat ditemui di sebuah tempat makan di kawasan Kebon Jeruk Jumat sore (2/4/2021).
Direktur Pelaksana Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikalisasi (PAKAR) Adhe Bakti saat ditemui di sebuah tempat makan di kawasan Kebon Jeruk Jumat sore (2/4/2021). Aminudin Azis / Lokadata.id

Menurut Anda, bom Makassar, teror di Mabes Polri dan penemuan bom rakitan eks FPI merupakan puzzle yang sama?
Saya pastikan tidak. Itu hal berbeda.

Lalu, apa pemicu aksi bom Makassar?
Nah, ini agak mirip dengan pola kelompok Abu Zee dengan JAD-nya.

Jaringan Abu Zee ini yang menusuk Wiranto di Pandeglang—karena tidak terima adanya penangkapan kelompok mereka di Bekasi.

Kalau yang di Makassar?
Sama kan. Ada penangkapan sebelumnya di Makassar pada Januari kemarin. Cukup banyak, termasuk beberapa perempuan.

Ada sekitar 20-an orang. Salah satunya bernama M Rizaldi yang tewas ditembak Densus 88.

Perempuan cukup punya peranan ya sekarang. Apakah sudah pasti pro ISIS?
Betul. Pasti ISIS, tapi belum tentu JAD. Secara ideologi, ISIS itu memang memfatwakan bukan saja halal. Tapi wajib bagi perempuan untuk melakukan "amaliah".

Kemudian, secara taktis, perempuan itu kan tidak dicurigai. Anda lihat kan bagaimana pasutri melakukan serangan bom di Surabaya dan Jolo, Filipina. Artinya, perempuan sudah mulai ikut serta.

Kenapa pola serangan bom pasutri jadi sering, bahkan mengajak anak-anak?
Mereka ingin bareng-bareng ke surga. Ketimbang si anak atau istri ditinggal dan menjadi menderita karena mendapat stigma.

Tapi aksi di Mabes Polri kan perempuan seorang diri. Itu pertama kali?
Bukan. Jangan lupa dengan duo Siska. Yaitu Siska Nur Azizah dan Dita Siska Millenia yang menyerang Mako Brimob.

Satu dari Tasikmalaya dan satu dari Jawa Tengah—hanya dengan memakai gunting.

Kenapa perempuan di Jamaah Islamiyah (JI) tidak boleh melakukan “amaliah”?
Kalau JI memang mengharamkan perempuan untuk beraksi. Kelompok ini syaratnya cukup ketat. Harus pria dewasa dan tamat Alquran.

Apa sih yang menggerakkan perempuan-perempuan ISIS tersebut beraksi belakangan ini?
Sebenarnya sudah ada ayat dan hadis yang dijustifikasi ISIS untuk mendorong perempuan melakukan teror.

Tapi, salah satu pemicu lone wolf perempuan belakangan ini adalah majalah Al-Fatihin pada 2018.

Majalah ini terafiliasi dengan ISIS dan salah satu terbitannya membahas jihadis perempuan yang gagah berani--lengkap dengan dalil-dalilnya.

Intinya, beberapa artikelnya mengumandangkan keberanian perempuan muslim ISIS dan mendesak mereka untuk angkat senjata.

Majalah ini dikonsumsi perempuan-perempuan pro ISIS di Indonesia?
Tentu saja. Majalah ini beredar dalam obrolan grup mereka di Telegram dan WhatsApp. Bahkan punya edisi bahasa Indonesia dan Melayu.

Kalau melihat sejarah ISIS, sejak kapan tepatnya perempuan-perempuan ini didorong untuk melakukan teror?
Memang majalah itu cukup memicu. Tapi rencana-rencana untuk aksi dari perempuan pro ISIS di Indonesia juga ada beberapa.

Salah satunya Ika Puspitasari, beberapa tahun lalu, yang belum sempat melakukan aksi bom bunuh diri. Ada kok di Indonesia.

Sedari awal ISIS memang mendorong perempuan melakukan “amaliah”?
Enggak juga. Baru ada sekitar 2016-an. Saat itu banyak seruan-seruan dari ISIS untuk perempuan yang wajib terlibat.

Kalau perempuan akan melakukan "amaliah", butuh asesmen dari siapa?
Ya ACC fatwa ISIS itu. Dia merasa yakin dengan fatwa itu dan melakukan inisiatif sendiri. Itu yang dilakukan Zakiah Aini di Mabes Polri.

Jaringan pro ISIS yang lain pasti tahu akan ada aksi?
Biasanya mereka melakukan percakapan dulu sebelumnya di media sosial. Tapi, saat aksi, ya berangkat saja tanpa ada yang tahu.

Kenapa kalau melakukan “amaliah” mereka selalu bawa KTP ya?
Prasangka baiknya ya mereka ingin namanya diketahui karena telah melakukan "amaliah". Bukan nama orang lain.

Namun, poin paling pentingnya adalah pesan teror itu tersampaikan kepada publik.

"Saya rasa sudah tugas intelijen bisa menyusup ke kelompok yang dianggap membahayakan atau berpotensi melakukan kejahatan terhadap negara."

Adhe Bakti

Sebenarnya, pandangan kelompok teroris terhadap Habib Rizieq Syihab itu seperti apa?
Saya belum pernah menanyakan itu secara lengkap kepada mereka. Baik itu pro ISIS atau JI. Yang jelas, Habib Rizieq kan mendukung Pancasila dan mereka enggak suka akan itu.

Apakah Anda membaca bahwa isu teroris dan kaitannya dengan peristiwa Cikampek adalah pengalihan isu?
Tidak salah masyarakat punya pandangan seperti itu. Ya biarkan saja yang bicara itu adalah fakta hukum. Saya tidak mau masuk ke sana.

Isu terorisme ini bisa di-setting enggak?
Begini. Sejak mengikuti kasus teroris di peradilan dari 2005, saya tidak menemukan setting itu.

Mereka kan diperiksa dalam peradilan yang terbuka, dan secara terbuka juga para pelaku mengakui perbuatannya.

Bagaimana kalau ada peran intelijen?
Saya rasa sudah tugas intelijen bisa menyusup ke kelompok yang dianggap membahayakan atau berpotensi melakukan kejahatan terhadap negara.

Tapi, jika ada anggota intelijen ketahuan, bukan serta merta jadi parameter bahwa terorisme adalah produk intelijen, konspirasi atau settingan.

Terlalu berisiko bagi pemerintah untuk melakukan itu.

Apakah aksi teror akan ada lagi dalam waktu dekat?
Potensinya masih ada kalau bercermin pada kasus bom Surabaya dan Mako Brimob. Kira-kira selama tiga bulan ke depan, kita harus waspada.

Bulan Ramadan?
Justru di bulan Ramadan mereka makin gatel untuk "amaliah". Apalagi pahalanya akan berlipat.

Rentetan teror yang terjadi, apakah menunjukkan deradikalisasi yang dilakukan pemerintah gagal?
Tergantung dari sudut pandang mana Anda melihat. Kalau ukurannya adalah membuat Umar Patek menaikkan bendera merah putih itu berhasil, ya saya kurang setuju juga.

Banyak faktor untuk menyatakan deradikalisasi itu berhasil atau enggak. Karena, unsur masyarakat yang terlibat program ini juga amat banyak.

Bagaimana dengan anggapan bahwa Anda adalah representasi pemerintah untuk isu terorisme ini?
Itu salah. Yang bilang begitu belum mengenal saya dengan baik. Saya memang sering memberi masukan kepada pemerintah, tapi bukan berarti saya mewakili mereka kan.

Terakhir. Kenapa Anda suka sekali mendalami isu terorisme ini?
Tidak sengaja. Pada 2005 itu saya hanya bantu kakak yang sedang studi master hukum tentang penuntutan kasus teroris.

Risetnya ke beberapa pengadilan dan di sana saya bertemu dengan peneliti dan para jurnalis. Jadi malah keasyikan.

Di pengadilan itu Anda juga bertemu dengan peneliti senior Universitas Melbourne Dave McRae?
Betul. Pada prosesnya saya bersedia menjadi asistennya dan wawasan saya menjadi luas tentang isu ini.