Lokadata.ID
Aip Syarifuddin: Produsen tempe tidak mencari kekayaan berlimpah
Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifuddin saat sesi foto di kediamannya, kawasan Sawangan, pada Senin pagi (4/1/2021). Aminudin Azis/Lokadata.id

Aip Syarifuddin: Produsen tempe tidak mencari kekayaan berlimpah

Ia meminta pengertian dari masyarakat. Kenaikan harga tempe itu untuk menutup kerugian produsen agar bisa produksi terus dan bisa makan.

Tepat pukul 10.00 WIB. Di atas meja sudah berderet jamuan teh, kopi dan air putih. Aip Syarifuddin, pria berusia 74 dengan rambut perak, datang. Ia tidak gemuk, juga bukan kurus seperti Joko Widodo. Dengan santai ia bersandar di kursi dan langsung mengatakan. “Saya beri tahu Anda dengan detail kenapa harga tempe naik,” ujarnya kepada Lokadata.id yang duduk di seberangnya.

Meski terhitung uzur, Aip tak menunjukkan tanda-tanda melambat. Justru energik. Ia mengaku rajin jalan cepat atau berenang di komplek rumahnya yang seluas satu hektar itu. Tampak, tempat tinggalnya di kelilingi pohon besar dengan bunyi-bunyi serangga, jangkrik dan belalang, menyerupai hutan.

Pada satu momen, ia bangkit dari kursi, dan membawa kami ke ruangan yang isinya mesin dan peralatan produksi tempe yang sudah tak terpakai—di dekat kolam renang rumahnya. Ada mesin pengiling, bak penampung, hingga timbangan.

“Produksi tempe saya hentikan karena ada perajin tempe dekat sini. Saya tidak mau matiin usaha orang,” tuturnya saat wawancara dengan Heru Triyono dan fotografer Aminudin Azis di kediamannya, kawasan Sawangan, pada Senin pagi (4/1/2021).

Belakangan, para penikmat tahu tempe memang resah. Dua komoditas berbahan baku kedelai ini menjadi langka. Muaranya, sejumlah perajin tempe dan tahu memutuskan mogok produksi sebagai bentuk protes karena harga kedelai naik 50 persen.

Selama satu jam, Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) ini menjelaskan panjang lebar tentang isu itu. Mulai dari produksi kedelai lokal yang belum mampu memenuhi kebutuhan hingga adanya diskriminasi harga tempe. Berikut tanya jawabnya:

Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifuddin saat sesi foto di kediamannya, kawasan Sawangan, pada Senin pagi (4/1/2021).
Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifuddin saat sesi foto di kediamannya, kawasan Sawangan, pada Senin pagi (4/1/2021). Aminudin Azis / Lokadata.id

Apa pertimbangan perajin tempe tahu mogok produksi. Berharap harga kedelai turun?
Begini. Indonesia itu amat bergantung dengan kedelai impor. Nah, kondisi pandemi saat ini membuat kedelai jadi langka dan harganya melambung.

Kenapa? Karena permintaan yang tak sebanding dengan produksi.

Situasi ini imbas melonjaknya permintaan kedelai dari Tiongkok kepada Amerika kan?
Benar. Tiongkok melakukan permintaan kedelai dua kali lipat. Dari 15 juta ton menjadi 30 juta ton pada Desember 2020.

Permintaan tersebut mengakibatkan berkurangnya kontainer di beberapa pelabuhan Amerika, yang berimbas kepada pasokan untuk negara importir, termasuk Indonesia.

Kembali kepada soal mogok produksi. Apakah efektif?
Pada 2013 kita pernah melakukan mogok juga. Ternyata efektif. Setelah mogok, harga kedelai menjadi turun. Dari Rp8 ribu per kilogram menjadi Rp6 ribuan. Harga itu stabil terus hingga 2019.

Harusnya ini adalah momen produsen tempe tahu beralih ke kedelai lokal dong?
Sayangnya kita tidak bisa beli karena mereka mematok harga mahal. Wajar, biaya produksi petani kedelai itu juga mahal. Karena prosesnya memang masih tradisional.

Kalau produsen tempe tahu membeli dengan harga Rp6500, maka tidak menguntungkan juga bagi petani. Minimal harganya itu Rp8500.

Kualitas kedelai lokal jauh lebih bagus dari impor?
Nilai gizi kedelai lokal itu lebih bagus. Impor itu kan secara genetika termodifikasi atau istilahnya itu genetically modified organisms (GMOs).

Begitu ditanam, ya dikasih bahan kimia. Sehingga satu hektar itu bisa menghasilkan 4 ton lebih.

Kalau produksi petani kedelai kita bisa mencapai angka segitu?
Kita ya masih natural. Belum sampai. Hasilnya hanya 1,5 ton hingga 2,5 ton, yang kalau dijual mencapai Rp20 jutaan—seperti petani di Kabupaten Grobogan.

Lebih untung menanam varietas lain?
Ini yang jadi soal juga. Petani itu kurang suka menanam kedelai. Kalau mereka tanam kedelai, hasilnya adalah 2,5 ton per hektar.

Angka itu kemudian dikali Rp8500, sehingga dapatnya Rp20 jutaan. Itu rata-rata.

Tapi, kalau ditanam padi, hasilnya bisa 5-6 ton. Jika ditanami bawang, jagung, kentang, mereka bisa mendapat Rp50-60 jutaan. Jauh lebih untung.

Di beberapa daerah, kedelai itu memang sebagai tanaman sela saja…
Tuhan sudah mengatur hal itu sepertinya. Yang namanya sawah, kalau ditanami padi terus menerus, maka tanaman padi yang ke empat itu hasilnya kurang bagus. Harus diganti dulu oleh tanaman sela yang lain.

Apakah ada indikasi bahwa naiknya harga kedelai ini adalah permainan importir?
Tahun 2013 hal itu terjadi. Importir kedelai itu memainkan harga. Harga di Amerika murah, tapi dijual mahal di Indonesia. Untungnya itu bisa mencapai 30 persen lebih.

Saya tahu karena mengecek langsung ke Amerika.

Kalau saat ini, faktornya ya yang saya jelaskan tadi. Yaitu permintaan yang tak sebanding dengan produksi.

Sebenarnya apa pesan yang ingin produsen tempe sampaikan ketika harus mogok produksi tiga hari?
Pesannya kita itu ingin menunjukkan bahwa tahu dan tempe ini memang dibutuhkan masyarakat. Begitu.

Perdagangan tempe tahu ini kan sudah puluhan tahun berjalan. Hubungan produsen dengan pedagang pasar juga sudah lama. Tapi ketika harga mau dinaikin, pedagang pasarnya tidak mau.

Karena memang sedang pandemi…
Nah itu alasan mereka. Lagi susah dan konsumennya tidak mau beli karena pandemi. Ya, begitu ada mogok produksi, baru deh tampak bahwa tempe dan tahu itu begitu dicari masyarakat.

Sekarang harga tempe per kilogram sudah mendekati Rp10 ribu, apakah ini harga ideal?
Ya rata-rata di angka Rp9600. Kalau di Kalimantan, Padang atau Cilacap, rata-rata sudah mendekati Rp10 ribu.

Harga itu sudah menguntungkan bagi produsen tempe dan tahu?
Jangan salah paham. Kita ini enggak mau untung besar banget. Angka itu hanya untuk menutupi biaya produksi dan sekadar untuk makan. Itu keinginan kita.

Kan ada hitungan biaya produksi per kilo hingga jadi tempe yang memakan waktu sampai empat hari. Ada proses dimasak, dibersihkan dan lain-lain.

Dengan harga sekarang sekitar Rp9600, ditambah ongkos produksi tadi Rp3500, maka harganya jadi Rp12 ribu—untuk modal.

Jadi kita minta supaya naik kira-kira 20 persen. Tidak besar.

Sekitar Rp15 ribu ya harga barunya?
Ya sekitar segitu—untuk menutup ongkos produksi. Daging saja kan Rp100 ribu. Telur berapa, bawang berapa, minyak berapa, semua naik kan.

Masa harga tempe naik sedikit tidak boleh.

Merasa didiskriminasi?
Iya. Coba saja lihat yang lain. Harga naik semua. Tapi tidak ada gejolak.

Makanya, kami minta pengertian dari masyarakat. Kenaikan ini hanya untuk menutup kerugian produsen agar bisa makan dan bisa produksi terus. Hanya itu.

Mereka bukan cari uang, bukan ingin jadi kaya yang berlimpah atau apa. Enggak begitu. Saya tahu anggota saya. Mereka hanya ingin bertahan saat pandemi.

Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifuddin saat sesi foto di kediamannya, kawasan Sawangan, pada Senin pagi (4/1/2021).
Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifuddin saat sesi foto di kediamannya, kawasan Sawangan, pada Senin pagi (4/1/2021). Aminudin Azis / Lokadata.id

Kembali ke pembahasan kedelai lokal. Kalau gizinya lebih bagus meski lebih mahal, kenapa produsen tidak tertarik?
Soalnya bukan itu saja. Tapi kondisi kedelainya juga. Kebanyakan sudah terlalu tua. Kadang masih ada daun, tanah dan batang-batangnya.

Begitu satu karung dibersihkan, maka bisa berkurang sampai lima pesen dari berat aslinya. Sedangkan kalau kedelai impor itu sudah bersih.

Industri pengolahan kedelai kan sudah lama. Kenapa hal detail seperti itu tidak teratasi?
Karena kurang diperhatikan oleh pemerintah. Kan memang kecil-kecil pemainnya. Suaranya juga tidak ada.

Saya pun niatnya ibadah untuk bantu Gakoptindo—karena ketua sebelumnya meninggal. Ketika itu saya masih di Dewan Koperasi Indonesia dan diminta bantu.

Oke. Apakah penyesuaian harga baru tadi akan memengaruhi daya beli masyarakat terhadap tempe?
Saya kira harga baru tempe enggak memengaruhi daya beli. Saya sudah cek di mana-mana. Ciputat, Depok atau Jawa Tengah. Tetap saja pada beli.

Kondisi ini akan berlangsung sampai berapa lama?
Semoga cepat berlalu ya--setelah ada rencana perjanjian dengan kedelai lokal. Ini akan dibicarakan dengan Kementerian Pertanian.

Harusnya sih bisa sehingga masyarakat akan menikmati tempe dan tahu yang lebih bergizi.

"Saya kira, harga baru tempe enggak memengaruhi daya beli masyarakat."

Aip Syarifuddin

Kira-kira produsen tempe tahu bisa menyerap berapa persen dari produksi kedelai lokal?
Berapapun nanti hasilnya, akan kita serap. Saat ini kan kita butuh 3 juta ton per tahun. Sementara impor kedelai itu ada di angka 2,6 juta ton. Sisanya ya kedelai lokal--selama ini.

Dengan adanya perjanjian yang akan dibuat, semoga serapan produsen tempe akan lebih tinggi lagi terhadap kedelai lokal.

Menurut Anda, apa kendala kedelai lokal sehingga tidak bisa berkembang?
Ada tiga: teknologi, bibit, dan pembeli. Itu saja.

Sebenarnya, Indonesia pernah enggak sih swasembada kedelai?
Lho, pernah. Eranya almarhum Bustanil Arifin, mantan Menteri Koperasi dan Kepala Bulog.

Itu terjadi pada tahun 1991 sampai 1993. Kebutuhan kedelai sekitar 2 juta ton bisa dipenuhi oleh kedelai lokal.

Kenapa sekarang enggak bisa?
Silakan tanya pemerintah. Jangan kepada saya.