Lokadata.ID

Aksi net sell pemodal asing berlanjut, investor lokal menguat

Ilustrasi Bursa Efek Indonesia, Jakarta.
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Nova Wahyudi / ANTARA FOTO

Aksi jual bersih oleh pemodal asing terus berlanjut. Sejak 14 hingga 16 September, aliran modal asing yang keluar dari bursa saham mencapai Rp2,43 triliun.

Jika menilik pada Jumat (11/9 ) lalu net sell investor asing tercatat Rp2,26 triliun. Artinya dari Jumat pekan lalu hingga Rabu, 16 September, aliran modal asing yang keluar sudah Rp4,69 triliun.

Sepanjang tahun ini, penjualan yang dilakukan pemodal asing mencapai Rp38,3 triliun seiring dengan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa Efek Indonesia (BEI) Laksono Widodo menilai banyaknya investor asing melepas saham karena kekhawatiran ekonomi memburuk akibat pandemi Covid-19 yang melanda seluruh negara.

“Investor asing balikin uang ke negaranya atau ganti portfolio di luar saham misalnya obligasi,” kata Laksono kepada Lokadata.id, Kamis (17/9/2020).

Direktur PT Anugrah Mega Investama, Hans Kwee, mengatakan kondisi ekonomi di berbagai negara, termasuk Indonesia yang tengah krisis ini, membuat investor asing menarik investasinya dari negara-negara berkembang untuk sementara waktu.

“Penyebab utamanya banyak rencana pemerintah terkait bank sentral yang menyebabkan asumsi bahwa sektor moneter yang selama ini bagus akan diintervensi,” kata Hans kepada Lokadata.id.

Penyebab kedua, menurut Hans, adalah rencana mengubah pengawasan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ke Bank Indonesia. "Perubahan pondasi di tengah krisis akan menguatkan niat pemodal asing untuk keluar yang bisa menyebabkan rupiah melemah dan indeks saham tertekan turun," katanya.

Pekan ini, kata Hans, pasar juga melemah karena pemberlakuan PSBB total kembali di Jakarta. “Biarpun cukup longgar, tapi ketika dicek mal-mal cukup sepi dan bisnis cukup sepi, membuat pemodal asing melihat ada tekanan perekonomian di Indonesia sehingga mereka keluar sementara,” kata dia.

Menurut Hans pemodal asing biasanya merupakan investor jangka panjang di Indonesia. Hanya ketika melihat ada perubahan fundamental,mereka akan keluar dari bursa saham.

"Ketika bank sentral tidak independen, kemudian ada perubahan pengawasan itu pasti mengganggu karena perubahan juga butuh cost yang besar. Apalagi Menteri Keuangan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi bisa negatif di kuartal selanjutnya,” kata Hans. “Jadi ini yang menyebabkan pasar saham dan dana asing bergerak keluar dari pasar kita.”

Jika ditilik, kapitalisasi pasar di BEI tergerus selama sepekan dengan pelemahan IHSG. Berdasarkan data BEI pada periode 7 sampai 11 September lalu, kapitalisasi pasar di BEI turun menjadi Rp5.827,72 triliun dari pekan sebelumnya yang sebesar Rp6.081,39 triliun.

IHSG juga mengalami penurunan menjadi level 5.016 dari posisi akhir pekan sebelumnya 5.239. Koreksi paling dalam terjadi pada Kamis (10/9) setelah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengumumkan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) total kembali, sebagaimana dilansir Bisnis.com (12/9/2020).

IHSG pun anjlok 5,01 persen ke level 4.891 pada akhir perdagangan Kamis itu. BEI sampai melakukan penghentian sementara pada sesi perdagangan I karena IHSG terus turun hingga batas 5 persen.

Namun, IHSG kembali ke level 5.000 pada akhir perdagangan hari berikutnya, Jumat (11/9) menjadi 5.016.

Investor lokal menguat

Di sisi lain, saat ini porsi kepemilikan investor lokal di pasar modal Indonesia mencapai 64 persen sedangkan investor asing 36 persen.

Posisi tersebut tercatat meningkat dibandingkan misalnya per September 2019, di mana porsi kepemilikan investor lokal di pasar modal Indonesia mencapai 49,36 persen, sedangkan investor asing sebesar 50,54 persen.

Kondisi ini juga jauh membaik dibandingkan posisi 2014, ketika porsi kepemilikan investor lokal sebesar 35,5` persen dan asing sebesar 64,49 persen.

“Investor lokal yang meningkat, itu bagus untuk ketahanan pasar modal. Mereka menjadi shockbreaker apabila banyak investor asing keluar,” kata Laksono.

Laksono menambahkan, hal itu menandakan pendalaman pasar yang semakin baik. “Selama lokal masih percaya recovery ekonomi akan terjadi di 2021, mestinya mereka akan tahan investasi mereka di pasar modal,” kata dia.

Hans menilai investor lokal semakin meningkat karena didukung oleh investor baru yang masuk ke pasar. “Ini yang mendorong pasar kita bergerak naik,” ujarnya.

Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 30 Juni 2020, sebagaimana dikutip dari Kontan.co.id (20/7/2020), menunjukkan investor individu dengan usia di bawah 30 tahun merupakan mayoritas dengan mencapai 45,74 persen dengan total aset Rp11,67 triliun.

Investor usia 31-40 tahun mencapai 24,57 persen dengan aset Rp32,58 triliun, serta usia 41-60 tahun mencapai 9,24 persen dengan aset Rp87,24 triliun, dan 60 tahun ke atas mencapai 4,63 persen dengan aset Rp216,26 triliun.