Lokadata.ID

Algoritme Facebook menghambat keberagaman informasi

Adegan dalam film Truman Show (1998) saat Truman mengetahui dunianya palsu.
Adegan dalam film Truman Show (1998) saat Truman mengetahui dunianya palsu. Tangkapan layar Truman Show (1998) / via YouTube

Instant Articles diluncurkan Facebook dengan menggandeng sembilan perusahaan media. Kabar ini diumumkan kemarin, Rabu (13/5/2015) dan sudah bisa dinikmati melalui pengguna aplikasi Facebook versi iOS.

Produk baru Facebook ini masih berfokus pada aplikasi di ponsel. Argumen utama yang diajukan, pembaca lewat ponsel lelah jika harus menunggu 8 detik untuk membuka artikel di laman aslinya. Di sisi lain, Facebook cukup pede dengan statistik yang menunjukkan akses ke situs media didominasi oleh fesbuker.

Lewat terobosan ini, berita yang dibagikan media rekanan Facebook dapat langsung dibaca lewat aplikasi. Tak perlu menunggu lebih dari 8 detik. Cepat, penuh fitur interaktif, mampu menampilkan berbagai format media (foto, video, dsb).

Inilah fitur "mematikan" yang ditawarkan.

Teknologi Instant Articles yang bisa menampilkan artikel di Facebook dengan cepat
Teknologi Instant Articles yang bisa menampilkan artikel di Facebook dengan cepat Facebook

Selain itu --bisa jadi yang terpenting-- media tak perlu khawatir kehilangan pendapatan dari iklan. "Kami berkomitmen untuk bekerja sama dengan pemilik media, agar mereka dapat mengembangkan bisnisnya," kata Justin Osofsky, Wakil Presiden Facebook untuk urusan kerja sama media, kepada The Verge.

Ditanya berapa persen yang mereka dapatkan dari kerja sama bisnis itu, Justin berkukuh dengan jawaban normatifnya.

Dengan fitur-fitur canggihnya, tawaran Facebook pasti menggiurkan media manapun. Lantaran akses lewat ponsel --meski volumenya kian membludak-- hingga saat ini masih jadi isu bisnis karena sulitnya beriklan di layar kecil.

Bagaimana dengan kontrol terhadap akses informasi oleh publik?

Algoritme Facebook untuk News Feed, yang dulu populer dengan istilah Edgerank, sepenuhnya di bawah kendali mereka. Algoritme ini menentukan artikel mana yang layak tayang di kanal kabar berita tersebut.

Ryan Chittum dari Columbia Journalism Review (CJR), memperingatkan perusahaan media agar menolak tawaran Facebook. Menurutnya, media tak boleh menyerahkan penilaian terhadap berita apa yang penting untuk publik, kepada algoritme Facebook.

"Itu sangat berbahaya," ujar mantan reporter Wall Street Journal dan wakil editor bagian bisnis CJR tersebut.

Fitur interaktif dalam Instant Articles
Fitur interaktif dalam Instant Articles Facebook

Chittum menyoroti bagaimana fesbuker tak sadar bahwa algoritme Facebook itu bekerja layaknya penyaring. Sementara, fesbuker adalah pengguna pasif. Meski algoritme itu diklaim selalu dimutakhirkan, pembaca cenderung disodori berita yang "mereka mau", bukan yang "seharusnya "mereka tahu".

Hasil studi Facebook baru-baru ini, mencoba membantah tudingan tersebut. Jurnal MIT menyebut, pengguna lebih berperan dalam menyortir konten daripada algoritme. Lewat contoh kasus konten politik, jejaring pertemanan dan reaksi pengguna terhadap konten disebut lebih menentukan.

Jejaring pertemanan yang terbentuk di Facebook memang sangat tergantung si pengguna. Merekalah yang memilih siapa yang perlu diikuti atau diajak berteman, termasuk konten yang ingin ia beri "Like", sebarkan ulang, atau dikomentari.

Namun sebuah tulisan di Huffington Post membantah klaim tersebut. Zeynep Tufekci, seorang asisten dosen di School of Information and Library Science, Universitas Californa Utara, AS, menyatakan studi Facebook justru menegaskan bahwa algoritme News Feed telah menghalangi keberagaman konten.

Tufekci juga menemukan, fesbuker akan lebih sering melihat berita yang sejalan dengan pandangannya, sedangkan konten tak sepandangan disembunyikan mesin yang menjalankan algoritme. Berita-berita yang "tak relevan" padahal mungkin lebih penting, sulit muncul karena mesin akan menyaringnya.

Tampilan News Feed Facebook terbaru
Tampilan News Feed Facebook terbaru Facebook

Secara agresif algoritme juga akan merekomendasikan konten yang lebih banyak mendapat tanggapan. Sementara konten yang paling mungkin mendapat tanggapan, adalah yang dianggap mesin paling "relevan" dengan profil pengguna.

Facebook tak menjelaskan apakah algoritme mereka juga mengenali akurasi isi, kredibilitas, atau keberagaman konten. Rekomendasi mesin cenderung berdasarkan profil dan perilaku pengguna. Ini menyebabkan apa yang disebut nara blog Erick Gafar dalam tulisannya, fenomena katak dalam tempurung.

Karena itu peringatan Chittum layak didengar. Apa jadinya jika media hanya menuruti kemauan pembaca, dan mengabaikan prinsip keberagaman informasi dalam pemberitaan? Mungkin seperti hidup sebagai Truman Burbank dalam film yang dibintangi aktor Jim Carrey, The Truman Show (1998).

The Truman Show - Trailer