Lokadata.ID

Amblasnya laba triliunan Hutama Karya

Kinerja merah Hutama Karya
Kinerja merah Hutama Karya Bebet / LOKADATA.ID

PT Hutama Karya, badan usaha milik negara (BUMN) di bidang konstruksi masih membukukan laba sekitar Rp2 triliun pada 2019. Namun, setahun kemudian kondisinya berbalik arah: rugi sekitar Rp2,1 triliun. Ada apa?

Penyebab pertama kinerja buruk Hutama Karya adalah penurunan tajam pendapatan sampai 18 persen menjadi Rp21,64 triliun. Selain itu, ada biaya keuangan yang naik tiga kali lipat akibat kenaikan pinjaman jangka pendek.

Biaya keuangan tersebut membuat upaya efisiensi yang dilakukan perusahaan jadi sia-sia belaka. Misalnya, biaya pokok pendapatan (BPP) pada 2020 turun 13 persen dibandingkan tahun sebelumnya menjadi Rp19,78 triliun.

Sebagian besar beban keuangan Hutama Karya merupakan pinjaman yang ditanggung oleh pemerintah. Bunganya pun begitu mahal. Dalam dua tahun buku misalnya, yaitu 2020 dan 2019, total bunga dari utang yang dijamin jaminan pemerintah itu mencapai Rp2,4 triliun.

Di antara jenis utang yang ditanggung pemerintah, misalnya surat utang dalam bentuk global Medium Term Notes (MTN). Surat utang jangka menengah yang diterbitkan pada 11 Mei 2020 itu nilainya mencapai US$600 juta (Rp8,7 triliun) dengan suku bunga 3,75 persen per tahun.

Utang ini, seperti diurai laporan keuangan perusahaan, menawarkan jaminan berupa tagihan atau piutang usaha entitas anak yang berstatus lancar dengan usia penagihan maksimal 90 hari kalender.

Hingga akhir 2020, Hutama Karya memiliki empat anak perusahaan: PT HK Infrastruktur yang untung Rp191 miliar, dan PT Hakaaston rugi Rp78 miliar, HK Realtindo rugi Rp749 miliar dan EPC Energi Singapore Pte. Ltd yang beroperasi di SIngapura.

Selain itu, tentu saja masih banyak perusahaan terafiliasi lainnya. Dari berstatus cucu, kerja sama operasi, serta lainnya. Kini, berbagai tagihan dari anak perusahaan itulah yang menjadi jaminan surat utang jangka menengah.

Hingga akhir 2020, total utang Hutama Karya tercatat Rp50,0 triliun, bertambah 20,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sebagian besar dari utang itu berupa pinjaman bank yang mencapai 57,0 persen.