Lokadata.ID
Andani Putra: Saya tidak suka pencitraan
Andani Eka Putra saat ditemui di Hotel Mercure, Cikini, Jakarta, Ahad malam (26/7/2020). Wisnu Agung/Lokadata.id

Andani Putra: Saya tidak suka pencitraan

Ia menganggap beberapa pihak gagal memahami Covid-19, termasuk dalam pengurusan jenazah, yang dianggapnya berlebihan.

Andani Eka Putra ada di mana-mana akhir-akhir ini. Tiba-tiba di Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Jakarta atau di tempat asalnya: Sumatra Barat. Ia tidak henti diminta beberapa daerah untuk menekan laju penularan Covid-19.

“Daerah-daerah itu mau meningkatkan kemampuan labnya seperti lab saya,” kata Kepala Laboratorium Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas ini.

Pria berusia 47 ini memang sedang dicari-cari dan diperbincangkan. Ia berhasil membuat laboratoriumnya mampu memeriksa hingga tiga ribuan spesimen Covid-19--dari awalnya cuma sekitar 200 sampel—dalam satu hari.

Syahdan, sudah lebih dari empat bulan laboratorium itu berjalan dan jadi kunci Sumatra Barat menekan laju penularan Covid-19. Sampai hari ini, telah ada 60 ribuan tes di laboratoriumnya. Padahal, penduduk Sumbar hanya sekitar 7 juta jiwa.

Positivity rate Sumbar itu di bawah satu persen. Bahkan lab kita malah kekurangan sampel untuk dites,” ujar Andani saat wawancara dengan Heru Triyono dan fotografer Wisnu Agung di Hotel Mercure, Cikini, Jakarta, Ahad malam (26/7/2020).

Pada jam yang ditentukan, sesudah magrib, kami bertemu Andani, yang baru saja mendarat di Jakarta dari Makassar. Ia bicara dengan aksen Minang yang kental, tanpa basa-basi dan merasa bingung kenapa dirinya disorot media. “Saya itu sebenarnya pemalu kalau difoto dan ditanya,” katanya.

Berikut tanya jawab kami:

Andani Eka Putra saat ditemui di Hotel Mercure, Cikini, Jakarta, Ahad malam (26/7/2020).
Andani Eka Putra saat ditemui di Hotel Mercure, Cikini, Jakarta, Ahad malam (26/7/2020). Wisnu Agung / Lokadata.id

Dari Surabaya, Anda diminta Doni Monardo bantu Makassar, yang juga punya problem mengatasi penyebaran Covid-19. Bagaimana situasi di sana?
Di Makassar itu problemnya adalah sampel yang tertahan. Bisa tertahan sampai empat hari. Kalau antri begitu. Bisa jadi masalah besar.

Di lab Universitas Andalas itu, enggak ada antri. Dalam semalam, rata-rata bisa 2700 sampel diselesaikan.

Apakah di Makassar akan dibangun juga lab dengan kapasitas pemeriksaan seperti di Andalas?
Ya paling tidak sama dengan yang di Surabaya juga. Sekitar dua ribu sampai tiga ribu sampel (PCR).

Semua itu kan terkait dengan jumlah pekerja, alat dan manajemen kerja. Itu yang penting. Kalau tidak ada manajemen bagus, berantakan semua.

Butuh berapa banyak pekerja dan alat PCR (Polymerase Chain Reaction) untuk mengejar kapasitas sampai tiga ribu?
Kita lihat saja yang di Sumbar. Kita itu bekerja selama 22 jam di mana 60 pekerja dibagi dalam 3 sif kerja. Kuncinya memang di manajemen.

Apa kendalanya jika sebuah lab tidak punya kapasitas pemeriksaan yang besar?
Ya SDM dan manajemennya yang kurang. Makanya saya mendampingi Makassar dan Surabaya itu selama sebulan.

Bukankah alat dan juga ahlinya itu cukup lengkap di Makassar dan Surabaya?
Alat dan ahli ada, tapi kalau manajemennya ndak bagus bagaimana? Saya ini dan BNPB juga mau ke Kalimantan Selatan untuk meningkatkan kapasitas lab mereka. Berikutnya adalah Sumatra Utara.

Bagaimana ceritanya Anda bergabung dengan BNPB?
Sepertinya karena saya membantu Surabaya. Ketika itu lab kami kekurangan sampel dan membantu Surabaya, kemudian Kalimantan Selatan.

Dari situ banyak pemberitaan tentang saya. Mungkin itu jadi acuan buat mereka (BNPB).

Artinya Anda diajak bergabung ke BNPB?
Iya. Diajak oleh Pak Doni dan kita niat baik saja kan. Padahal istri melarang saya untuk pergi ke zona hitam seperti Surabaya, kemudian Makassar atau Kalsel. Istri saya takut saya ini terinfeksi virus.

Anda diajak BNPB karena merasa lab-lab di Indonesia tidak optimal?
Begini. Pencapaian kita kan baru 25 ribu sampel per hari. Sementara Pak Presiden mengharapkan jumlahnya harus lebih dari itu.

Solusinya adalah merancang lab dengan kapasitas besar hingga tiga ribu sampel.

Jadi, kalau kita punya 10 lab dengan kapasitas seperti itu, maka per hari itu sudah bertambah 30 ribu pemeriksaan.

Ditambah lab-lab kecil maka bisa jadi 50-60 ribu sampel sehari. Amerika itu per minggunya bisa satu juta lho yang di tes (PCR).

Selama ini kendalanya di mana yang membuat lab-lab kita tidak optimal?
Ya kapasitas lab dalam melakukan tes diagnosis. Ini jelas masalah kapasitas.

Lucunya lab kita yang di Padang itu malah kekurangan sampel. Sehingga kami menerima sampel dari berbagai daerah. Bahkan dari Kalimantan itu mencapai 2700 sampel.

Menerima 2700 sampel? Tidak overcapacity?
Itu justru masih undercapacity. Kapasitas lab saya itu mencapai tiga ribu sampel. Yang dari Kalimantan itu bisa selesai dua hari oleh lab saya. Tidak lama.

Kenapa kapasitas tes lab ini tidak digenjot sejak lama, kok baru sekarang?
Saya ndak tahu. Fokus saya kan di Padang saat itu—yang sudah memakai basis diagnosis untuk mengendalikan pandemi ini.

Kami memeriksa banyak sekali OTG untuk memutus mata rantai. Karena tes (PCR) itu jalan nomor satu. Di sana bukan cuma sekadar edukasi tentang virus.

Edukasi enggak pengaruh?
Tetap perlu edukasi. Tapi kita kan sama-sama melihat bahwa itu tidak jalan. Butuh waktu lama untuk mengubah masyarakat kita.

Kan pandemi ini sudah hampir lima bulan. Masa edukasi tidak bisa diserap masyarakat?
Susah dan itu bukan hanya terjadi di Indonesia. Di Eropa dan Amerika kan juga begitu.

Jadi, itu bukan solusi utama. Yang utama adalah tes dan tracing yang harusnya kita tingkatkan.

Ketika tes masif dilakukan, efeknya kan jumlah kasus positif meningkat tajam. Apakah ini memengaruhi psikologis masyarakat?
Pasti lah jumlah kasusnya jadi banyak. Tapi masalahnya apa?

Kan ada yang khawatir jika jumlah kasus terus meningkat, akan berpengaruh terhadap perekonomian…
Nah. Yang penting itu bukan jumlah kasusnya, tapi angka kematian dan positivity rate-nya. Boleh saja jumlah kasus naik, tapi kan positivity rate turun. Jujur-jujuran saja.

Berdasarkan standar WHO batas aman positivity rate adalah 5 persen. Sementara Indonesia itu 12 persen, bagaimana?
Ya justru kalau sudah tahu angka riilnya maka lebih mudah mengendalikannya. Tapi kalau tracing dan tes (PCR) sedikit, ya susah.

Di Sumbar, kami melakukan tes secara masif. Baik itu guru, orang pasar, pegawai hotel, semuanya kita periksa secara gratis.

Tidak bayar?
Enggak. Anda kalau ke Padang ya, tes swab itu gratis di bandara. Saya tidak berniat bisnis dari tes (PCR) itu. Pokoknya saya bilang ke tim saya bahwa semua itu gratis.

Bagaimana jika jumlah sampelnya ribuan, seperti yang lab Anda tangani dari Kalimantan Selatan, gratis juga?
Kalau mau bantu silakan. Untuk makan, tim saya kan juga masih dari donatur. Yang jelas, modal PCR itu Rp600 ribu.

Selama ini donaturnya siapa?
Ada beberapa orang yang tidak bisa saya sebutkan. Saya sendiri menyumbang Rp900 juta.

Alat-alat lengkap?
Cukup lengkap. Kami punya lima perangkat polymerase chain reaction (PCR). Beberapa diberikan perusahaan swasta, pemerintah kota (Padang), pinjam dan punya saya sendiri. Nilainya sekitar Rp4 miliar.

Pekerja laboratorium Universitas Andalas itu berstatus mahasiswa semua?
Kebanyakan iya. Mereka adalah mahasiswa saya. Ada juga relawan mahasiswa master dan doktor. Kalau tidak mau, saya berhentikan dari bimbingan saya. Ha-ha.

Saya bilang ke mereka. Tempat ini bukan ajang cari duit. Tapi mencari ilmu. Syukurnya mereka mengerti, meski pada awal-awal pandemi mereka menangis untuk masuk lab.

Kenapa?
Takut lah. Makanya saya masuk duluan ketika itu untuk kasih contoh kepada mereka bagaimana cara bekerja di lab itu.

Pekerja saya ini ada sekitar 60 orang, dan dalam perjalanannya mereka itu justru jarang sekali ada yang sakit.

Kapan pertama kali lab Anda itu dibuka untuk menerima sampel dahak dengan metode swab?
Saya ingat, yaitu pada 25 Maret 2020, dan hasil pertama yang positif adalah adik kandung saya sendiri.

Dia adalah kasus pertama di Sumbar dan saya yang memeriksa sampelnya.

Andani Eka Putra saat ditemui di Hotel Mercure, Cikini, Jakarta, Ahad malam (26/7/2020).
Andani Eka Putra saat ditemui di Hotel Mercure, Cikini, Jakarta, Ahad malam (26/7/2020). Wisnu Agung / Lokadata.id

Menurut Anda, faktor apa yang buat Sumbar menjelma jadi provinsi dengan positivity rate terendah?
Karena lab kita kuat dan berhasil memutus mata rantai di awal. Dulu, positivity rate Sumbar sekitar 8 persen. Kemudian turun jadi 1,3 persen dan saat ini di bawah 1 persen.

Faktor tracing?
Itu juga. Kuncinya kan komunikasi ya. Nah, lab kita ini punya kekuatan komunikasi yang bagus dengan gubernur, kepala daerah dan semua dinas kesehatan.

Begitu ada yang positif, saya telpon dinkes atau bupatinya untuk dilakukan tes dan tracing. Tiap jam enam pagi hasilnya sudah saya kirim ke gubernur.

Lalu, pada jam 10-nya hasil tes itu sudah sampai ke tiap direktur rumah sakit dan kadinkes di Sumbar. Begitu cepat.

Bagaimana sebenarnya pola tracing yang dilakukan Sumber agar memutus rantai penularan?
Pakai contoh kasus ya. Misalnya di Padang. Itu ada 14-15 kasus.

Nah, tracing-nya itu mencapai 600 orang. Bayangkan. Mantap kan. Tapi di situ butuh kapasitas lab yang besar. Sehingga tidak kerepotan.

Sampel dari 600 orang itu bisa dikumpulkan dalam sehari?
Ya dalam beberapa hari. Step by step dan kita juga terbuka soal data. Kalau orangnya PDP bilang saja PDP.

Jangan PDP dibilang ODP, campur aduk nanti. Malah merusak data. Ya kan?

Tapi kan sekarang sudah berubah istilahnya. Misalnya PDP menjadi kasus suspek atau ODP menjadi kontak erat…
Kalau saya lebih suka istilah PDP, ODP dan OTG karena itu lebih tampak.

Menganggu gak perubahan istilah itu dalam melakukan tracing?
Kita ndak usah komentar itu lah. Kita fokus menyelamatkan saja.

Apakah rapid test bisa menekan positivity rate?
Nah. Ini yang masalah dan yang membuat positivity rate di beberapa daerah tinggi. Padahal WHO tidak pernah merekomendasikan rapid test.

Ya selama ini kan rapid test menjadi tes skrining awal?
Namanya kita gagal paham. Kita gagal memahami Covid-19, termasuk dalam pengurusan jenazah.

Maksudnya?
Protokol jenazah Covid-19 di kita itu bukan standar WHO. Untuk Covid-19 tidak ada saya lihat.

Yang ada adalah standar penanganan jenazah penderita Ebola, yang penularannya lebih bahaya dari Covid-19.

Harusnya ketika peti jenazah sudah masuk liang lahat, keluarga boleh datang, menguburkan dan bisa berdoa di sampingnya.

Tidak akan tertular. Kan sudah dibungkus rapi dan berlapis.

Protokol jenazah Covid-19 Anda anggap berlebihan?
Iya. Mungkin karena orang ketakutan. Begitu takut, maka rasionalismenya hilang. Padahal logikanya, jenazah itu pakai baju berlapis-lapis. Harusnya aman.

Apakah virus itu menular melalui baju, menembus kulit, atau terbang, kan enggak.

Ya kita masih menghadapi masyarakat yang melempari jenazah Covid-19 dengan batu. Bagaimana?
Itu yang harus ditangkap. Tangkap saja. Berikan pemahaman. Memangnya jarak 500 meter dari rumah dan pemakaman bisa menular virusnya?

Mayat ini berlapis lho. Lapis pertama dibungkus plastik, kasih kafan, lalu bungkus lagi pakai plastik dan dimasukkan ke kantong jenazah.

Ada lagi ndak jalan keluarnya? Ndak ada.

Media-media ini harus menyampaikan hal yang benar.

"Saya lebih suka istilah PDP, ODP dan OTG, karena istilah itu lebih tampak."

Andani Eka Putra

Bicara media. Kenapa dulu Anda bercita-cita jadi wartawan?
Ha-ha. Saat mahasiswa saya ini jadi pemimpin redaksi majalah kampus. Saya pun sempat melamar jadi wartawan. Tapi karena pakai ijazah kedokteran, saya ditertawakan.

Suka menulis?
Tentu saja. Dulu itu saya one man show saja di kampus. Cari bahan berita sendiri, tulis sendiri dan edit sendiri. Komputer masih susah ketika itu.

Ya kita pergi ke rental komputer dan selesaikan di sana.

Sering kali saya tidur di lantai, di rental dan di mana pun. Sering.

Enggak cocok lah tampang saya jadi kutu buku. Karena saya ini tipe orang lapangan. Ke mana saja mau.

Bahkan, saya ini berangkat ke Ambon pas masa kerusuhan. Berangkat sendiri meski istri melarang. Saya memang aktif orangnya. Makanya masuk HMI dan LKMI (Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam).

Hobi Anda apa ya?
Saya? Main gaplek di kedai ha-ha. Tapi bukan judi ya. Sampai sekarang saya masih main gaplek di pos ronda dekat rumah. Bahkan dengan Gubernur Sumbar saya juga main gaplek.

Saya senang berada di tengah masyarakat dan saya tidak pernah bermimpi mendapat jabatan apa-apa.

Bermimpi menjadi Menteri Kesehatan?
Oh enggak lah. Saya tidak ada ambisi menjadi menkes dan tidak suka pencitraan.

Cita-cita saya itu cuma satu: bagaimana lab saya berkembang dan bisa melakukan banyak hal untuk bangsa ini.