Lokadata.ID

Antara cuan, keselamatan, dan antusiasme sambut Formula E

Ilustrasi ajang bakal internasional Formula E di Mexico City, Sabtu (15/2/2020).
Ilustrasi ajang bakal internasional Formula E di Mexico City, Sabtu (15/2/2020). Jose Mendez / EPA-EFE

Penyelenggaraan ajang balap mobil listrik internasional Formula E di DKI Jakarta 6 Juni mendatang diprediksi tak mendatangkan cuan langsung. Kemungkinan ini muncul jika kita membandingkan anggaran yang disiapkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dengan estimasi dampak ekonomi penyelenggaraan Formula E.

Demi menggelar ajang internasional tersebut, Pemprov DKI menyiapkan dana Rp1,6 triliun di Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2020. Dikutip dari Bisnis.com, dana itu disiapkan untuk uang komitmen Rp360 miliar, serta penyelenggaraan dan asuransi pebalap Rp934 miliar.

Pemprov DKI juga mengucurkan penyertaan modal daerah (PMD) untuk PT Jakarta Propertindo (Jakpro) sebesar Rp305,2 miliar agar perusahaan daerah ini bisa mempersiapkan ajang Formula E. Kemudian, ada dana untuk sosialisasi dan pre-event sebesar Rp600 juta yang disiapkan.

Total biaya penyelenggaraan balap mobil listrik Formula E di Jakarta sampai Rp1,6 triliun
Total biaya penyelenggaraan balap mobil listrik Formula E di Jakarta sampai Rp1,6 triliun Bagus Triwibowo / Beritagar.id

Dari sisi pendapatan, estimasi yang dikeluarkan hingga kini masih terpisah beberapa versi. Versi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, akan ada dampak ekonomi hingga Rp1,2 triliun dari penyelenggaraan Formula E.

Akan tetapi estimasi lain dimiliki pihak penyelenggara Formula E. Juru bicara Formula E Husain Abdullah menyebut ada sekitar Rp536 miliar dampak ekonomi yang bisa diraih Jakarta pasca menggelar ajang balapan tersebut. Angka itu tak termasuk pendapatan langsung dari penjualan tiket, penyediaan tenda hospitality, serta pemasukan dari sponsor.

“Tetapi jangan lupa bahwa Formula E bukan sekedar adu cepat mobil listrik, tapi bagian dari sebuah pembangunan berkelanjutan yang bersifat strategis atau jangka panjang, khususnya dari sisi keberlanjutan lingkungan hidup,” ujar Husain kepada Lokadata.id, Selasa (18/2/2020).

Pada kesempatan lain, Jakpro menyampaikan estimasi dampak ekonomi langsung dari perhelatan Formula E sebesar Rp600 miliar. Perusahaan daerah ini juga mengklaim penyelenggaraan Formula E selama satu hari dapat mendongkrak Produk Domestik Bruto (PDB) hingga 0,02 persen.

Dari tiga versi di atas bisa dilihat bahwa pemasukan maksimal yang diestimasikan dari penyelenggaraan Formula E 2020 adalah Rp1,2 triliun. Jumlah ini tidak sebanding dengan anggaran penyelenggaraan yang mencapai Rp1,6 triliun, atau lebih besar Rp400 miliar dari estimasi pendapatan tertinggi.

Daya tarik baru

Meski pendapatan langsung dari ajang Formula E diestimasikan kecil, namun penyelenggaraan lomba balap ini dipandang perlu dilakukan bahkan hingga beberapa tahun ke depan.

Husain menyebut, Formula E bisa menjadikan Jakarta pintu demi meningkatkan jumlah wisatawan mancanegara. Tak hanya itu, ajang balap mobil listrik ini juga diprediksi bisa menjadi daya tarik baru bagi Jakarta, pasca daerah ini tak lagi menjadi ibu kota.

“Jakarta harus memiliki daya tarik ekonomi dan jasa sehingga kota berpenduduk besar ini dapat tetap menggeliat perekonomiannya. Agar tetap memiliki daya tarik, maka event-event bergengsi seperti Formula E harus selalu digelar,” tuturnya.

Husain juga menekankan perlunya ajang berskala internasional sering digelar Indonesia. Alasannya, keberadaan ajang-ajang seperti ini dipercaya bisa membuat dunia internasional percaya kemampuan Indonesia menyelenggarakan acara berskala internasional.

Menurut Peneliti Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto, dampak ekonomi langsung maksimal dari Formula E senilai Rp1,2 triliun tidak bisa dikatakan besar. Dia juga menyebut pemasukan riil ajang balap itu akan sangat tergantung dari promosi, harga tiket dan jumlah penonton, serta penjualan souvenir.

Eko berpendapat, seharusnya seluruh pihak terkait tak hanya sibuk memikirkan persiapan penyelenggaraan Formula E atau promosi ajang ini. Akan tetapi, mereka harus mendorong kehadiran dampak langsung serta keterlibatan aktif para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

“Tapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana kemudian aspek keamanan dan kesehatan harus disosialisasikan,” kata Eko.

Jangan remehkan persoalan keselamatan

Faktor keselamatan serta keamanan juga menjadi perhatian Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagio. Menurutnya, pihak penyelenggara seharusnya sudah memastikan tata letak tribun penonton dan hal-hal teknis terkait Formula E.

“Saya tidak pusing soal itu menguntungkan atau tidak. Itu risiko bisnis. Tapi persoalan keamanannya, panggungnya, bagaimana jika terjadi kecelakaan, rumah sakitnya di mana, belum lagi hujan menjadi penghambat pembangunan lintasan, kan harus dihitung itu,” kata Agus kepada Lokadata, Rabu (19/2/2020).

Berdasarkan pantauan lokadata, saat ini belum ada sama sekali aktivitas pembangunan sarana prasarana Formula E di kawasan Monumen Nasional (Monas). Padahal, rencananya ajang balapan internasional yang tersertifikasi asosiasi otomotif internasional FIA (Fédération Internationale de l'Automobile) ini akan diselenggarakan di sebagian kawasan Monas.

Aspal dan susunan batu yang terhampar di kawasan Monas juga belum diganti. Padahal, penyelenggaraan Formula E di Jakarta sudah kurang dari 4 bulan lagi.

Suasana kawasan Monumen Nasional, Jakarta Pusat,  4 bulan kurang sebelum penyelenggaraan Formula E di DKI Jakarta, Jumat (21/2/2020)
Suasana kawasan Monumen Nasional, Jakarta Pusat, 4 bulan kurang sebelum penyelenggaraan Formula E di DKI Jakarta, Jumat (21/2/2020) Indra Purnomo / Lokadata.id

Direktur Utama Jakpro Dwi Wahyu Daryoto sempat menyebut pengaspalan sirkuit Formula E akan memakan waktu kurang lebih sebulan. Dia menjanjikan proses ini dimulai Maret 2020.

Menurut Pengamat Otomotif Arief Kurniawan, penyelenggara memiliki waktu yang cukup untuk membangun sirkuit sebelum 6 Juni 2020. Dia juga menyebut aspek keselamatan dan keamanan penonton serta pebalap pasti sudah diperhitungkan pihak penyelenggara.

“Kalau dari sisi sirkuit ini akan dihomologasi. Dari awal pengerjaan itu semua dipantau oleh FIA Formula E. FIA itu tidak sembarangan memberikan sertifikat, semua standar keselamatan diperhatikan,” ujar Arief kepada lokadata.

Ada total 6 tingkat kualitas dan jenis sirkuit yang dibagi oleh FIA. Arief memprediksi Sirkuit Monas akan masuk dalam FIA Grade 3.

Antusiasme masyarakat

Meski promosinya belum banyak dilakukan, namun rencana penyelenggaraan Formula E sudah banyak diketahui warga Jakarta. Beberapa diantaranya bahkan sudah berencana datang menyaksikan Formula E 2020.

Salah satu warga yang berniat menyaksikan langsung ajang balapan ini adalah Deva Ray. Warga Kelurahan Kebon Sirih Barat, Jakarta Pusat ini mengaku sudah mengetahui ajang Formula E dari banyaknya pemberitaan di media massa.

“Pasti akan menjadi tontonan yang asik. Menurut saya ini juga kesempatan untuk menunjukkan budaya Indonesia dari segi bahasa,” kata wanita berusia 22 tahun ini kepada Lokadata.

Pada kesempatan berbeda, warga ibu kota lain bernama Sutikno mengaku tahu dan mendukung penyelenggaraan Formula E. Akan tetapi, pegawai swasta ini mengaku tidak bisa memastikan apakah akan menonton langsung ajang tersebut.

“Jarang loh ada ajang seperti ini, kapan lagi. Walaupun saya belum tentu nonton, tapi saya tetap mendukung,” kata Sutikno.