Lokadata.ID
Arist Merdeka: Tidak seketika berkata anjay itu pidana
Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait saat sesi foto di kantor Komnas PA, kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Jumat siang (11/9/2020). Wisnu Agung/Lokadata.id

Arist Merdeka: Tidak seketika berkata anjay itu pidana

Ia mengaku menerima kritik yang datang dan mencoba menjelaskan tentang kekerasan verbal di balik kata anjay.

Merangkum 20-an tahun di dunia aktivisme anak, Arist Merdeka Sirait mungkin sudah seperti ikon, tergantung dari sisi mana Anda melihat. Lima tahun lalu ia dianggap dewa karena membongkar kematian Angeline (8), tapi kini dicaci maki karena surat edaran yang melarang penggunaan kata anjay.

“Saya sih sudah biasa dicaci dan diteror. Bahkan kantor Komnas PA pernah dibakar,” ujar Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) ini.

Larangan kata anjay memang memicu kontroversi di masyarakat. Banyak yang sepakat dengan Komnas PA, tapi banyak juga yang mengkritik. Beberapa kritik itu dinyatakan lewat video satire atau tulisan di media sosial.

Syahdan, semua polemik ini bermula dari YouTuber kurang terkenal bernama Lutfi Agizal. Ia membahas kata anjay di saluran YouTube-nya kemudian mengadukannya kepada Komnas PA dan KPAI.

“Lutfi itu bukan mengadu, tapi konsultasi. Dan surat edaran itu juga bukan perintah dia,” kata Arist saat wawancara dengan Heru Triyono dan fotografer Wisnu Agung di kantor Komnas PA, kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Jumat siang (11/9/2020).

Selama satu jam, dibungkus kemeja merah yang serasi dengan maskernya, ia bicara bagaimana menghadapi gencarnya serangan kritik hingga kasus kekerasan seks terhadap anak selama pandemi. Berikut kutipannya:

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait saat sesi foto di kantor Komnas PA, kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Jumat siang (11/9/2020).
Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait saat sesi foto di kantor Komnas PA, kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Jumat siang (11/9/2020). Wisnu Agung / Lokadata.id

Bagaimana ceritanya laporan Lutfi Agizal soal kata anjay akhirnya direspons Komnas PA dengan surat edaran?
Lutfi itu bukan mengadu. Dia konsultasi sama Komnas PA atas apa yang menjadi kegelisahannya. Lalu, ada respons yang beragam dari publik.

Dia mendorong agar kata anjay ini dilarang oleh Komnas PA?
Bukan. Awalnya saya malah enggak ngerti apa itu anjay. Saya tahunya anjrit dan sebagainya lah. Tapi bukan kata anjay.

Dan rupanya kata ini viral. Instagram dan Facebook Komnas PA ramai dipenuhi komentar orang soal ini. Ada seribuan yang bertanya soal anjay.

Setelah mempelajari, saya menemukan istilah anjay ini ternyata terjemahan dari kata anjing. Bukan kata baku bahasa Indonesia, yang maknanya itu merendahkan martabat.

Sebenarnya sih bukan terjemahan, tapi eufemisme atau penghalusan…
Ya oke penghalusan. Tapi kan semua tahu itu bahasa gaul yang berasal dari kata anjing. Enggak bisa dibantah.

Jadi, itu tidak bisa digunakan, karena menyamakan manusia dengan anjing.

Dari situ saya kaget dan akhirnya menerbitkan surat edaran itu.

Artinya Anda gak tahu kata anjay itu sebelumnya?
Enggak tahu. Hanya tahu istilah kayak anjir atau anjrit yang enggak jauh juga dari kata anjing.

Apakah sebelum menerbitkan surat edaran itu Anda berkonsultasi dengan ahli bahasa?
Enggak. Itu adalah spontanitas dan Komnas PA merasa harus meluruskan pro dan kontra tersebut.

Tapi apa urgensinya Komnas PA menerbitkan surat edaran yang isinya membahas masalah bahasa?
Saya takut kita membenarkan istilah anjay tersebut. Itu kan dari kata anjing yang merendahkan martabat manusia. Kata itu juga tidak masuk dalam KBBI.

Kalau bicara KBBI, alat kelamin juga ada. Apakah karena sudah masuk KBBI sebuah kata jadi boleh digunakan?
Kuncinya yang saya katakan tadi. Kata binatang yang merendahkan martabat manusia. Itu enggak bisa saya terima.

Akhiran ay seperti tokay, lebay, jijay kan sudah lama. Semua kata-kata itu juga akan dipersoalkan Komnas PA?
Ya bagaimana. Kenapa enggak pakai kata mantap atau keren.

Bagaimana jika yang memakai kata anjay tadi memaknainya sebagai kekaguman dan tidak bermaksud merendahkan?
Tetap enggak bisa dibenarkan. Itulah fungsi Komnas PA. Meluruskan bahasa supaya anak-anak menggunakan bahasa yang santun.

Ya kalau anjay maknanya adalah pujian masa gak boleh?
Bagi Komnas PA tetap enggak bisa. Kecuali kata itu tidak berasal dari binatang.

Apakah Komnas PA menerima ketika ada orang yang punya pandangan berbeda tentang anjay?
Oh tentu. Itu kan hak berpendapat. Kalau pendapat saya kan didasari undang-undang perlindungan anak. Bukan perintahnya Lutfi lho.

Apapun, jika muncul kata-kata yang merendahkan, itu adalah bentuk kekerasan yang dapat dipidanakan.

Anda tidak merasa berlebihan menyebut kata anjay itu berpotensi pidana?
Enggak. Karena, mau bahasa gaul atau bahasa apa kek, kalau itu merendahkan, ya kami tidak terima.

Boleh dong? Kan Komnas PA sebagai lembaga yang harus melindungi anak.

Tapi banyak pihak, termasuk anggota dewan, yang menganggap Komnas PA itu lebay…
Justru Komnas PA ingin melindungi anak-anak, bukan memidanakan anak-anak.

Makanya mereka harus kita ajari bahasa yang santun.

Apakah menyebutkan kata anjay itu berkaitan dengan kesantunan?
Sekali lagi, kuncinya itu soal merendahkan. Jangan dibentur-benturkan. Tentu saja saya akan bicara dari perspektif perlindungan anak. Bukan hanya dari perspektif hukum saja.

Kan Komnas PA sendiri yang menyebut bahwa kata anjay berpotensi pidana…
Ya tidak seketika ada orang menggunakan kata anjay maka langsung pidana. Hancur lah kita kalau begitu. Enggak begitu.

Tapi Komnas PA kayak kurang kerjaan sampai mengatur-atur pemakaian kata anjay. Kenapa tidak urus anak jalanan yang terlantar. Begitu kan kritik yang datang?
Siapa yang tahu apa yang sudah kita kerjakan sejak 1998. Kan enggak saya umumkan juga. Saya itu sering datangi korban perkosaan di desa-desa.

Apakah ada media di situ? Kan enggak mungkin saya umumkan pekerjaan saya apa saja. Lebay itu namanya.

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait saat sesi foto di kantor Komnas PA, kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Jumat siang (11/9/2020).
Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait saat sesi foto di kantor Komnas PA, kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Jumat siang (11/9/2020). Wisnu Agung / Lokadata.id

Sebenarnya, selain kata anjay, banyak sekali kata lain yang berkonotasi tidak baik. Jancuk misalnya, yang penyebutannya jadi hal biasa di Jawa Timur. Bagaimana?
Apakah kata itu merendahkan martabat dan Anda merasa dirugikan? Kalau enggak dirugikan ya tidak jadi soal.

Ini kan bicara konsekuensi penggunaan istilah. Kalau ada yang merasa direndahkan, maka unsur pidananya terpenuhi--karena itu masuk kekerasan verbal.

Ukuran direndahkan ini kayak kurang jelas...
Ya anak itu bisa saja kan sakit hati, stres dan macam-macam karena kata itu.

Memangnya sudah ada yang mengadu ke Komnas PA?
Belum ada.

Oke. Respons negatif dari publik seperti ini sudah Anda perkirakan?
Saya sudah enggak kaget. Ada konsekuensi dalam mengurusi anak-anak. Kantor ini pun pernah dibakar dua kali.

Jadi, kalau sekarang muncul ratusan ribu orang di medsos bilang Komnas PA kurang kerjaan, ya kita terima itu sebagai hak berpendapat mereka.

Tapi, hargai kami juga untuk berpendapat, dan tolong kritik kami dengan bahasa yang santun.

Komnas PA merasa mendapat kekerasan verbal karena kata anjay ini?
Saya akhirnya ya sudahlah. Itu pendapat mereka. Saya tidak mau melukai hati orang lain. Komnas PA hadir sejak 1998 bukan dibuat untuk menyakiti anak-anak, tapi melindungi.

Bukannya memperkarakan hal kecil seperti anjay ini justru membuat anak kehilangan kreativitasnya dalam berbahasa?
Saya itu memahami anak-anak. Memang, di usia 12 sampai 14 tahun mereka punya energi sosial yang besar.

Saya ini kan pernah remaja. Nakal juga. Tapi saya tidak pernah memakai kata-kata seperti itu kepada teman.

Tapi, makin dilarang, justru makin banyak yang pakai kata anjay itu dan Komnas PA turut membuat kata itu makin populer. Bagaimana?
Saya ini tidak hendak melarang orang berekspresi. Enggak sama sekali.

Namun, sebagai orang tua, ya harus menjelaskan makna kata anjay tersebut kepada anak—meski itu adalah bahasa gaul dan populer.

Soalnya publik bingung karena kata ini kan multitafsir. Ketika surat edaran muncul, itu seperti jadi satu tafsir saja. Yaitu anjay yang ditafsirkan sebagai kekerasan verbal dan berpotensi pidana…
Ya ini kan tanggung jawab orang dewasa. Jangan kita benarkan hanya karena anjay itu bahasa gaul. Kalau unsur pidananya terpenuhi dan terbukti merendahkan, ya enggak ada kasih ampun.

Ya belum ada kan pengaduan anak yang merasa direndahkan karena kata anjay?
Ya enggak ada. Kami enggak berharap pengaduan itu ada. Jangan sampai.

“Kasus yang dominan selama pandemi adalah kekerasan seksual  terhadap anak.”

Arist Merdeka Sirait

Lebih jauh, menurut seorang ahli bahasa, semua kata itu kan berpotensi jadi negatif, tidak cuma anjay. Kata pintar pun bisa untuk mengejek orang…
Dia itu gagal paham terhadap lembaga ini. Komnas PA kan bukan lembaga bahasa.

Dia malah mengomentari siaran pers yang kita buat. Dari masalah koma hingga pemakaian kata saya. Padahal bukan itu substansinya.

Tapi redaksionalnya memang harus diperbaiki kan?
Iya betul. Tapi kan yang dia kritik harusnya bukan itu. Kita kan bukan media yang ada editornya. Saya kecewa dengan pernyataan itu.

Ada juga yang bilang Komnas PA bukan lembaga negara, yang resmi adalah KPAI, jadi surat edarannya gak berlaku...
Kok itu yang dipersoalkan. Kita itu bicara apa yang dikerjakan, bukan lembaga.

Ada juga yang bilang saya ini pisah dengan Seto Mulyadi karena rebutan proyek. Itu menyakitkan.

Kami ini independen dan dapat dukungan Kementerian Sosial. Kita tidak cari proyek.

Jadi, hubungan Komnas PA dan KPAI itu sebenarnya seperti apa?
Nah. Publik harus tahu. KPAI itu didirikan oleh Komnas PA dulunya. Tapi karena proses politik, ya akhirnya KPAI yang muncul sebagai lembaga resmi.

Lalu kenapa Komnas PA pisah dengan Seto Mulyadi?
Oh dia sudah dua periode di sini. Jadi enggak bisa lanjut lagi dan dia kan mendirikan Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI).

Anda bukannya sudah dua periode juga menjabat Ketua Komnas PA?
Saya tahun ini habis. Akhir November nanti. Kan enggak boleh tiga kali, kecuali ada penunjukkan khusus.

Oke. Bagaimana nasib anak-anak Indonesia di tengah pandemi?
Menurut saya ada salah pendataan ya, termasuk Jakarta. Mereka menghitung usia 0-19 tahun itu sebagai anak. Padahal definisi anak itu di bawah 18 tahun.

Dari data sementara, ada 4 ribuan anak di Jakarta yang positif Covid-19. Sedang saya cek ada yang meninggal atau tidak.

Ada peningkatan angka kekerasan terhadap anak belakangan ini?
Pandemi ini ternyata bukan mendekatkan anak kepada orang tua ya. Malah sebaliknya, angka kekerasan justru makin tinggi.

Ini berkolerasi dengan frustasinya orang dewasa terhadap situasi saat ini.

Ada orang tua korban PHK, stres, dan anaknya jadi pelampiasan. Sekolah online juga ternyata tidak membawa kebaikan kepada anak.

Berapa jumlahnya?
Dari Maret hingga Juni 2020 itu sudah 2700 laporan kekerasan. Naik 28 persen di rentang waktu yang sama pada tahun lalu.

Mana yang dominan, kasus kekerasan verbal atau fisik saat pandemi?
Kasus yang dominan selama pandemi justru kekerasan seksual terhadap anak. Dari jumlah tadi, 53 persen itu kekerasan seksual.

Artinya, asumsi anak lebih terjaga karena hadirnya orang tua di rumah, telah terbantahkan.