Lokadata.ID

Atasi korona, Tiongkok bangun RS dalam 6 hari

Suasana jalan setelah pemerintah Wuhan mengumumkan untuk melarang kendaraan tidak penting di daerah pusat kota untuk membatasi penularan virus corona baru, pada hari kedua Tahun Baru Imlek, di Wuhan, provinsi Hubei, China, Minggu (26/1/2020). ANTARA FOTO/cnsphoto via REUTERS/nz/cfo
Suasana jalan setelah pemerintah Wuhan mengumumkan untuk melarang kendaraan tidak penting di daerah pusat kota untuk membatasi penularan virus corona baru, pada hari kedua Tahun Baru Imlek, di Wuhan, provinsi Hubei, China, Minggu (26/1/2020). ANTARA FOTO/cnsphoto via REUTERS/nz/cfo CNS Photo / Reuters (via Antara Foto)

Saat ini Tiongkok sedang berjibaku membangun rumah sakit darurat dalam waktu enam hari saja. Rumah sakit ini dibuat guna memfasilitasi para korban virus korona (2019-nCoV) yang jumlahnya kian meningkat.

Pada Jumat (24/1), pemerintah kota Wuhan mengkonfirmasi pembangunan rumah sakit dengan 1.300 tempat tidur. Tak lama setelahnya, beredar rekaman dari siaran langsung (live streaming) media pemerintah terkait proyek yang tengah dikerjakan.

Dalam video tersebut, terlihat lusinan penggali mekanis sedang menyiapkan lahan yang disebut memiliki luas 25.000 meter persegi. Menurut laporan, kemungkinan besar rumah sakit hanya akan digunakan untuk merawat pasien yang terjangkit virus korona, dan akan bertindak sebagai pusat karantina bagi yang menderita.

"Tiongkok memiliki prestasi dalam mengerjakan sesuatu dengan cepat, bahkan untuk proyek monumental seperti ini," jelas Yanzhong Huang, salah-satu pejabat yang bertanggung jawab untuk kesehatan global di Dewan Hubungan Luar Negeri, kepada BBC, Sabtu (25/1).

Rumah sakit dibangun dengan cepat dan meniru gaya serupa ketika Beijing membangun rumah sakit dalam tujuh hari untuk mengatasi lonjakan pasien SARS pada 2003. Pembangunannya menggunakan bahan-bahan yang sudah jadi (prefabricated). Mereka juga dengan sigap mengatasi segala masalah birokrasi, sumber daya manusia, dan pendanaan.

"Ini sebenarnya adalah rumah sakit untuk karantina bagi warga yang terpapar penyakit menular sehingga memiliki alat keselamatan dan perlindungan," kata Joan Kaufman, dosen kesehatan global dan kedokteran sosial di Harvard Medical School.

Kantor berita Tiongkok Xinhua (h/t ABC) mengatakan fasilitas baru itu bertujuan untuk mengatasi kekurangan sumber daya perawatan medis dan meningkatkan kemampuan merawat pasien. Apalagi kini apotek-apotek di kota tersebut mulai kehabisan obat-obatan.

Adapun pembangunan dilakukan di dua lokasi. Pertama adalah Rumah Sakit Huoshenshan Wuhan, yang akan dibuka 3 Februari, dan Rumah Sakit Leishenshan, yang akan dibuka pada 5 Februari.

RS darurat di bangunan kosong

Tak hanya membangun rumah sakit dari awal. Pemerintah Tiongkok juga dengan cepat menyulap bangunan kosong menjadi rumah sakit darurat dengan daya tampung 1.000 tempat tidur.

Rumah sakit yang terletak di Huanggang, kota yang dekat dengan Wuhan ini tadinya disiapkan sebagai cabang baru Rumah Sakit Pusat Huanggang dan diharapkan akan dibuka pada bulan Mei. Karenanya, fasilitas di dalamnya sudah cukup memadai sebagai rumah sakit. Hanya saja setiap ruangan masing kosong.

Pembangunannya dimulai pada sabtu (25/1) dan dilaksanakan seefisien mungkin. Tiongkok mengerahkan perusahaan konstruksi, perusahaan utilitas dan petugas polisi paramiliter dari seluruh negeri untuk memastikan proses berlangsung dengan sangat cepat. Sebanyak 500 pekerja dan lusinan alat berat dikerahkan agar fasilitas tersebut dapat digunakan secepatnya. Seluruh proses persiapan pun akhirnya rampung dalam tempo 48 jam saja.

Pada Senin (27/1), semua tempat tidur telah disiapkan oleh sukarelawan. Demikian pula dengan air, listrik, dan internet juga telah dipasang. Petugas medis sudah mulai didatangkan dan diminta untuk membiasakan diri dengan segala fasilitas yang ada sebelum para korban didatangkan.

Baru pada pukul 22.30 waktu setempat, kelompok pertama pasien korona telah dipindahkan ke rumah sakit yang sekarang bernama Pusat Medis Regional Gunung Dabie itu.

Jumlah pasien terus bertambah

Dibangunnya beberapa fasilitas kesehatan secepat kilat adalah salah satu upaya pemerintah Tiongkok dalam mengatasi kasus wabah virus korona. Komisi Kesehatan Nasional China (NHC) mengkonfirmasi virus korona Wuhan telah mencapai 5.974 kasus dengan jumlah kematian sebanyak 132 hingga Rabu (29/1) di daratan Tiongkok.

Angka itu tidak termasuk jumlah korban di Hong Kong dan Makau, yang keduanya telah melaporkan sejumlah kecil kasus. Ditambah lagi beberapa negara lain di luar Tiongkok yang mulai melaporkan adanya pasien terjangkit virus tersebut, termasuk Amerika Serikat, Australia, Prancis, dan Jerman.