Lokadata.ID

Banjir di tengah pandemi: Dunia usaha seperti jatuh tertimpa tangga

Warga mengambil air dari tempat makan yang terdampak banjir di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Minggu (21/2/2021). Banjir yang melanda permukiman warga di kawasan tersebut sudah berangsur surut dan warga mulai membersihkan lumpur sisa banjir.
Warga mengambil air dari tempat makan yang terdampak banjir di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Minggu (21/2/2021). Banjir yang melanda permukiman warga di kawasan tersebut sudah berangsur surut dan warga mulai membersihkan lumpur sisa banjir. Sigid Kurniawan / ANTARA FOTO

Banjir yang melanda berbagai wilayah di DKI Jakarta dan sekitarnya, sejak Kamis (18/2/2021) hingga Senin (22/2), telah memukul pelbagai sektor usaha, yang sebelumnya sudah terpuruk akibat pandemi.

Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta, Sarman Simanjorang menyatakan banjir telah menimbulkan kerugian materi maupun non materi. Momentum akhir pekan yang biasanya bisa dimanfaatkan untuk menggenjot penjualan, hilang seiring dengan datangnya banjir.

“Bagi pelaku usaha, banjir di tengah pandemi ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga pula, sudah berat semakin berat menghadapi tantangan ini,” kata Sarman kepada Lokadata.id, Selasa (23/2).

Usaha yang paling terdampak banjir, menurut Sarman, terutama yang bergerak di sektor perdagangan seperti pusat perbelanjaan, mall, restoran, dan pasar tradisional. Selain itu juga: hotel, logistik, dan transportasi.

Sarman memberi contoh, pada Sabtu (20/2), ketika intensitas hujan di Jakarta sedang tinggi, jumlah pengunjung mal di Jakarta Selatan terpangkas menjadi hanya 30-40 persen saja. "Banyak yang khawatir terjebak banjir, sehingga lebih memilih tinggal di rumah ketimbang bepergian," katanya.

Sarman mengaku tak dapat memastikan angka kerugian akibat banjir beberapa hari terakhir karena berbagai usaha seperti restoran, pertokoan, dan tempat rekreasi juga sudah tutup akibat pandemi korona.

Tapi Sarman menduga, kerugian dari banjir tahun ini tak seburuk tahun lalu yang diperkirakan mencapai Rp1 triliun. Banjir kali ini, kata Sarman, tak separah tahun lalu, hanya saja ada beberapa lokasi banjir baru yang sebelumnya tak pernah terkena banjir.

"Dari sisi angka kami yakin kerugian tahun ini tidak sebesar tahun lalu. Masih di angka ratusan miliar," terangnya.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Roy N. Mandey mengatakan, meskipun bencana banjir hanya terjadi 3-4 kali dalam setahun, dampak kerugian yang timbul setelahnya tidak bisa dianggap remeh.

Berdasarkan catatan Aprindo, sejak Kamis lalu setidaknya terdapat sekitar 200 gerai ritel modern stand alone yang terganggu kegiatan operasionalnya lantaran terkena banjir atau setidaknya terganggu aksesnya akibat jalanan sekitar yang tergenang banjir.

Akibatnya, Aprindo memperkirakan dampak kerugian akibat banjir tersebut mencapai Rp15 miliar. Kerugian dihitung dengan dua pendekatan, yakni potensi transaksi yang hilang akibat banjir sebesar Rp12 miliar dan kerugian atas kerusakan barang di toko ataupun pusat distribusi sebesar Rp3 miliar.

“Angka ini belum termasuk angka kerugian yang dialami peritel non anggota Aprindo, juga belum termasuk potensi kerugian untuk peritel yang ada di mall,” katanya.

Roy mengatakan, sejak Sabtu (20/2/2021), air sudah berangsur surut dan sebagian ritel sudah mulai beroperasi kembali. Dia memperkirakan sebanyak 25-30 persen atau sekitar 50-60 toko ritel di Jakarta yang masih masih terkena dampak banjir hingga Senin kemarin.

Gerai-gerai yang sudah beroperasi ini merupakan gerai-gerai yang aksesnya sempat terganggu oleh banjir, namun tokonya tidak sampai digenangi oleh air banjir tersebut. Sementara sisanya ada yang masih kebanjiran, atau masih dalam proses overhaul untuk membersihkan sisa banjir dan mengganti barang serta peralatan yang rusak.

“Proses ini bisa memakan waktu 2-3 hari atau bahkan seminggu, tergantung seberapa parah kerusakan yang dialami akibat banjir,” ujarnya.

Dilansir dari Liputan6, Ketua Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Zaldy Ilham Masita mengatakan, banjir yang terjadi kemarin telah menyebabkan arus pengiriman barang turun hingga 60 persen di wilayah Jabodetabek.

Akibat penurunan operasional pengiriman barang ini, kata Zaldy, selama periode banjir tersebut pendapatan badan usaha logistik juga ikut terpangkas. Adapun, pengiriman barang yang paling terdampak banjir menurut Zaldy merupakan pengiriman barang untuk e-commerce dan pengiriman ke toko-toko retail.

Hanya saja, dia belum dapat memperkirakan jumlah kerugian yang ditanggung akibat bencana alam ini. “Kalau untuk Jabodetabek turun sampai 60 persen karena banjirnya cukup merata dan akses tol juga kena banjir. Besar kerugiannya masih kami hitung," kata Zaldy.

Sarman berharap, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dapat melakukan berbagai langkah pencegahan banjir sejak dini, seperti pelaksanaan revitalisasi sungai dan memperbaiki sistem drainase. Selain itu, koordinasi terkait mitigasi banjir menurutnya juga perlu dilakukan dengan pemerintah daerah penyangga Ibu Kota.

“Pelaku usaha sangat berharap agar masalah banjir ini dapat semakin dikendalikan sehingga tidak mengganggu berbagai aktivitas perekonomian dan masyarakat,” ucapnya.

Sembari menunggu langkah konkret pemerintah mengatasi persoalan banjir, Aprindo juga berencana mengambil sejumlah langkah mitigasi untuk meminimalisasi risiko kerugian dari banjir-banjir susulan ke depan. Salah satunya dengan cara tidak membuka gerai di daerah-daerah yang dinilai memiliki drainase buruk serta memiliki risiko banjir yang tinggi.

Klaim asuransi diperkirakan meningkat

Selain berdampak terhadap sektor usaha, peristiwa banjir kemarin juga telah mengakibatkan kerusakan properti maupun kendaraan bermotor.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe mengatakan, setiap musim hujan tiba, perusahaan asuransi umum bersiap memproses pengajuan klaim banjir dari para pemegang polis. Namun, klaim hanya bisa dilakukan bagi polis asuransi kendaraan bermotor dan properti yang memiliki perluasan risiko banjir.

Saat ini, kata Dody, pihaknya masih mengumpulkan data dari perusahaan-perusahaan penerbit polis dikarenakan proses klaim akibat banjir kemarin masih berlangsung. “Untuk kejadian banjir di minggu ini, prosesnya masih baru pelaporan dari tertanggung ke penanggung. Sehingga kami belum memiliki data banyaknya kejadian dan nilai klaim asuransi,” katanya.

Dia memperkirakan, tahun ini klaim asuransi properti akan lebih besar ketimbang klaim asuransi kendaraan. Lokasi banjir kebanyakan di kawasan industri seperti Jababeka, Tangerang, Karawang, dan Banten. “Pada umumnya pengusaha mengasuransikan properti dan kendaraan. Sehingga bisa jadi kerugian akibat banjir akan cukup besar.”

Karena itu, AAUI menilai saat ini saat yang tepat bagi perusahaan asuransi kerugian kembali mengedukasi soal perluasan risiko banjir karena banjir tidak terjadi kali ini saja. "Sebaiknya, jika di wilayah pabrik atau area operasinya memiliki potensi banjir, pengusaha perlu memperluas polis dengan risiko banjir."