Lokadata.ID

Baru mulai bangkit, Boeing tersengat kecelakaan Sriwijaya

Pesawat Boeing 737-Max diparkir di dekat pabrik Boeing di Seatle, AS, pada 18 November 2020
Pesawat Boeing 737-Max diparkir di dekat pabrik Boeing di Seatle, AS, pada 18 November 2020 Stephen Brashear / EPA-EFE

Begitu pesawat Boeing 737-500 milik Sriwijaya Air jatuh di Kepulauan Seribu, Sabtu pekan lalu, harga saham Boeing di bursa New York, ikut tergelincir.

Saham pabrikan pesawat terbesar di Amerika Serikat ini melorot karena investor gugup: sebuah kecelakaan penerbangan, lagi-lagi melibatkan pesawat jet dari keluarga 737 -- salah satu tipe pesawat komersial paling laris di dunia, saat ini.

Dikutip Barrons, data perdagangan di bursa efek New York menunjukkan, harga saham Boeing langsung terpeleset menjadi hanya AS$203,03, begitu pasar dibuka pada Senin, 11 Januari, waktu setempat.

Posisi ini turun 3,3 persen dari harga saham Boeing pada perdagangan hari Jumat, 8 Januari (sebelum kecelakaan), yang ditutup pada AS$209,90.

Selama setahun terakhir, harga saham Boeing telah turun sekitar 38 persen. Sebagai perbandingan, dalam periode yang sama, indeks S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average masing-masing turun hanya 0,7 dan 0,4 persen.

Seperti diberitakan, pesawat Sriwijaya Air dengan nomor registrasi PK-CLC, jatuh tak lama setelah lepas landas dari Jakarta menuju Pontianak. Menurut catatan Aviation Flight Safety Network, sebuah badan yang melacak kecelakaan penerbangan, jet yang jatuh itu merupakan tipe Boeing 737-500, yang sudah terbang sejak 1994.

Atas kecelakaan tersebut, Boeing menyampaikan keprihatinan melalui akun twitter @boeingairplanes. “Kami mengetahui laporan media dari Jakarta mengenai penerbangan Sriwijaya Air SJ182. Pikiran kami bersama para kru, penumpang, dan keluarga mereka. Kami menghubungi pelanggan maskapai kami, dan siap mendukung mereka selama masa sulit ini.”

Boeing 737-500 (kerap disebut B735), merupakan generasi kedua dari empat generasi yang ada dalam keluarga Boeing 737. B735 diproduksi sebelum seri next generation (generasi ketiga, mulai dari B737-600NG hingga B737-900NG), dan seri B737-Max, yang menjadi generasi keempat (terbaru) dari keluarga 737.

Sebelum musibah Sriwijaya Air, Boeing sudah terpukul oleh kecelakaan dua pesawat B737-Max yang jatuh secara beruntun di Indonesia (Oktober 2018), dan Ethiopia (Maret 2019). Dua kecelakaan yang memakan 386 korban jiwa ini membuat pesawat produksi terbaru Boeing itu dilarang terbang di seluruh dunia, sejak April 2019.

Saat itu, tercatat ada 387 unit pesawat B737-Max yang terpaksa di-grounded. Ratusan pesawat ini semula melayani sekitar 8.600 penerbangan setiap pekan, dan dioperasikan oleh 59 maskapai.

Pergerakaan haraga asaham Boeing 2016 - 2021
Pergerakaan haraga asaham Boeing 2016 - 2021 Fadhlan Aulia / Lokadata.id

Larangan terbang itu bukan hanya membuat reputasi Boeing anjlok, tapi bisnisnya juga meredup. Hingga November 2020, sebanyak 782 unit pesanan B737-Max dibatalkan, dan 482 unit pesanan lagi, ditunda -- sampai waktu yang tidak ditentukan.

Menurut CNN, kecelakaan yang berujung pada grounded pesawat itu merupakan blunder korporasi paling mahal yang pernah ada. Insiden itu memberi beban biaya langsung bagi Boeing hingga AS$200 miliar, plus beban biaya tak langsung AS$600 miliar.

Awan gelap Boeing

Meski musibah Sriwijaya Air sempat membuat harga saham Boeing kembali tergelincir, sebuah artikel dalam Motley Fool Advisor menyebut kecelakaan itu kemungkinan besar bukan disebabkan oleh desain pesawat B737-500.

Tipe pesawat ini telah banyak digunakan oleh berbagai maskapai di banyak negara selama beberapa dekade. Kecelakaan yang dialami Sriwijaya dinilai tidak akan mengarah pada larangan terbang, seperti halnya terjadi pada B737-Max.

Namun demikian, insiden ini akan berpengaruh besar pada Boeing, yang pada November lalu baru saja berhasil mendapatkan izin terbang lagi untuk 737 Max.

Kecelakaan SJ182 ini terjadi ketika Boeing baru saja membayar denda sebesar AS$ 2,5 miliar. Dikutip CNBC, denda ini merupakan bagian dari kesepakatan untuk menghentikan penyelidikan B737-Max oleh Departemen Kehakiman AS.

Selain pembayaran denda, masih ada sejumlah awan gelap yang mengadang Boeing. Di antaranya, klaim hukum yang sedang berlangsung. Seperti dikutip The Entrepreuner, Boeing harus membayar AS$744 juta untuk penyelesaian hukum — dan banyak lagi kemungkinan akan datang, seperti tuntutan dari keluarga korban.

Selain itu, Boeing masih menghadapi pengawasan dari Federal Aviation Administration (FAA) dan Securities and Exchange Commission (SEC). Ini membuka kemungkinan Boeing masih harus berurusan dengan hukuman perdata tambahan terkait dugaan kurangnya kejujuran dengan regulator FAA, sebelum dan setelah bencana.

Dan tentu saja awan gelap pandemi korona yang tak kunjung usai. Ini berdampak besar pada permintaan perjalanan dan kemampuan maskapai membeli pesawat baru. Akibatnya, banyak pesanan pesawat yang dibatalkan atau ditunda sehingga menyulitkan arus kas Boeing.

Satu-satunya yang menguntungkan Boeing hanyalah izin terbang dari FAA. Ini memberi sebersit harapan bahwa pesanan pesawat baru akan kembali mengalir. Desember lalu, Ryaanair, sebuah maskapai yang berpusat di Dublin, Irlandia, telah memesan 75 pesawat B737-Max senilai AS$7 miliar.

Namun, sejumlah analis memperkirakan, perlu beberapa tahun lagi sebelum Boeing bisa menggenjot produksi dan mengandalkan B737-Max sebagai sumber "sapi perah" perusahaan.

Harapan lain terletak pada distribusi dan kemanjuran vaksin Covid-19. Dengan vaksinasi massal di seluruh dunia, industri penerbangan dapat memimpikan adanya lonjakan penumpang.