Lokadata.ID

Belajar dari India: Korona kembali, pertumbuhan ekonomi jadi taruhan

Warga Hindu India dalam 'Huranga', sebuah permainan yang dimainkan antara laki-laki dan perempuan sehari setelah Holi,  di kuil Dauji, Mathura, India, Selasa (30/3/2021).
Warga Hindu India dalam 'Huranga', sebuah permainan yang dimainkan antara laki-laki dan perempuan sehari setelah Holi, di kuil Dauji, Mathura, India, Selasa (30/3/2021). K. K. Arora / ANTARA FOTO/REUTERS

Ribuan orang turun di jalan-jalan di sejumlah kota di India seperti di Vrindavan dan Gorakhpur merayakan Holi atau festival warna, Senin (29/3/2021). Mereka saling melemparkan bubuk atau cairan warna-warni.

Tradisi menjelang musim semi ini sebenarnya sudah dilarang karena pandemi korona, tapi masih banyak yang melakukannya. Akibatnya cukup mengerikan. Jumlah kasus positif korona meningkat tajam. Kedisiplinan masyarakat mulai mengendur.

Menurut Aljazeera, mengutip otoritas setempat, kasus baru Covid-19 harian di awal April langsung melonjak menjadi 60 ribuan. Padahal Februari lalu masih di bawah 10 ribuan. Angka ini terus melonjak sampai tembus 100 ribu.

Akibatnya bisa panjang. Bank investasi Goldman Sachs memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi India untuk kuartal II/2021 (April-Juni) dari 33,4 persen menjadi 31,3 (yoy). Revisi ini dilakukan setelah India melaporkan lebih dari 103 ribu kasus baru selama 24 jam di awal pekan ini.

Angka ini lebih tinggi daripada masa puncak pada bulan September 2020, saat pandemi virus korona gelombang I terjadi di India.

Meski kontraksi ekonomi diperkirakan hanya terjadi tiga bulan, tetapi dampaknya diperkirakan akan menurunkan pertumbuhan ekonomi tahunan India secara keseluruhan. Sehingga, Goldman juga merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi tahunan India dari 12,3 persen menjadi 11,7 persen.

“Gelombang kedua infeksi Covid-19 diperkirakan akan memperlambat pemulihan ekonomi India dalam tiga bulan antara April hingga Juni,” demikian laporan Goldman Sachs seperti dikutip CNBC, Rabu (7/4/2021).

Kasus korona di India kembali meningkat pesat sejak pertengahan Februari. Negara bagian Maharashtra - tempat pusat keuangan India, Mumbai - terpukul sangat parah oleh lonjakan kasus ini. Pada Senin (5/4/2021), India melaporkan lebih dari 103.000 kasus baru selama periode 24 jam. Sehari kemudian, dilaporkan 96.982 kasus baru, yang sebagian besar terjadi di delapan negara bagian termasuk Maharashtra, Chhattisgarh dan Karnataka.

Dengan lonjakan kasus yang melebihi gelombang pertama pandemi ini, diperkirakan laju konsumsi di India akan anjlok karena penguncian wilayah kembali diberlakukan. Goldman memperkirakan, setelah dilanda pandemi gelombang II ini, produk domestik bruto (PDB) India akan langsung berkontraksi secara berurutan, sebesar 12,2 persen selama tiga bulan. Tahun lalu, India juga tergelincir ke dalam resesi setelah mencatat kontraksi dua kuartal berturut-turut.

“Lonjakan kasus baru ke level tertinggi lebih dari 100 ribu per hari selama akhir pekan. Sejumlah negara bagian termasuk Maharashtra sudah mengumumkan penguncian yang lebih ketat, yang kemungkinan akan meluas dalam beberapa minggu mendatang. Karenanya, kami memperkirakan pertumbuhan PDB kuartal II akan lebih lambat dari yang kami prediksikan sebelumnya,” tulis analis Goldman.

Meski begitu, bank investasi ini memperingatkan dampak sebenarnya bisa lebih besar atau lebih kecil, tergantung pada seberapa ketat kebijakan pembatasan India, dan apakah meluas ke sektor-sektor seperti konstruksi dan manufaktur atau tidak. Goldman berharap Bank Sentral India (Reserve Bank of India) mempertahankan suku bunga di angka 4 persen.

Reserve Bank of India sendiri mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2021-22 sebesar 10,5 persen. Namun mereka juga memperingatkan bahwa lonjakan infeksi korona baru-baru ini telah menciptakan ketidakpastian atas pemulihan pertumbuhan ekonomi.

“Proyeksi pertumbuhan PDB riil untuk 2021-22 dipertahankan pada 10,5 persen yang terdiri dari 26,2 persen di triwulan I; 8,3 persen di triwulan II; 5,4 persen di triwulan III; dan 6,2 persen di triwulan IV,” kata Gubernur RBI Shaktikanta Das setelah rapat Komite Kebijakan Moneter (MPC), Rabu.

Beragam proyeksi

Berbeda dengan Goldman Sachs yang merevisi proyeksi pertumbuhan India, Dana Moneter Internasional (IMF) tetap memperkirakan pertumbuhan India akan melonjak hingga 12,5 persen pada 2021 dan2022.

Dilaporkan Indian Express, Rabu (7/4/2021), IMF memproyeksikan ekonomi India akan lebih kuat dari Cina, satu-satunya ekonomi besar yang memiliki tingkat pertumbuhan positif tahun lalu selama pandemi COVID-19. Cina telah tumbuh 2,3 persen pada tahun 2020, lalu diperkirakan akan tumbuh sebesar 8,6 persen pada tahun 2021, dan 5,6 persen pada tahun 2022.

India Today melaporkan Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath memproyeksikan pemulihan yang lebih kuat pada tahun 2021 dan 2022 untuk ekonomi global, termasuk India. Menurut dia, setelah krisis kesehatan selesai, kebijakan pemerintah dapat lebih berfokus pada pembangunan ekonomi yang tangguh, inklusif, dan lebih hijau.

Sementara itu, Bank Dunia juga tetap menaikkan proyeksi pertumbuhan PDB India sebesar 4,7 poin, menjadi 10,1 persen untuk tahun 2021-22. Hal ini karena dinilai ada kebangkitan yang sangat kuat pada konsumsi swasta dan pertumbuhan investasi di India. Sebelumnya, Januari lalu, Bank Dunia telah mematok pertumbuhan PDB India sebesar 5,4 persen.

"India, yang mencakup hampir 80 persen dari PDB kawasan (Asia Selatan), mengalami revisi substansial terhadap pertumbuhan sebesar 4,7 poin sejak Januari 2021, karena rebound yang kuat dalam konsumsi swasta dan pertumbuhan investasi pada kuartal kedua dan ketiga (Juli -Desember, 2020),” tulis Bank Dunia dalam laporan South Asia Economic Focus Spring 2021-South Asia Vaccinates, yang dikutip Business Standard, Rabu.

Lembaga pemeringkat Moody juga mengerek perkiraan pertumbuhan PDB India menjadi 12 persen pada tahun 2021. Dalam perkiraan sebelumnya pada November 2020, Moody's Analytics menyebut PDB India akan tumbuh sebesar 9 persen pada tahun kalender.

“Prospek jangka pendek India telah berubah lebih baik setelah kuartal IV 2020 lebih kuat dari yang diharapkan. PDB mampu tumbuh sebesar 0,4 persen selama setahun setelah kontraksi 7,5 persen pada kuartal III. Permintaan domestik dan eksternal telah membaik sejak pelonggaran pembatasan, yang menyebabkan peningkatan hasil manufaktur dalam beberapa bulan terakhir," kata Moody's Analytics dalam pembaruan datanya, Kamis (8/4/2021) dilansir Live Mint.

Jadi contoh sukses

Penanganan pandemi Covid-19 di India sempat jadi perbincangan warganet sampai Februari lalu. Negara dengan populasi lebih dari 1,3 miliar jiwa ini dinilai mampu menurunkan jumlah kasus aktif.

Kompas melaporkan, berdasarkan data dari Covid Performance Index, yang dikutip Senin (1/2/2021), penanganan India ada di urutan 86, tepat satu tingkat di bawah Indonesia.

Sementara itu, berdasarkan data Worldometers, hingga Kamis (4/2/2021) pukul 13.05 WIB, jumlah kasus Covid-19 di India tercatat 10.791.123. Dari jumlah itu, 155.926 kasus merupakan kasus aktif.

Angka kasus Covid-19 aktif di India lebih rendah daripada Indonesia yang hingga Kamis (4/2/2021) tercatat 175.236 kasus aktif. Adapun, jumlah total kasus di Indonesia berjumlah 1.111.671 kasus.

Keberhasilan India karena masifnya pelacakan dan testing dilakukan pada warga yang terdeteksi mengidap virus korona, sehingga pencegahan penularan bisa ditekan dengan karantina mandiri.

Namun besarnya jumlah penduduk dan kekurangan disiplin warga, membuat pemerintah gagal melakukan pengawasan terus menerus. Akibatnya, penambahan jumlah kasus kembali membesar. Dalam beberapa hari ini, angkanya mencapai 100 ribu per hari.