Lokadata.ID

Belajar dari Jerman untuk tekan rasio kematian akibat Covid-19

Pemandangan Kastil Sans Souci, ditengah pandemi global virus corona (COVID-19) di Potsdam, Jerman, Minggu (5/4/2020).
Pemandangan Kastil Sans Souci, ditengah pandemi global virus corona (COVID-19) di Potsdam, Jerman, Minggu (5/4/2020). Reinhard Krause / ANTARA FOTO/REUTERS

Indonesia perlu belajar dari Jerman dalam menangani pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Alasannya, Jerman menjadi salah satu negara di Eropa yang memiliki angka kematian rendah akibat Covid-19.

Merujuk data WHO, kasus infeksi positif Covid-19 di Jerman per Jumat (10/4/2020) waktu setempat mencapai 113.525, dengan angka kematian 2.373 orang atau 2,09 persen. Di hari yang sama, Indonesia mencatat 3.512 kasus infeksi Covid-19 dan 306 (8,17 persen) di antaranya meninggal dunia.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Deniey Purwanto mengatakan, jurus utama dari Jerman dalam menekan kurva kematian adalah pelaksanaan testing dan tracking secara masif. Selain itu, menurut Deniey, kapasitas layanan kesehatan di Jerman juga sangat mumpuni.

“Jadi kalau kita belajar dari pengalaman Jerman, kata kuncinya, satu: testing dan tracking; dua: kapasitas layanan kesehatan,” kata Deniey dalam diskusi daring, Kamis (9/4/2020).

Melansir Deutsche Welle (DW), Kementerian Kesehatan Jerman mampu melakukan tes kepada 300.000 orang per minggu. Tak ada rincian yang pasti, apakah tes tersebut merupakan uji cepat (rapid test) atau uji usap (swab) yang menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR).

Hingga berita ini ditulis, pemerintah Jerman telah melakukan 1,3 juta tes Covid-19 atau 15.730 orang per satu juta penduduk.

Pada saat yang sama, jumlah tes yang dilakukan Indonesia baru mencapai 17.679 atau rata-rata 65 orang per satu juta penduduk.

Abdul Rahman, virologist asal Indonesia yang kini tengah belajar di Jerman menyebut pemeriksaan Covid-19 di negara tersebut tak hanya memiliki cakupan yang luas, tapi juga cepat. Dia menyayangkan kondisi serupa tak terjadi di Indonesia.

Seorang pasien melakukan tes di pusat tes virus COVID-19 di depan klinik seorang dokter umum di sebuah tenda di distrik Reinickendorf, Berlin, Jerman, Senin (23/3/2020).
Seorang pasien melakukan tes di pusat tes virus COVID-19 di depan klinik seorang dokter umum di sebuah tenda di distrik Reinickendorf, Berlin, Jerman, Senin (23/3/2020). Fabrizio Bensch / ANTARA FOTO/REUTERS

“Diagnosa di Indonesia tidak cepat. Ada yang harus dua minggu baru dapat hasil, padahal penanganan medis kasus covid-19 tak bisa ditunda. Kalau di Jerman diagnosa bisa cepat karena fasilitas dan sarananya memadai dan human resource-nya bagus,” kata Abdul.

Fasilitas kesehatan mumpuni

Faktor lain yang membuat Jerman mampu menekan angka kematian akibat Covid-19 adalah keberadaan fasilitas kesehatan yang mumpuni. Hal ini bisa diukur salah satunya dengan melihat rasio tempat tidur rumah sakit dengan jumlah penduduk.

Menurut New York Times, hingga Januari 2020, Jerman memiliki 28.000 tempat tidur rumah sakit yang dilengkapi dengan ventilator. Sementara itu, Asosiasi Rumah Sakit di Jerman mendaku memiliki 40.000 ruang perawatan intensif, sedangkan Lembaga Pencatatan Tempat Perawatan Intensif Jerman menyebut ada 24.000 tempat tidur intensif yang tersedia.

Jika dilihat dari indikator ketersediaan tempat tidur rumah sakit per 1.000 penduduk, Jerman memang jauh lebih superior ketimbang negara lain. Menurut data Bank Dunia, di Jerman terdapat 8,2 tempat tidur rumah sakit/1.000 penduduk, sedangkan di Italia hanya 3,4 tempat tidur dan di Belanda 4,7 tempat tidur/1.000 penduduk.

Di Indonesia, merujuk pada data Kementerian Kesehatan per 2018, jumlah tempat tidur di seluruh rumah sakit mencapai 310.700, atau 1,2 tempat tidur untuk 1.000 penduduk, atau hampir sepertujuh dari rasio tempat tidur rumah sakit di Jerman.

Kapasitas ini belum termasuk tambahan ruang perawatan pasien Covid-19 di Wisma Atlet Kemayoran yang bisa menampung 5.000 lebih pasien, dan RS Darurat Covid-19 Pulau Galang yang diklaim mampu menampung 460 pasien.

Lebih lanjut Deniey mengatakan, faktor kepercayaan masyarakat kepada pemerintah juga merupakan faktor penting untuk menekan angka kematian akibat Covid-19.

Dia mengatakan, kepemimpinan Kanselir Jerman Angela Merkel telah berhasil menciptakan sikap kooperatif masyarakat untuk mematuhi pelbagai protokol penanganan Covid-19. Pendapat serupa juga disampaikan Kepala Virologi di Universitas Heidelberg, Jerman, Hans-Georg Krausslich.

Menurut Krausslich, Merkel merupakan pemimpin yang komunikatif saat mengeluarkan kebijakan pembatasan guna memperlambat penyebaran pandemi Covid-19. Hal ini membuat banyak imbauan dan kebijakannya yang diikuti masyarakat luas.

“Mungkin kekuatan terbesar kami di Jerman adalah pengambilan keputusan rasional di tingkat pemerintahan tertinggi dikombinasikan dengan kepercayaan kepada pemerintah,” kata Krausslich, seperti dilansir dari New York Times.