Lokadata.ID

Berkah pandemi, pendapatan data Indosat melejit, pangsa pasar Telkom dan XL turun

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyampaikan kata sambutan pada Peringatan 25 Tahun Initial Public Offering (IPO) Telkom di Jakarta, Kamis (19/11/2020).
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyampaikan kata sambutan pada Peringatan 25 Tahun Initial Public Offering (IPO) Telkom di Jakarta, Kamis (19/11/2020). Dhemas Reviyanto / ANTARA FOTO

Dibandingkan industri lain, telekomunikasi mencatat kinerja yang lumayan selama pandemi Covid-19. Kebijakan pembatasan sosial memaksa masyarakat mengalihkan banyak aktivitasnya di rumah, mulai dari bekerja, sekolah, hingga beribadah, melalui daring. Karena itu, kebutuhan akan internet pun meningkat.

Hal itu dengan terang tergambar dalam laporan tiga perusahaan telekomunikasi, yakni PT Telkom Indonesia Tbk, PT XL Axiata Tbk, dan PT Indosat Tbk. Ketiganya mencatat pertumbuhan pendapatan yang lumayan tinggi di segmen data. Hal itu membuat pendapatan ketiganya secara keseluruhan tumbuh lebih tinggi dibandingkan 2019.

Pertumbuhan pendapatan data tertinggi diraih Indosat yang mencapai 28,31 persen, dari Rp15,38 triliun pada 2019 menjadi Rp19,73 triliun tahun lalu. Berada di peringkat kedua adalah XL Axiata yang naik 10,87 persen, dari Rp19,29 triliun (2019) menjadi Rp21,39 triliun (2020).

Telkom paling bontot dengan kenaikan 7,19 persen. Namun, pendapatannya tetap yang paling besar, yakni Rp69,25 triliun, dari tahun sebelumnya Rp64,6 triliun. Jika dilihat dari data saja, pangsa pasar Telkom pada 2020 mencapai 62,75 persen. XL berada di peringkat kedua dengan 19,38 persen, dan Indosat sebesar 17,88 persen.

Namun, jika dilihat dari pertumbuhan pendapatan data, Indosat berada di posisi pertama. Pada 2019, pangsa pasar data Indosat masih 15,49 persen. Pangsa pasar XL dan Telkom justru turun. XL turun tipis karena pada 2019 masih 19,43 persen. Telkom yang terjun bebas dari 2019 yang masih 65,08 persen.

Indosat juga semakin mengandalkan pendapatannya pada data. Pada 2019, komponen data menyumbang 74,4 persen dari total pendapatan perusahaan. Namun, pada 2020, segmen data berkontribusi 85,5 persen. Pendapatan segmen suara pada 2020 turun menjadi Rp1,98 triliun yang mengakibatkan kontribusi segmen ini tinggal 4,6 persen, dari sebelumnya 6 persen (2019).

Indihome

Dalam beberapa tahun terakhir, Telkom makin mengandalkan pendapatan dari Indihome. Tahun lalu, misalnya, berdasarkan laporan keuangan yang disampaikan Kamis (29/4/2021), Telkom membukukan pendapatan Rp136,4 triliun, naik tipis 0,7 persen, sementara pendapatan dari Indihome naik 21,2 persen.

Kontribusi Indihome terhadap keseluruhan pendapatan Telkom terus meningkat. Pada 2018, sumbangan layanan fixed broadband ini masih 10,9 persen, kemudian menjadi 16,3 persen (2020). Sebaliknya, lini bisnis utama Telkom yang lain, yakni telepon, sumbangan pendapatannya terus turun dari 25,71 persen menjadi 15,8 persen.

Direktur Utama Telkom, Ririek Adriansyah mengatakan, pandemi virus korona telah mempercepat transformasi digital. Kondisi itu menjadi ruang akselerasi bagi perusahaan semakin luas.

Menurut Ririek, pada 2020, jumlah pelanggan Indihome bertambah 1 juta pelanggan atau tumbuh 14,5 persen menjadi 8,02 juta orang. Telkom kini terus menggenjot pertumbuhan pelanggan Indihome, antara lain dengan menambah sales car menjadi 896 unit.

Margin Indihome juga sangat bagus. Pada 2020, profitabilitas atau margin laba sebelum pembayaran bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) mencapai 38,9 persen, naik tajam dari tahun sebelumnya sebesar 33,9 persen. Di pasar fixed broadband, Indonesia menguasai pangsa sebesar 82,3 persen.

Dia menambahkan, pengguna mobile data juga naik 5,7 juta pelanggan atau tumbuh 5,2 persen pada 2020 menjadi 115,9 juta orang. Jumlah data yang digunakan juga naik dari 6,7 juta terabyte (TB) tahun 2019 menjadi 9,7 juta TB pada 2020. Dari data pelanggan fixed dan mobile broadband terlihat pandemi membawa berkah buat Telkom.

Telkom di periode yang sama berhasil meraih kenaikan laba tahun berjalan sebesar 7,1 persen menjadi Rp29,5 triliun. Pertumbuhan laba di tahun pandemi itu lebih tinggi dibandingkan 2019 lalu sekitar 2,3 persen.

Secara keseluruhan, kinerja Telkom ini terlihat lebih bagus jika dibandingkan dua pesaingnya: XL Axiata dan Indosat. XL Axiata, misalnya, pada tahun lalu pendapatannya masih naik 3,5 persen menjadi Rp26,01 triliun. Namun, labanya terpangkas 47,9 persen menjadi Rp371,5 miliar.

Sementara Indosat sebenarnya mencatatkan kenaikan pendapatan tertinggi ketimbang Telkom dan XL Axiata, yakni 6,9 persen menjadi Rp27,9 triliun. Pendapatan utama perusahaan dari seluler masih tumbuh 11,6 persen. Sisanya, pendapatan multimedia, komunikasi, data, dan internet serta telekomunikasi tetap turun.

Akan tetapi, Indosat di periode yang sama justru mencetak rugi tahun berjalan Rp630,1 miliar, padahal pada 2019 untung Rp1,63 triliun. Seperti XL Axiata, kerugian perusahaan ini akibat beban secara keseluruhan yang naik dua digit 16,6 persen menjadi Rp25,5 triliun.

Prospek

Analis Binaartha Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama berpendapat, sejumlah perusahaan telekomunikasi yang mencatatkan kinerja berbeda-beda ini disebabkan kondisi serta strategi perusahaan masing-masing. Telkom, misalnya, menurut dia kenaikan pendapatan dan laba bersih sejalan dengan upaya peningkatan kualitas layanan khususnya dalam soal konektivitas.

Sementara XL Axiata dan Indosat, kata Nafan, memiliki pangsa pasar yang berbeda dengan Telkom. Dia menduga, laba bersih keduanya anjlok lantaran tarif layanan yang lebih murah. “Strategi itu menekan margin keuntungan, tapi ini mungkin cara mempertahankan loyalitas pelanggan," kata Nafan kepada Lokadata.id, Selasa (4/5).

Selain itu, lanjut dia, baik kinerja XL Axiata maupun Indosat juga tak efisien karena rasio utang terhadap modal (debt to equity ratio/DER) yang tinggi. Rasio DER XL Axiata pada 2020 mencapai 2,5 kali dan Indosat 3,8 kali. Rasio DER Telkom hanya 1,04 kali. Karena itu baik XL Axiata maupun Indosat perlu lebih banyak efisiensi ke depannya.

Menurut Nafan, secara umum industri telekomunikasi punya prospek yang baik ke depannya. Terlebih, pemerintah kini tengah menyiapkan pengembangan layanan telekomunikasi 5G.

“Telko ini yang penting ikut komitmen pemerintah dalam penyediaan 5G secara merata. Telkom pasti paling siap, tetapi setidaknya untuk perusahaan sekelas Indosat dan XL ini juga esensial dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan kepada eksisting customer-nya,” katanya.

Kepada Lokadata.id, Chief of Marketing Jarvis Asset Management, Kartika Sutandi menambahkan, kinerja perusahaan telekomunikasi tentu juga dipengaruhi jumlah pelanggan masing-masing. Pada saat yang sama, biaya operasional industri ini juga cukup tinggi dan fixed.

“Jadi kalau utilisasi atau jumlah pelanggan rendah ya rugi,” kata Kartika. Karena itu, dia berpendapat, opsi merger menjadi pilihan yang perlu dipertimbangkan oleh perusahaan telekomunikasi.

Sebelumnya, Indosat dengan PT Hutchison 3 Indonesia (Tri Indonesia) tengah berunding soal keputusan penggabungan kedua perusahaan namun baru diputuskan Juni 2021 nanti. Menurut Kartika, jika benar-benar terjadi, merger ini berdampak pada penurunan sejumlah biaya.

“Harusnya merger bisa membuat efisiensi. Bisa cuan,” katanya. Bagi yang nggak mau merger ya akan berat juga melawan pesaing yang pelanggannya banyak.” Dia juga mengatakan, opsi merger juga bisa menjadi solusi atas biaya belanja modal untuk pengembangan 5G.