Lokadata.ID

BI galakkan sistem pembayaran nontunai

Ilustrasi pembayaran non
Ilustrasi pembayaran non User13350594 / Freepik

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan pihaknya telah bekerja sama dengan perbankan dan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) untuk menyediakan uang tunai di mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM).

Perry menyebut, Bank Indonesia telah menyiapkan uang tunai untuk mencukupi kebutuhan masyarakat lebih dari 6 bulan sebesar Rp450 triliun yang akan diedarkan melalui ATM dan perbankan.

Namun, ia meminta masyarakat untuk sebisa mungkin bertransaksi secara nontunai. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran pandemi korona (Covid-19).

Perry juga mengatakan sejak awal Maret 2020 Bank Indonesia telah mengkarantina uang tunai yang disetorkan oleh perbankan.

“Kami sudah mengganti uang tersebut dengan uang cetakan baru untuk mengurangi penyebaran Covid-19 melalui uang tunai,” ujar Perry dalam konferensi pers yang diselenggarakan Bank Indonesia secara daring pada Kamis (25/03/2020).

Selain itu, Perry juga mengatakan Bank Indonesia akan mengikuti seruan dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk mengurangi jam operasional bank. Meski begitu, Perry meyakinkan bahwa transaksi keuangan yang dibutuhkan masyarakat akan tetap terpenuhi.

“Masyarakat tidak perlu khawatir akan kebutuhan uang tunai. Namun, untuk meminimalkan penyebaran virus korona kami mengimbau masyarakat untuk menggunakan transaksi nontunai,” kata Perry.

Pengertian transaksi nontunai yang bisa dilakukan oleh masyarakat, disebut Perry mencakup internet banking, mobile banking, maupun Quick Response Indonesian Standard (QRIS), yang bisa diakses tanpa harus keluar rumah.

"Sekarang transaksi nontunai lebih mudah karena ada QRIS yang sudah kami kampanyekan di seluruh Indonesia. Penggunaan uang non tunai melalui elektronik lebih mudah dengan QRIS," ujarnya.

Adapun QRIS adalah standarisasi pembayaran digital menggunakan metode kode matriks dari Bank Indonesia untuk memudahkan proses transaksi.

Perpanjangan masa berlaku MDR

Tak hanya itu, Bank Indonesia juga memperpanjang masa berlaku Merchant Discount Rate (MDR) dari Mei sampai September.

"Industri perbankan maupun ASPI sudah sepakat untuk memperpanjang masa berlakunya MDR yang nol persen atau gratis dari yang semula dari Mei menjadi September 2020," kata Perry dilansir CNNIndonesia.com, Selasa (24/3/2020).

Tarif MDR dibebankan kepada penjual atau toko pada setiap transaksi satu jaringan alat pembayaran (on-us) maupun multijaringan (off-us). Tarif promosi MDR diberlakukan untuk mengurangi beban pelaku usaha di tengah meluasnya dampak virus korona atau covid-19 terhadap perekonomian domestik.

Bank sentral juga sudah menurunkan biaya transfer kliring dari perbankan yang semula Rp600 menjadi Rp1, kemudian dari perbankan ke nasabah turun dari Rp3.500 menjadi Rp2.900. "Kebijakan ini efektif sejak 1 April 2020 sampai dengan 31 Desember 2020," kata Perry.

Di sisi lain, ia kembali menegaskan bahwa BI terus melakukan sterilisasi pada uang yang beredar di masyarakat. Caranya, dengan menyemprotkan cairan disinfektan untuk mencegah kemungkinan penyebaran virus korona di uang yang beredar di masyarakat.

Hal ini dilakukan untuk menjaga kebersihan sekaligus meredam kekhawatiran masyarakat akan menempelnya virus korona pada beberapa benda, termasuk uang kertas.

Adapun peredaran Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) per Februari 2020 tumbuh sebesar 5,44 persen (yoy). Sementara transaksi nontunai menggunakan ATM, kartu debit, kartu kredit, dan uang elektronik turun 1,02 persen (yoy).

Berdasarkan riset Redseer pada 2018, sistem pembayaran menggunakan dompet digital akan semakin diterima masyarakat. Diperkirakan, pada 2023 sebanyak 50 persen masyarakat membayar secara offline menggunakan e-wallet.