Lokadata.ID

BI tahan suku bunga, pemulihan ekonomi lanjut tahun depan

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (kanan) didampingi Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti memberikan keterangan pers hasil Rapat Dewan Gubernur di kantor BI, Jakarta, Kamis (19/9/2019).
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (kanan) didampingi Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti memberikan keterangan pers hasil Rapat Dewan Gubernur di kantor BI, Jakarta, Kamis (19/9/2019). Sigid Kurniawan / ANTARA FOTO

Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRRR). Tak hanya itu, bank sentral menyatakan, sejumlah program pemulihan ekonomi nasional (PEN) berlanjut di tahun depan.

Berdasarkan hasil rapat Dewan Gubernur BI pada 16-17 September 2020, bank sentral tetap mempertahankan suku bunga acuan di posisi 4 persen. Bank sentral juga menjaga tingkat suku bunga deposit facilty dan lending facility masing-masing sebesar 3,25 persen dan 4,75 persen.

“Keputusan ini mempertimbangkan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, di tengah inflasi yang diprakirakan tetap rendah,” kata Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam konferensi pers daring, Kamis (17/9/2020) sore.

Sebagai catatan, tingkat suku bunga 4 persen ini merupakan posisi terendah sejak 2016. Sebelumnya, bank sentral telah memangkas suku bunga sebanyak empat kali di tahun ini. Pada awal 2020, suku bunga ada di posisi 5 persen.

Terpisah, Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menyatakan, keputusan BI mempertahankan suku bunga merupakan hal yang tepat. Alasannya, stabilitas perekonomian dan sistem keuangan perlu dijaga lantaran masih ada sejumlah gejolak baik di level internasional maupun domestik.

Sejumlah gejolak itu, menurut Josua, di antaranya: ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Cina, vaksin Covid-19 yang belum menemui titik terang, dan volatilitas nilai tukar rupiah.

Mengenai gejolak yang terakhir, berdasarkan catatan BI per Rabu (16/9), nilai tukar rupiah terdepresiasi sebesar 1,58 persen secara point to point dari posisi Juli 2020. Sementara, secara year to date, rupiah terdepresiasi sebesar 6,42 persen dari posisi Desember 2019.

Concern-nya BI adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka pendek. Karena kalau rupiahnya stabil, ekspektasi masyarakat terjaga mestinya akan bisa mendorong pemulihan ekonomi,” kata Josua kepada Lokadata.id.

Program PEN berlanjut

Selain mengumumkan keputusan mempertahankan BI7DRRR, bank sentral juga menyampaikan komitmennya dalam mendorong pemulihan ekonomi akibat dampak pandemi korona. BI menjabarkan sejumlah langkah kebijakan.

Pertama, bank sentral melanjutkan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah agar sejalan dengan fundamental dan mekanisme pasar. Kedua, memperkuat strategi operasi moneter guna meningkatkan transmisi stance kebijakan moneter yang ditempuh.

Ketiga, BI memperpanjang periode ketentuan insentif pelonggaran giro wajib minimum (GWM) rupiah sebesar 50bps bagi bank yang menyalurkan kredit UMKM dan ekspor impor serta kredit non UMKM sektor-sektor prioritas yang ditetapkan dalam PEN. Perpanjangan program tersebut dilakukan dari 31 Desember 2020 menjadi sampai dengan 30 Juni 2021.

Keempat, bank sentral mendorong pengembangan instrumen pasar uang untuk mendukung pembiayaan korporasi dan UMKM dalam program PEN.

Kelima, melanjutkan perluasan akseptasi QRIS dalam mendukung program pengembangan UMKM melalui perpanjangan kebijakan Merchant Discount Rate (MDR) sebesar 0 persen untuk Usaha Mikro (UMI) dari 30 September 2020 menjadi sampai dengan 31 Desember 2020.

Bank sentral menyatakan, akan terus menempuh langkah-langkah kebijakan lanjutan yang diperlukan guna mendukung program PEN sembari mencermati dinamika perekonomian dan pasar keuangan global serta penyebaran Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian dari waktu ke waktu.

“Koordinasi kebijakan yang erat dengan pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus diperkuat untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta mempercepat pemulihan ekonomi nasional,” katanya.

Lebih lanjut, Josua mengatakan, keputusan BI melanjutkan sejumlah program PEN hingga tahun depan layak mendapat apresiasi. Meski begitu, menurut dia, langkah BI ini mesti dibarengi juga dengan kecepatan pemerintah merealisasikan pelbagai anggaran PEN guna mendorong pemulihan ekonomi yang maksimal.

“Itu bentuk nyata bahwa BI tetap mendukung PEN. Tetapi ya sekali lagi PEN bukan hanya kebijakan BI. Dari sisi pemerintah juga harus berjalan. Realisasi anggaran harus dipercepat. Jangan nanti nunggu akhir tahun. Nanti tidak bisa cepat recovery-nya,” tutupnya.

Ketua Satgas PEN, Budi Gunadi Sadikin, sebelumnya mengatakan, realisasi stimulus korona hingga 16 September 2020 mencapai Rp241,06 triliun. Jumlah tersebut setara dengan 34,7 persen dari total pagu sebesar Rp695,2 triliun.

“Kami menyadari bahwa kami akan mencoba untuk terus meningkatkan angka penyaluran ini sampai akhir September,” kata Budi, dalam konferensi pers daring, dikutip dari Kompas.com.