Lokadata.ID

Bitcoin: Dipertanyakan Menkeu AS, dilirik perbankan

Ilustrasi mainan dalam representasi mata uang virtual Bitcoin  di depan gambar bendera Cina  (9/4/2019).
Ilustrasi mainan dalam representasi mata uang virtual Bitcoin di depan gambar bendera Cina (9/4/2019). Dado Ruvic / ANTARA FOTO/REUTERS

Menteri Keuangan AS Janet Yellen memberi peringatan kepada publik, bahwa Bitcoin sangat tidak efisien untuk transaksi moneter. Pernyataan ini ia sampaikan pada Senin (22/2/2021) untuk mengingatkan investor dan masyarakat luas tentang bahaya yang ditimbulkan mata uang kripto itu.

Peringatan Yellen ini dikeluarkan saat harga cryptocurrency jatuh dalam perdagangan Senin pagi. Namun, harga mata uang kripto ini terpantau tetap di atas AS$ 53.000.

Meski performanya tampak meyakinkan, Yellen menilai masih ada pertanyaan penting yang harus dituntaskan terlebih dahulu oleh Bitcoin, yakni tentang legitimasi dan stabilitas. “Saya tidak berpikir bahwa Bitcoin akan banyak digunakan sebagai mekanisme transaksi,” katanya kepada CNBC di konferensi New York Times DealBook.

Mantan Gubernur The Federal Reserve ini khawatir karena sejauh ini Bitcoin lebih sering ditransaksikan untuk keuangan gelap. “Ini adalah cara yang sangat tidak efisien untuk melakukan transaksi, dan jumlah energi yang dikonsumsi untuk memproses transaksi tersebut sangat mencengangkan," kata dia.

Selain itu, masih ada lagi masalah volatilitas, karena harga mata uang Bitcoin yang saat ini telah mencapai puncaknya. “Ini adalah aset yang sangat spekulatif. Saya pikir, orang harus menyadari bahwa ini bisa sangat tidak stabil dan saya khawatir tentang potensi kerugian yang dapat diderita investor,” kata Yellen.

Saat ini, berbagai lembaga pemerintah telah mengupayakan mata uang digital alternatif. Harapannya, mata uang digital baru ini akan membuka sistem pembayaran global bagi mereka yang tidak memiliki akses. Bank Sentral AS juga telah membahas kemungkinan mata uang digital baru bersama dengan sistem pembayaran, yang akan diluncurkan beberapa tahun ke depan.

“Saya pikir ini bisa menghasilkan pembayaran yang lebih cepat, lebih aman dan lebih murah, yang menurut saya merupakan tujuan penting,” kata Yellen meyakinkan.

Sementara itu, Reuters melaporkan bahwa Bitcoin telah melorot 6 persen di perdagangan Asia pada Selasa (23/2) ini. Bitcoin kini diperdagangkan di kisaran AS$52.000 saja. Artinya, nilai mata uang kripto ini tak lagi mencapai rekor tertinggi setelah reli yang panjang dan tajam.

Bitcoin dilaporkan sempat mencapai level terendah senilai AS$50.848 pada perdagangan Senin. Meski melorot, angka ini masih terhitung sangat tinggi bila dibandingkan level terendah tahun lalu yang sempat di posisi AS$27.734.

Dukungan Tesla

Sampai saat ini Bitcoin masih terus diapresiasi pasar karena dukungan terbesar yang telah diberikan Tesla, perusahaan Elon Musk yang baru-baru ini melakukan pembelian substansial. Bahkan Tesla mengumumkan bakal menerima Bitcoin untuk pembayaran transaksi pembelian produknya.

Harga Bitcoin terus meroket tinggi sejak Tesla Inc. memborongnya senilai AS$1,5 miliar atau sekitar Rp 21 triliun. Berdasarkan data Bloomberg, Senin (8/2), untuk pertama kalinya Bitcoin menyentuh level AS$47.000.

“Kami berharap untuk mulai menerima Bitcoin sebagai bentuk pembayaran untuk produk kami dalam waktu dekat, tunduk pada hukum yang berlaku dan awalnya secara terbatas,” kata CEO Tesla Elon Musk, dalam pengajuan ke sekuritas seperti dilansir BBC.

Keputusan Tesla untuk merangkul Bitcoin telah meningkatkan legitimasi mata uang elektronik di tengah skeptisisme masyarakat. Sebelum memborong Bitcoin dengan nilai fantastis ini, Elon Musk sudah sering mencuit topik cryptocurrency di akun Twitternya.

Catatan CNBC, miliarder ini telah menambahkan tagar #bitcoin ke bio Twitter-nya sejak Januari. "Saya pada saat ini berpikir Bitcoin adalah hal yang baik, dan saya adalah pendukung Bitcoin,” katanya.

Dilirik perbankan

Setelah diback-up Elon Musk, kini semakin banyak perusahaan jasa keuangan, seperti Bank of New York Mellon (BK), Visa (V), MasterCard (MA) dan BlackRock (BLK), yang ikut merangkul Bitcoin. Tapi bisa dibilang tidak ada bank yang "all-in" pada mata uang kripto, seperti halnya Silvergate.

CEO Silvergate Alan Lane secara pribadi telah berinvestasi pada Bitcoin sejak 2013. Dia menyadari ada kebutuhan akan lembaga keuangan yang dapat fokus pada transaksi mata uang kripto, mengambil simpanan dan memberikan pinjaman.

“Bank semacam itu (kripto) harus dapat melayani klien kapan saja. Sebab, Bitcoin - tidak seperti mata uang, saham, obligasi, dan aset keuangan yang didukung pemerintah - tidak pernah berhenti diperdagangkan. Anda tidak dapat memiliki jam buka bank tradisional untuk aset non-tradisional,” katanya kepada CNN.

Silvergate saat ini memiliki sekitar AS$5 miliar setoran yang didukung kripto. Tetapi nilai jual terbesar bank bagi pelanggan adalah Silvergate Exchange Network (SEN), yang memungkinkan klien mentransfer dolar ke pertukaran mata uang digital kapan saja. Lane mencatat kini ada lebih banyak likuiditas di banknya, karena pasar kripto tetap aktif pada malam dan akhir pekan, sementara sistem perbankan tradisional tutup.

Klien Silvergate termasuk Coinbase dan Square (SQ), yang memungkinkan pelanggan untuk membeli dan menjual Bitcoin. Perusahaan juga telah memperluas bisnis pinjamannya untuk yang ingin berinvestasi dalam Bitcoin. "Pelanggan menyetor Bitcoin, dan kami kemudian meminjamkan mereka dolar. Lalu dolar itu digunakan lagi tuntuk membeli lebih banyak Bitcoin," kata Lane.

Selain Silvergate, Signature Bank (SBNY) yang berbasis di New York juga mulai menggarap bisnis Bitcoin. Mereka telah menerima setoran dalam bentuk kripto senilai AS$10 miliar.

"Ini merupakan area pertumbuhan yang sangat solid," kata Eric Raymond Howell, wakil presiden eksekutif senior Signature Bank. "Kami sangat senang dengan apa yang terjadi di sana. Jelas bahwa aset digital dan cryptocurrency tidak akan hilang."