Lokadata.ID

Booming Cities 2020: 10 wilayah paling berkembang di Indonesia

10 Booming Cities di Indonesia
10 Booming Cities di Indonesia Lokadata / Lokadata

Jika dunia mengenal istilah emerging market yang merujuk pada negara berkembang yang sedang bergairah untuk maju, maka Kota Kediri merupakan salah satu emerging city. Kediri termasuk dalam satu dari 10 Booming Cities 2020, bersama sembilan kota/kabupaten lain di Indonesia.

Selain Kota Kediri, juga ada misalnya Kabupaten Badung, di Provinsi Bali. Badung merupakan satu-satunya, dari 416 kabupaten yang ada di Indonesia, yang masuk dalam Booming Cities 2020.

Kabupaten Badung unggul karena tingkat kemiskinan sangat rendah, yaitu 1,8 persen, jauh di bawah tingkat kemiskinan nasional yang 9,22 persen, pada 2019. Tingkat pengangguran di wilayah yang "memiliki" pantai Kuta, Sanur, Canggu dan sejumlah obyek wisata lain di Bali itu juga sangat kecil, hanya 0,4 persen. Ini berarti hampir semua angkatan kerja di Badung, telah bekerja.

Pemeringkatan Booming Cities merujuk pada wilayah dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang stabil, dengan kondisi keuangan warga yang “gemuk”, dan tidak memikul beban sosial yang berat. Intinya, inilah kota/kabupaten di Indonesia yang paling potensial untuk berkembang dan dikembangkan.

Pemeringkatan akan dilakukan rutin setiap tahun karena kota-kota terus berdenyut, bergerak secara dinamis. Banyak yang tumbuh, ada pula yang meredup, dan sebagian lagi melesat lebih cepat dari yang lain.

Tahun ini Lokadata mengolah puluhan set data untuk menyaring 514 kabupaten/kota di Indonesia dengan 10 variabel di bidang ekonomi, sosial, dan keuangan, dalam rentang waktu 2017 - 2019.

Badung unggul karena tingkat kemiskinan dan pengangguran sangat kecil.

Hasilnya, kami menyusun peringkat 10 Booming Cities Indonesia 2020. Provinsi DKI Jakarta menempatkan empat kota dalam 10 Booming Cities Indonesia 2020. Bali menyertakan satu kabupaten dan satu kota, Banten satu kota, Jawa Barat satu kota, dan Jawa Timur dua kota

World Economic Forum (WEF), bekerja sama dengan Oxford Economics, lembaga konsultan riset di London, juga pernah menyusun perkiraan pertumbuhan ekonomi kota-kota di dunia hingga 2035, dengan menggunakan indikator produk domestik bruto (PDB) per kapita. Dalam pemeringkatan ini, lahir 10 Fastest Growing Cities yang didominasi kota-kota di India. Indonesia hanya menyisipkan satu kota: DKI Jakarta.

Berbeda dengan pengukuran WEF, penyusunan indeks Booming Cities Lokadata mengacu pada jurnal bertajuk Urban Indicators for Managing Cities yang diterbitkan Asian Development Bank (ADB), pada 2001. Kajian ADB ini, menghasilkan indikator City Development Index, yang antara lain menggunakan tiga sub-indeks, yaitu: economics activity index, financial index dan social index.

Peter Newton, Chief Research Scientist pada Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization yang menulis publikasi ADB mengingatkan, tantangan besar pengelolaan kota bukan sekadar menyediakan fasilitas yang memadai. Yang lebih penting, pemerintah kota juga mesti mengurangi kemiskinan, merancang infrastruktur baru, membangun sistem pemerintahan dan menghidupkan kembali lingkungan kumuh.

Ketika perekonomian tumbuh dengan cepat, tantangan ini berlipat ganda. Karena itu, tak cukup sekadar indikator ekonomi untuk melihat perkembangan kota potensial. Kondisi sosial juga menjadi sangat penting, mengingat dalam tatanan kehidupan seperti di Indonesia, hal itu ikut menjadi tanggung jawab pemerintah.

Meramu indeks ekonomi, sosial, dan keuangan

Indeks Aktivitas Ekonomi (economic activity index) mencerminkan tingkat stabilitas ekonomi, baik wilayah maupun individual warganya yang diukur dari kinerja ekonomi wilayah dan kondisi perekonomian warga.

Indeks Keuangan (financial index) menggambarkan kemampuan keuangan dan pergerakan ekonomi warga. Indeks ini dihasilkan dari kondisi keuangan per kapita yang tercermin dari dana pihak ketiga di perbankan serta kucuran kredit yang dikucurkan perbankan di wilayah tersebut, serta perkembangannya dalam kurun waktu observasi.

Sementara itu, Indeks Sosial (social index) memperlihatkan tingkat stabilitas sosial wilayah. Komponen indeks ini terdiri dari kondisi kemiskinan, pengangguran terbuka, rasio ketergantungan, serta proporsi pengeluaran makanan terhadap total pengeluaran.

Indeks Booming Cities ini merupakan rata-rata hasil pembobotan dari tiga sub indeks: economics activity index sebesar 40%, financial index 30% dan social index 30%.

Variabel yang diukur untuk menyusun indeks Booming Cities 2020
Variabel yang diukur untuk menyusun indeks Booming Cities 2020 Fadhlan Aulia / Lokadata.id

Indeks Aktivitas Ekonomi juga dihasilkan dari data hasil pembobotan: Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita dan pertumbuhan ekonomi dengan porsi 30:70.

Pertumbuhan diberikan bobot lebih besar mengingat yang sedang diukur adalah kabupaten dan kota yang sedang berkembang. Sementara sub-sub indeks lain disusun berdasarkan porsi yang berimbang dari masing-masing komponennya.

Dalam proses bersih-bersih data (data cleaning), kajian ini menemukan sejumlah outlier karena pergerakannya yang tidak wajar. Hasil itu diperoleh dari eksplorasi data mengenai nilai-rata-rata, standar deviasi, koefisien variasi, rentang dan nilai nilai statistik lain. Hasilnya, 199 wilayah harus dikeluarkan dari seleksi pemeringkatan, sehingga tinggal tersisa 315 kabupaten/kota.

Dari analisis terhadap ratusan kota dan kabupaten tersisa itu, Lokadata menyusun 10 kota dan kabupaten paling potensial: Booming Cities. Kota-kota ini bukan hanya berpeluang tumbuh lebih baik, tapi juga memiliki ruang besar untuk kehadiran bisnis.

Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan bagian dari Lokadata Special Report soal Booming Cities 2020, yang terdiri dari:
1.Booming Cities 2020: 10 wilayah paling berkembang di Indonesia
2.Antara Badung dan Kediri, masih berpusat di Jawa - Bali
3.Sektor usaha yang menghidupkan kota-kota
4.Tangerang Selatan perlu gudang, Kediri jasa pendidikan
5.Badung jenuh, Bangli butuh listrik, Lamandau perumahan
6.Kediri dan Bandung: Dua kota beda potensi