Lokadata.ID
Boy William: Cover lagu justru dompleng popularitas musisinya
Boy William saat ditemui Lokadata.id di gedung Annex, RCTI, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin malam (19/4/2021). Aminudin Azis/Lokadata.id

Boy William: Cover lagu justru dompleng popularitas musisinya

Boy mengaku jadi figur berbeda ketika tidak di panggung. Ia berubah menjadi sales, editor, atau pelobi untuk membangun jejaring bisnisnya.

Anda pasti tahu Boy William. Kita semua kenal William Hartanto. Pria berusia 29 yang memiliki penggemar dan ketenaran sebagai presenter acara musik, aktor dan kreator konten. Empat juta pengikut di Instagram dan 3,9 juta pelanggan di YouTube telah terobsesi pada karyanya.

Boy mungkin salah satu orang tersibuk di dunia bisnis dan hiburan saat ini. Selain atribusi tadi, ia juga bintang iklan yang telah merambah bisnis kuliner hingga yang terbaru: Mydio Sing Musictainment, sebuah bisnis aplikasi karaoke keluarga.

“Gue ini masih terus belajar dan berkembang guys,” tuturnya saat wawancara dengan Heru Triyono dan fotografer Aminudin Azis di di gedung Annex, RCTI, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin malam (19/4/2021).

Malam itu adalah waktu sibuk bagi Boy—sebagai pembawa acara Indonesian Idol yang kini memasuki babak final. Tampak, ia memakai sweatshirt cokelat dan celana pendek sembari diberi pengarahan oleh beberapa kru RCTI. “Wait a minute ya,” ujarnya kepada kami.

Syahdan, Boy mau menjawab banyak hal. Mulai dari James Cordon, pengembangan bisnis, termasuk pertanyaan sulit soal royalti musik yang memengaruhi acara YouTube-nya.

Berikut tanya jawab yang diwarnai ekspresi-ekspresi bahasa Inggris yang telah menjadi khasnya Boy:

Boy William saat ditemui Lokadata.id di gedung Annex, RCTI, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin malam (19/4/2021).
Boy William saat ditemui Lokadata.id di gedung Annex, RCTI, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin malam (19/4/2021). Aminudin Azis / Lokadata.id

Menyanyikan lagu orang lain wajib bayar royalti. Apakah memengaruhi isi konten YouTube atau bisnis Anda?
Dari awal sih gue sudah sadar akan copyright atau hak cipta.

So, acara Nebeng Boy, yang sering ada nyanyinya, sudah terkonsep kalau royaltinya akan diambil sama penyanyi asli. Fair enough kan.

Hal itu tidak mengurangi monetisasi saluran YouTube Anda?
Gue sih enggak terlalu monetizing YouTube. Kalau gue nyanyi di Nebeng Boy, ya royalti diambil sama penyanyi aslinya.

YouTube itu kan punya mekanisme. Pencipta lagu dapat berapa persen, kita berapa persen. Saling bagi atau kerja sama.

Tapi PP No. 56 Tahun 2021 memang belum atur penggunaan lagu di platform digital seperti YouTube. Baru akan…
Iya. Intinya sih gue menghormati hak cipta. Sah-sah saja kan pencipta lagu mendapatkan royalti. Mereka itu sudah capek bikin lagu lho guys.

After all, tim gue itu jual iklan di YouTube. Enggak main monetizing. Itu yang menjadi strategi marketing kita.

Sebagai orang yang berkecimpung di industri kreatif, bagaimana Anda memandang peraturan baru itu?
Gue memang bukan musisi dan enggak terkena dampaknya. Cuma, temen-temen gue yang musisi itu sudah capek bikin lagu dan merekamnya.

Ketika lagu itu dinyanyikan banyak orang, di tempat karaoke misalnya, eh mereka gak dapat apa-apa. Kan kasihan.

Penetapan aturan tarif royalti sudah cukup adil?
Gue rasa fair. Aturan ini bisa membantu temen-temen musisi untuk terus berkarya.

Apalagi lagu mereka sudah menghibur banyak orang. Sudah seharusnya mereka mendapatkan sepeser dua peser dari royalti.

Bagaimana Mydio Sing Musictainment, bisnis karaoke Anda, menerjemahkan aturan itu?
Kita kerja sama dengan Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN). Nah mereka ini yang punya mekanisme agar musisi mendapat royaltinya.

Lebih lanjut, tanya lembaganya saja. Gue sebatas itu dan menjalankan bisnisnya saja. Apalagi karaoke itu hobi gue banget.

Apa ide awal dari aplikasi karaoke Mydio Sing Musictainment ini?
Sebenernya ini hasil dari obrolan dengan temen-temennya om gue. Sudah kayak keluarga lah dengan mereka ini.

Bidang mereka adalah bisnis karaoke keluarga offline. Nah mereka mau melakukan inovasi. Kemudian gue dan Bang Once diajak. Jadilah Mydio Sing ini.

Idenya itu ya inovasi pada masa pandemi. Sehingga kita bisa tetap karaoke di manapun kita dan bisa terkoneksi dengan yang lain seperti medsos.

Ya, ini selayaknya aplikasi karaoke di ponsel kan?
Bukan. Ini bukan sekadar aplikasi nyanyi-nyanyi doang lho. Beda. Memang ada aplikasi nyanyi, rekam sendiri dan upload.

Ini bukan seperti itu. Ini benar-benar song bank karaoke. Benar-benar seperti di karaoke room. Bisa naikin dan turunin nada. Persis sama.

Boy William saat ditemui Lokadata.id di gedung Annex, RCTI, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin malam (19/4/2021).
Boy William saat ditemui Lokadata.id di gedung Annex, RCTI, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin malam (19/4/2021). Aminudin Azis / Lokadata.id

Pasar dari aplikasi ini siapa?
Everybody. Keluarga, anak muda, anak kuliah. Pokoknya semua.

Kita kan tahu orang Asia itu hobi banget karaoke. Di manapun kita selalu nyanyi kan.

Mobil, kamar mandi, bahkan di jalan. Mau bisa nyanyi atau enggak, kita itu suka nyanyi. Sudah seperti kultur.

Apakah lewat aplikasi rasanya bisa sama seperti nyanyi di karaoke room?
Sekarang kan lagi pandemi. Orang takut keluar dan berkumpul. Apalagi dalam ruangan.

Tapi, aplikasi ini dibuat persis dengan karaoke room. Bahkan, kita bisa panggil waiter. Bingung gak? Ha-ha.

Kalau di room kan kita pencet bel, waiter akan datang. Nah, ini juga ada. Tinggal pencet dan pesan. Bisa juga. Karena kita kerja sama dengan GoFood.

Like exactly karaoke pokoknya. Dan ini produk lokal juga lho.

Kembali ke soal royalti. Ketika video cover lagu diunggah di YouTube dan mendapatkan banyak penonton, apa pendapat Anda?
Artinya ya banyak yang suka dengan cover itu. Kalau gue jadi pemilik lagunya ya happy. Karena karya gue dinyanyikan oleh banyak orang.

Menurut gue, cover lagu itu malah mendompleng popularitas musisinya. Tentu dengan pembagian royalti yang adil ya.

Fenomenanya, cover lagu bisa lebih populer atau lebih banyak penontonnya daripada versi aslinya…
Gue enggak tahu soal itu. Rezeki orang beda-beda ya. Mungkin orang lebih demen melihat yang meng-cover. We don’t’ know ya kan?

Tapi kalau hal itu bisa mendompleng lagu dan musisinya, why not. Itu pendapat gue sih.

Banyak juga cover lagu orang tapi tanpa izin, khususnya di YouTube, bagaimana?
Kalau itu gue enggak setuju. Setidaknya izin dan bagi hasil lah.

"Gue ini kalau enggak di panggung ya berubah jadi editor, sales, marketing, produser. Itu gue yang bukan Boy William."

Boy William

Selama ini Anda banyak meng-cover lagu orang. Tidak berminat untuk menjadi penyanyi beneran?
Gue mau banget. Tapi enggak bisa nyanyi. Gue pengen banget jago nyanyi kayak peserta Indonesian Idol dan bisa menghibur.

Ya gue sih sadar diri. Cukup cover lagu orang saja.

Kenapa enggak diseriusin untuk jadi penyanyi jika bisa cover lagu orang?
Enggak bisa. Gue udah coba. Mentok suaranya. Masalahnya itu, gue ngerti banget musik. Semua teorinya gue paham. Mulai dari dinamika, tempo, sama suara.

Makanya gue tahu kapabilitas suara gue. Teknik gue ini jelek, enggak bagus, mending cover atau karaoke saja. Cukup. Ha-ha.

Pernah les vokal?
Enggak. Cuma nyanyi saja sih dan gue memang lebih suka di belakang layar. Produksi konten dan sebagainya.

Urus iklan atau edit konten bersama tim. Gue suka produksi konten dan memang ingin terlibat jauh.

Sibuk ya…
Memang enggak bisa gue tinggal. Gue ini anak behind the scene sebenarnya. Bikin konten iklan, urusin sales, lobi dan meeting dengan klien. Itu semua gue lakuin.

Ada berapa orang tim inti Anda untuk mengelola itu semua?
Tim inti itu ada enam orang. Termasuk gue.

Ikut kerja?
Hei. Gue ini kalau enggak di panggung ya berubah jadi editor, sales , marketing, atau produser. Itu gue yang bukan Boy William.

Kalau di atas panggung, ada lampu, jadi spotlight, itu baru Boynya keluar. Kalau di bawah panggung, ya gue ini pedagang.

Pedagang yang tahu dari hulu sampai hilir ya…
Harus. Gue itu dasarnya suka jualan. Kalau jualan cangkir, maka gue harus tahu cara bikin cangkirnya gimana, materialnya apa, dan kualitasnya.

Kalau buat konten, ya otomatis gue juga harus bisa ngedit video--agar bisa menjelaskan ke klien dengan oke.

Butuh berapa lama Nebeng Boy, acara Anda di YouTube, bisa dikenal banyak orang?
Gue inget banget. Empat episode awal itu enggak ada yang nonton. Sedikit banget. Terus, baru deh pelan-pelan naik--karena kerja keras tim.

Nama besar Anda turut andil untuk naikin trafik?
Enggak ya. Kadang, pakai nama gue juga enggak ngefek. He-he. Yang dibutuhkan itu konsistensi.

Bisa dibilang, tim gue ini struggle banget.

Nebeng Boy ini format yang sama dengan milik James Corden’s ya?
Iya. Persis. Talkshow itu kan hampir sama semua. Yang membuat beda itu pembawaan orangnya.

Setelah sekian episode, gue gak menyangka sekelas Presiden Jokowi bisa masuk di acara gue.

Bagaimana melakukan lobi-lobi terhadap orang dengan profil tinggi?
I just talk to people. Mau itu sama high atau low profile, sama saja. Siapa tahu dari ngobrol itu bisa memperluas networking.

Saat lobi Presiden, kita kirim proposal berkali-kali dan ditolak. Enggak langsung diterima. Saat bisa diterima, ya gue seneng banget. Gila.

Next, siapa tokoh yang ingin banget Anda wawancara?
Gue sih maunya ke luar negeri. Kalau bisa, wawancara Obama atau Elon Musk, atau si James Cordon. That’s will be so legendary.