Lokadata.ID

Investigasi terhadap Alibaba, awal dari nasionalisasi?

Pendiri Alibaba Jack Ma di Bali  (12/10/2018).
Pendiri Alibaba Jack Ma di Bali (12/10/2018). M Agung Rajasa / ANTARA FOTO

Setelah pendiri Alibaba, Jack Ma, raib bak ditelan bumi sejak Oktober 2020, penguasa di Cina mulai melangkah lebih jauh dengan menggelar penyelidikan antitrust ke raksasa e-commerce itu.

Bahkan, menurut laporan IB Times Selasa (12/1/2021), pemerintah Cina bertekad menasionalisasi Alibaba, perusahaan milik miliader Jack Ma. Laman itu mengutip Song Qing, praktisi industri keuangan internet, yang menyebut bahwa investigasi yang dilakukan pemerintah sejak akhir tahun lalu adalah rangkaian dari rencana Cina untuk menasionalisasi Grup Ant dan Alibaba.

Menurut Song Qing, rencana untuk menasionalisasi 2 perusahaan itu baru dimulai seminggu lalu, dan perintahnya langsung dari pusat. “Pasti akan ada hasilnya, sekarang setelah mereka memulai penyelidikan. Ini mungkin datang dari level tertinggi,” katanya kepada Radio Free Asia.

Sebelumnya, seperti dikutip Asia Times Financial, surat kabar People's Daily yang merupakan corong resmi Partai Komunis Cina, menyebut bahwa program anti-monopoli pemerintah telah mengarah pada perkembangan yang lebih baik. Surat kabar itu menulis, gerakan anti-monopoli ini harus diperkuat untuk mencegah ekspansi modal yang tidak teratur. “Tak ada lagi era Jack Ma mulai sekarang.”

Investor cemas

Melihat perkembangan Alibaba Grup, termasuk raibnya Jack Ma, sejumlah investor penting pun mengingatkan pemerintah Cina untuk berhati-hati. Kasus Jack Ma dan Alibaba yang tiba-tiba dicaplok pemerintah, akan menjadi preseden buruk sehingga tidak akan ada lagi yang mau berinvestasi di saham Cina. Investor terkemuka Carson Block mengatakan absennya Jack Ma dari hadapan publik baru salah satu alasan mengapa ekuitas Cina tidak dapat diinvestasikan, dan masih banyak lagi alasan lain.

Tindakan keras Big Tech Beijing kepada Alibaba Group ini juga telah membuat rival Ant Group, JD Digits khawatir dan buru-buru melakukan restrukturisasi. JD Digits berubah nama menjadi JD Technology dengan tambahan kecerdasan buatan dan bisnis cloud JD.com. Langkah itu dilakukan setelah Beijing meningkatkan pengawasan terhadap kredit mikro online, pasca-pembatalan IPO untuk raksasa fintech Ant Group.

CEO JD Technology, Li Yayun, mengakui bahwa restrukturisasi dilakukan menyusul penangguhan IPO Ant Group yang dilakukan Beijing di menit-menit terakhir. Sebelum restrukturisasi, JD Digits juga telah mengajukan IPO di pasar saham domestik Cina.

Analis mengatakan, reposisi bisnis di JD Digits itu menunjukkan bagaimana raksasa teknologi Cina cemas dan berjuang keras untuk beradaptasi dengan peraturan baru. “JD mungkin merasakan banyak tekanan regulasi, ” kata Jason Zhao, Managing Partner di CGF Capital, kepada South China Morning Post, Senin.

Alibaba dikerdilkan?

Empat tahun lalu, dana pasar uang utama Ant Group melesat ke puncak dengan total aset yang dikelola mencapai lebih dari AS$260 miliar. Saat itu, banyak bank milik pemerintah Cina dan regulatornya mulai gelisah.

Dalam serangkaian telepon dan pertemuan dengan Jack Ma, para eksekutif bank, dan pejabat regulasi menuntut agar dana Yu'E Bao mereka dikendalikan. “Yu’E Bao menarik banyak uang dari bank,” kata salah seorang yang mengetahui diskusi tersebut seperti dilaporkan Financial Times. Dalam percakapan yang cukup tegang itu, pengelola bank disebut sangat khawatir dengan dampak likuiditas dari aktivitas Ant. Karenanya, mereka ingin Ant mengambil langkah-langkah untuk meminimalkan dampak tersebut.

Pada akhirnya, Jack Ma mengalah dan Yu'E Bao membatasi jumlah orang yang dapat menyetor. Sejak pertemuan itu, antara Maret-Desember 2018, dana kelolaan Ant Group anjlok 30 persen, menjadi AS$168 miliar. Namun, nilai dana kelolaan kembali meningkat menjadi AS$183 miliar pada September 2020, tepat sebulan sebelum Jack Ma menghilang dari publik.

Perang dingin antara Jack Ma dan perbankan nasional itu terbukti menjadi awal dari konfrontasi yang kini jauh lebih besar. Partai Komunis Cina dan Presiden Xi Jinping bukan hanya melawan Ant tetapi juga Alibaba, grup e-commerce yang didirikan Jack Ma.

Pada 24 Desember 2020, regulator pasar Cina mengumumkan dimulainya penyelidikan antitrust ke Alibaba, lalu mengirim penyelidik ke kantor pusatnya di kota Hangzhou, Cina timur, kampung halaman Jack Ma. Pengumuman itu datang hanya dua minggu setelah partai mengatakan akan membereskan monopoli bisnis, untuk mencegah "ekspansi modal yang tidak teratur".

Sebelumnya, November 2020, regulator keuangan secara dramatis juga telah membatalkan penawaran umum perdana (IPO) Ant Group yang senilai AS$37 miliar. Penawaran saham perdana itu sejatinya digadang-gadang akan menjadi yang terbesar di dunia.

Langkah-langkah pemerintah Cina itu tak pelak memberikan tekanan besar pada kerajaan bisnis Ma. Padahal, bisnis ini telah menjadi pusat fungsi ekonomi online perintis Cina. Alipay misalnya, telah digunakan 700 juta orang - setengah dari populasi Cina. Sebanyak 80 juta pedagang juga memproses pembayaran senilai RMB118 triliun (AS$18,2 triliun) pada tahun keuangan terakhir grup.

Sejak pertikaian Jack Ma dengan pemerintah dan IPO Ant batal, saham Alibaba telah anjlok sekitar 30 persen. Tentu saja, ini langsung membuat kekayaan bersih Ma, yang tidak terlihat di depan umum sejak saat itu, merosot. Catatan Bloomberg, selama periode itu, kekayaan mantan guru Bahasa Inggris ini menurun dari AS$62 miliar menjadi AS$49 miliar. Posisi orang terkaya di Cina pun kini telah tergantikan taipan air kemasan, Zhong Shanshan.

Jika Ant dan Alibaba berhasil dilumpuhkan oleh regulator, dan pendirinya secara pribadi menjadi target penyelidik, maka hal ini akan menjadi momen penting yang mengubah hubungan partai dengan sektor swasta. Ironisnya, Ma adalah anggota partai itu sendiri.

Sejak Deng Xiaoping meluncurkan era “reformasi dan pembukaan” 40 tahun lalu, partai ini semakin bergantung pada perusahaan sektor swasta. Sektor swasta menjadi tumpuan pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja dan pendapatan pajak. Tetapi fiksasi partai dengan kendali, terutama sejak Xi berkuasa hampir satu dekade lalu, juga memicu tindakan keras berkala di sektor tersebut dan pengusaha terkemuka.

Namun masih ada kemungkinan lain. Investigasi terhadap Ant dan Alibaba mungkin saja akan berakhir mirip dengan penyelidikan bisnis fintech di AS dan UE. Jika kemungkinan kedua yang terjadi, maka dua perusahaan andalan Ma akan tetap menjadi juara yang tangguh. Meski begitu, pesan politik yang kuat telah terkirim dari serangkaian tekanan kepada kerajaan bisnis Jack Ma ini.