Lokadata.ID

Cerita Salman Aristo di balik penulisan naskah Bukaan 8

Salman Aristo menggunakan pengalaman saat menunggui kelahiran anak pertamanya sebagai bahan dalam menulis naskah film Bukaan 8.
Salman Aristo menggunakan pengalaman saat menunggui kelahiran anak pertamanya sebagai bahan dalam menulis naskah film Bukaan 8. Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Pasangan suami istri baru, Alam dan Mia, gelisah menantikan kelahiran anak pertama. Kisah tersebut jadi ide dasar film Bukaan 8 (Visinema Pictures) yang naskahnya ditulis Salman Aristo (40).

Kepada Beritagar.id, pemenang Piala Citra di kategori penulis skenario adaptasi terbaik Festival Film Indonesia 2016 itu mengakui pengerjaan naskah Bukaan 8 rampung dalam lima bulan.

"Bisa dibilang ini adalah naskah film paling spontan yang pernah gue kerjakan. Spontanitas itu yang terus gue jaga, termasuk saat merangkul semua hal yang terjadi di sekeliling sebagai bahan mengembangkan ide dasar cerita dalam film ini," ujar Salman usai pemutaran Bukaan 8 untuk insan pers di Alegro f-KTV, Epicentrum Walk, Jakarta Selatan (20/2/2017).

Waktu lima bulan untuk merampungkan skrip Bukaan 8, bagi Salman merupakan ukuran paling cepat.

"Hingga sekarang, film yang paling lama gue tulis naskahnya adalah Sang Penari (2011). Butuh 2,5 tahun menyelesaikannya," ungkapnya.

Perihal kehadiran sedikit unsur politis yang menghiasi Bukaan 8, Salman mengakui hal tersebut muncul belakangan sebagai konsekuensi logis dari karakter Alam yang diceritakan menjadi buzzer di media sosial.

Sejak awal dipercayakan menggarap naskah film ini, lanjut Salman, karakter dengan segala problematikanya jadi unsur utama yang menggerakkan cerita.

Chicco Jerikho, pemeran tokoh Alam sekaligus produser bersama Anggia Kharisma, mengaku ide cerita datang saat dirinya mengobrol dengan sutradara Angga Dwimas Sasongko yang ingin mencoba genre film lain.

Angga selama ini memang lekat dengan film bergenre drama, mulai sejak kemunculan perdananya lewat Foto, Kotak, dan Jendela (2006), hingga berlanjut pada Cahaya dari Timur: Beta Maluku (2014) yang memenangi gelar film panjang terbaik di FFI, ekranisasi Filosofi Kopi the Movie (2015), dan Surat dari Praha (2016), semua berkategori drama.

Lewat Bukaan 8, suami Anggia itu untuk pertama kalinya berkesempatan menyutradarai film bergenre komedi.

"Waktu itu gue dan Angga lagi mengobrol di Kedai Filosofi Kopi tentang ide dasar film. Kemudian Salman datang dan merasa tertarik. Kami salaman, kemudian jadilah naskah film ini," ujar Chicco (32).

Meskipun proses pengerjaannya sangat cair dan lancar, Bukaan 8 tetap saja menghadirkan tantangan baru untuk Salman. Pasalnya mayoritas setting alias tempat kejadian cerita berlangsung di dalam ruangan.

"Setting itu selalu jadi nyawa dalam film, terutama bagi penulis naskah, bukan hanya sutradara, karena ada yang namanya dunia cerita. Kalau kita membicarakan itu, pasti akhirnya lari ke setting," lanjut alumni Universitas Padjajaran Bandung dari Jurusan Jurnalistik itu.

Tantangan berikutnya yang muncul imbas dari penggunaan setting dalam ruangan adalah: bagaimana caranya film yang hampir 80 persen terjadi di tempat yang sama tidak membuat penonton bosan.

Cara yang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah menghadirkan sosok-sosok lain sebagai pendamping dua tokoh utama dengan beragam karakter unik.

Selain Chicco dan Lala Karmela yang berlakon sebagai Mia, tokoh lainnnya adalah ayah Mia (diperankan Tyo Pakusadewo) yang menderita penyakit stroke, ceriwisnya ibu Mia (Sarah Sechan), pembawaan kalem tapi tegas ibu Alam (Dayu Wijanto), hingga sabarnya dokter (Maruli Tampubolon) dan suster (Melissa Karim) merawat Mia.

"Tujuan menghadirkan tokoh-tokoh itu agar dinamika film jadi tinggi sehingga plot tetap menarik, lancar, dan tidak lambat saat dinikmati," jelas Salman.

Untuk menggali segala potensi konflik yang bakal terjadi di rumah sakit dan apa yang bisa tergali dari tempat tersebut, Salman juga melakukan riset.

Beruntung bagi Salman dan juga Angga, pengalaman menemani istri mereka saat melahirkan di rumah sakit membuat riset tidak terlampau berat dan menyita banyak waktu.

"Film ini sangat personal dan terasa dekat dengan saya. Menyutradarainya ibarat membawa saya pulang ke rumah setelah selama ini bepergian ke Maluku, Praha, dan mengubek-ubek kebun kopi," jelas Angga.

Bukaan 8 yang menandai kolaborasi pertama Visinema dengan Chanex Ridhall Pictures dan Kaninga Pictures tayang di jaringan bioskop seluruh Indonesia mulai 23 Februari 2017.

BUKAAN 8 – OFFICIAL TRAILER (23 FEBRUARI 2017 DI BIOSKOP)