Lokadata.ID

Cina dan Belanda gairahkan bisnis kurir

Investor Cina dan Belanda memimpin investasi bisnis kurir di Indonesia.
Investor Cina dan Belanda memimpin investasi bisnis kurir di Indonesia. Fadhlan Aulia / Lokadata.id

Industri logistik merupakan sektor usaha yang sangat luas. Cakupannya bukan sekadar urusan transportasi pengiriman barang dan pergudangan, tapi juga terbagi dalam banyak segmen yang berbeda.

Untuk perusahaan-perusahaan yang menangani paket kecil yang dikirim langsung ke konsumen (biasa disebut sebagai logistik ekspres), umumnya berkumpul pada Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia atau Asperindo, yang berada di bawah “naungan” Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Sementara itu, kelompok perusahaan paket besar, yang melayani pengiriman barang dari dan ke gudang atau pabrik, berkumpul di Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia atau ALFI, yang berada di bawah binaan Kementerian Perhubungan.

Di tengah krisis, secara umum kinerja perusahaan logistik ikut terpukul – tapi tidak demikian dengan industri logistik ekspres yang tetap bergairah.

BPS mencatat, pada Juni 2020, sub sektor pergudangan serta jasa penunjang transportasi yang merupakan indikator industri logistik mengalami kontraksi, yaitu tumbuh minus 38,69 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year). Nilai ekonominya pun turun dari Rp15,6 triliun menjadi Rp11,6 triliun.

Tekanan pada kinerja logistik tersebut, terutama akibat menurunnya lalu lintas pengiriman barang yang sepanjang tahun ini juga mengalami kontraksi. Pada Januari-Juli 2020, total barang yang dibongkar di pelabuhan utama dalam negeri rata-rata tumbuh minus 31,87 persen setiap bulan jika dibandingkan dengan kinerja tahun sebelumnya. Sedangkan untuk barang yang dimuat di pelabuhan utama terkontraksi 19,34 persen.

Jumlah barang yang dimuat di bandara utama juga tumbuh minus 24,02 persen pada periode tersebut. Hanya barang melalui transportasi kereta api yang terkontraksi paling kecil, yaitu hanya 3,86 persen.

Situasi yang sedang lesu, rupanya tak menyurutkan para penanam modal untuk membenamkan dananya di industri logistik: sektor pos dan kurir.

Gairah investasi di bidang logistik lebih banyak dipicu oleh penanaman modal asing (PMA) yang jauh melampaui penanaman modal dalam negeri. Secara keseluruhan pada 2016 - 2019, proporsi PMA mencapai 95,79 persen dari total investasi di sektor pos dan kurir dan menjadi 93,54 persen pada kuartal II-2020.

Dari sisi negara, peminat terbesar berasal dari Cina, dengan total realisasi investasi AS$57 juta atau 58 persen dari total investasi subsektor pos dan kurir. Kemudian, disusul oleh Belanda berkontribusi 39 persen, dan Hong Kong dua persen, serta Singapura satu persen.

Catatan Redaksi: artikel ini merupakan tulisan kedua dari tiga tulisan Lokadata Report tentang industri logistik. Silakan klik tulisan pertama dan ketiga untuk mengikuti bagian lainnya.