Lokadata.ID
Daeng Azis: Tidak ada preman di Kalijodo
Ilustrasi Daeng Azis. Kiagus Aulianshah/Beritagar

Daeng Azis: Tidak ada preman di Kalijodo

Masyarakat Kalijodo sadar hukum dan punya identitas. Ia juga lebih senang disebut mantan penjahat, bukan preman.

Tokoh masyarakat nan disegani di Kalijodo, Abdul Azis (48) kerap jadi sorotan media sepekan terakhir. Ia jadi incaran awak media, menyusul rencana pembongkaran Kalijodo --satu kawasan yang masuk di wilayah Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, dan Kecamatan Tambora, Jakarta Barat.

Azis disebut-sebut juga sebagai penguasa --kadang juga preman-- Kalijodo. Di Kalijodo, warga menyapa Azis dengan beragam gelar, seperti "Daeng" (abang), "Karaeng" (penguasa) dan "Puang" (tuan). Semua gelar itu merupakan panggilan hormat dalam kultur Sulawesi Selatan.

Dia memang lahir di Makassar, ibu kota Sulawesi Selatan. Di Kalijodo, pria berdarah Bugis itu juga dikelilingi orang-orang kepercayaan dengan latar kultural yang sama.

Azis biasa berkumpul dengan warga dan orang kepercayaannya di Intan Bar, salah satu tempat hiburan termegah di Kalijodo. Letaknya sedikit menjurus ke dalam dari Jalan Kepanduan II.

Bila sore sedang cerah, lahan parkir Intan Bar yang jembar bisa disulap menjadi lapangan sepak takraw. Azis pun sering unjuk kebolehan dalam olahraga itu di sana.

Dalam beberapa hari terakhir, lokasi itu sering didatangi wartawan, demi mencari celah mewawancarai Azis. Pria bersorot mata tajam itu memang irit bicara. Ia bahkan bisa menghentikan wawancara bila suasana hatinya sedang tak enak.

Kami mesti tiga kali bertemu dengannya guna meminta waktu wawancara. "Enggak ada Daeng Azis di sini, belum tahu kapan baliknya," kata Azis. Jawaban macam itu dua kali kami dapat saat menyambangi Azis di teras Intan Bar, Jumat (12/2).

Senin (15/2), pukul 15.00 WIB, Beritagar.id kembali mendatangi Intan Bar. Melihat kami hendak mendekat, seorang anak buah Azis berbadan besar memberi kode pada kami untuk menghentikan langkah. "Karaeng baru sampai, enggak usah wawancara," kata dia.

Sekitar satu jam setelahnya, kami kembali menuju ke teras Intan Bar. Kode serupa kembali ditunjukkan anak buah Azis. Namun seketika Azis mengirim lambaian tanda memanggil. "Sini-sini, dari mana ini?" sambut dia.

Kami memperkenalkan diri untuk ketiga kalinya. Senyum Azis mengembang, usai mengetahui salah seorang dari kami berasal dari Sulawesi. Ia langsung menawari kopi susu, yang disajikan dengan gelas bir.

Pada tangan, dan lehernya melingkar gelang serta kalung emas. Hari itu, Azis mengenakan setelan batik berwarna merah, celana kain, sepatu pantofel putih, dan topi bundar bak koboi. Dia baru saja pulang dari Komnas HAM, melaporkan keluhan warga atas rencana pembongkaran Kalijodo.

Selama wawancara, Azis ditemani Vincent, salah satu orang kepercayaannya. Sesekali, Aziz meminta Vincent memberikan komentar atas pertanyaan kami. Berikut petikan wawancara Muammar Fikrie dan M. Nur Rochmi dari Beritagar.id bersama tokoh yang terdata sebagai warga RT 01 RW 05, Kelurahan Penjagalan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara itu.

Abdul Azis, atau yang biasa disapa Daeng Azis, menerima Beritagar.id di teras Intan Bar, Senin (15/2).
Abdul Azis, atau yang biasa disapa Daeng Azis, menerima Beritagar.id di teras Intan Bar, Senin (15/2). M. Nur Rochmi / Beritagar.id

Hari ini (Senin, 15/2) Anda mengadu ke Komnas HAM. Apa yang Anda adukan?
Saya dipercaya warga untuk melapor ke Komnas HAM. Jadi tadi, saya mendampingi Ketua RW 05, Pak Kunarso. Kami sampaikan, bahwa masyarakat Kalijodo membutuhkan keadilan agar disamakan kedudukannya dengan yang lain.

Keadilan dan kedudukan apa yang dimaksud?
Jadi begini. Masyarakat mempertanyakan kenapa hanya Kalijodo yang dibongkar. Sedangkan Taman Anggrek, Teluk Intan, dan Season City dibiarkan. Padahal itu statusnya juga Ruang Terbuka Hijau. Di mana keadilan untuk masyarakat Kalijodo? Ini yang harus disamakan keadilannya di mata hukum.

Sudah berapa lama sih warga ini menetap di Kalijodo?
Kami di sini sudah turun temurun. Saya sendiri sudah 30 tahun. Yang lain juga sudah puluhan tahun.

Apakah warga yang tinggal di sini, punya KTP semua?
Saya punya. Masyarakat juga punya. Bisa lihat juga ada tiga masjid di sini. Ada juga Posyandu, gereja, dan PAUD. Ini kan berarti kami sudah lama di sini, tidak liar, dan punya KTP. Masyarakat di sini juga bayar pajak. Kami bayar terus, tertib. Lurah Penjagalan tahu itu, coba tanyakan ke dia.

Azis meminta Vincent untuk mengeluarkan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT). Surat itu mengacu pada tagihan pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) 2015. Tagihan sebesar Rp16.665.026, telah dibayarkan Azis pada 14 April 2015. Ia juga menunjukkan Surat Pernyataan Menggarap Tanah Negara, yang diteken Lurah Penjagalan, Alamsyah (6 Oktober 2014).

Beritagar.id menerima kopi Surat Pernyataan Menggarap Tanah Negara, dan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang.
Beritagar.id menerima kopi Surat Pernyataan Menggarap Tanah Negara, dan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang. Bismo Agung / Beritagar.id

Pemprov DKI berencana membongkar bangunan yang ada di sini. Apakah sudah ada sosialisasi?
Tidak pernah ada komunikasi dengan pemerintah. Kalau sosialisasi itu kan kita kumpul semua, dengar pandangan masyarakat.

Ada surat ini yang ditempel tiba-tiba, kemarin (14/2). Ini ditempel saat masyarakat Kalijodo sedang tidur, masih 8.30. Mereka datang tempel ke sini, dengan polisi juga. Jadi jangan sampai surat ini dianggap sebagai sosialisasi oleh pemerintah. Padahal selama ini belum ada komunikasi. Akhirnya, surat-surat itu habis dirobek sama masyarakat.

Surat yang dimaksud Azis diteken oleh Wali Kota Jakarta Utara, Rustam Effendi. Isinya semacam pemberitahuan seputar penataan kawasan Kalijodo. Surat itu ditempelkan di dinding-dinding bangunan di Kalijodo, Minggu pagi (14/2).

Wali Kota Jakarta Utara, Rustam Effendi, bilang sudah ada sosialisasi di sini?
Belum ada. Tidak ada.

Bagaimana aktivitas di sini, setelah muncul kabar rencana pembongkaran?
Sebenarnya, di Kalijodo orang tenang-tenang saja kok. Karena, kalau misalnya benar ada pembongkaran, harusnya ada hubungan komunikasi masyarakat dengan struktur pemerintah. Tapi ini tidak pernah ada. Jadi masyarakat tenang-tenang saja, kita anggap saja yang di televisi (kabar soal pembongkaran) itu seperti tidak pernah ada.

Apa langkah Anda dan warga terhadap rencana pembongkaran ini?
Sekarang masyarakat melangkah untuk mencari perlindungan hukum. Tetapi kalau ada bukti yang dianggap keliru oleh masyarakat, maka pasti akan melakukan upaya hukum.

Kalau Ahok datang ke sini kira-kira apa yang mau Anda sampaikan?
Selamat datang Pak Ahok. Inilah tempat usaha kita, tempat masyarakat mencari nafkah.

Kalau prostitusi ini sebenarnya sudah berapa lama?
Jadi begini. Kalau kita bicara prostitusi dibandingkan saja. Daripada itu yang di pinggir-pinggir jalan. Coba kalau malam pergi saja ke Pesing. Banyak itu di sana di pinggir-pinggir jalan, di pinggir kali itu, pasang tenda. Di tempat lain, ada juga di pinggir rel kereta. Coba dibandingkan kerapiannya dengan di sini.

Vincent menambahkan: Kalijodo ini semestinya diakui oleh pemerintah. Di sini sudah tertib, tinggal bagaimana pemerintah mengawasi. Daripada itu di pinggir jalan macam di Mangga Besar, atau Pesing. Di sini kan semua terbantukan, termasuk kondisi ekonomi warga sekitar. Mulai dari tukang cuci, sampai warung nasi, semua hidup di sini.

Berapa banyak uang yang beredar tiap malam di sini?
Kalau perputaran ekonomi saya tidak bisa bicarakan. Karena saya ini tidak ada laporannya. Itu masing-masing saja.

Berapa orang yang hidup dari bisnis di Kalijodo?
Kalau kita bicaranya (jumlah) orang, mungkin ada itu kurang lebih 6.000 - 7.000 orang di sini. Itu bergabung semua Kalijodo yang terancam bongkaran, antara wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Itu tidak hanya warga di sini, tapi juga orang yang mencari hidup di sini.

Kabarnya di sini juga menjadi sarang preman?
Jadi yang disiarkan di televisi-televisi itu pendapat sepihak. Kalau misalnya di sini sarang preman, mari kita sama-sama meng-kroscek (baca: mengecek kembali) . Saya juga mau tahu preman itu warnanya seperti apa?

Jadi tidak ada preman di Kalijodo. Tapi kalau bisa dibilang ada yaitu pensiunan penjahat. (tertawa)

Kalau preman itu orang yang tidak punya identitas. Kalau punya identitas, tapi menakut-nakuti orang itu penjahat. Di sini semua punya identitas. Masyarakat Kalijodo sadar hukum, apalagi kita bayar pajak.

Selain prostitusi di sini juga ada perjudian.....
Jika memang ada yang bilang Kalijodo itu tempat perjudian, suruh bawa orangnya ke sini. Saya mau tanya kapan mereka melihat perjudian? Dan coba tunjukkan? Saya siap jadi tumbal hukum, dan bertanggung jawab bila memang ada perjudian di sini.

Kabarnya, Anda pernah menodongkan pistol ke mantan Kapolsek Penjaringan yang sekarang menjadi Direskrim Polda Metro Jaya Kombes Krishna Murti?
Kalau dibilang, saya todong Pak Krishna, itu salah. Waktu itu, saya belum kenal dia. Kalau dibilang, saya menodong Kapolsek, itu juga salah. Karena Pak Krishna tidak saya kenal, dan tidak memakai pakaian polisi.

Seandainya, saya sudah tahu itu Pak Krishna, dan dia pakai pakaian polisi. Maka tepat kalau dibilang saya menodong Pak Krishna sebagai Kapolsek. Tapi kan tidak begitu.

Bagaimana cerita detail peristiwa itu?
Pada saat itu, sepupu saya dibacok, di leher dan hampir putus. Saya masih tidur, dibangunin waktu itu. Langsung saya menuju ke TKP (Tempat Kejadian Perkara). Setelah di TKP, ada salah satu dari pihak lawan saya, yang saya kenal bernama Syahrul. Dia bersama-sama dengan seseorang. Belakangan saya tahu itu Kapolsek, Pak Krishna. Saya kira dia lawan karena sama-sama (dengan Syahrul). Untung enggak kutusuk. (tertawa)