Lokadata.ID

Dampak Covid-19, sejumlah restoran akui peningkatan pada layanan pesan antar

Ilustrasi makanan pesan antar
Ilustrasi makanan pesan antar Freepik / Freepik

Sejumlah restoran menyebutkan bahwa terjadi peningkatan transaksi di layanan pesan antar. Peningkatan tersebut selaras dengan implementasi swakarantina dan work from home (WFH) guna mencegah penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19).

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) Eddy Susanto mengatakan, mayoritas pendapatan sejumlah restoran kini berasal dari layanan pesan antar. Meski demikian, seperti disampaikan Eddy, pendapatan dari layanan itu tidak bisa disamakan dengan total pendapatan yang telah turun drastis akibat merosotnya jumlah orang yang datang untuk makan di tempat.

“Kalau bisnisnya turun besar sekali. Jadi belum bisa menutupi dari orang yang datang makan di restoran, mungkin hampir 50 persen turun. Jadi dari total sales-nya turun 50 persen. Ya sampai sekarang pendapatan 50 persen itu dari pesan antar,” kata Eddy kepada Lokadata.id, Senin (6/4/2020).

Eddy menyampaikan, peningkatan layanan pesan antar itu didominasi dari aplikasi mobile untuk memesan makanan/minuman. “Banyaknya dengan Grab dengan Gojek, lebih mudah untuk mereka. Kalau punya distribusi sediri akan susah,” ujarnya.

Pada kesempatan berbeda, pengakuan serupa juga disampaikan oleh Co-Founder Kopi Kenangan James Prananto. Dia mengatakan, perusahaannya mengalami kenaikan frekuensi layanan pesan-antar yang menggunakan jasa ojek online.

“Untuk frekuensi delivery (ojol) memang jadi naik sekali, sekitar 40 sampai 50 persen,” kata James melalui pesan singkat kepada Lokadata.id.

Mengenai penurunan pendapatan, Eddy mengatakan bahwa masa WFH ini menjadi penyebab utama. Menurutnya, masyarakat kini merasa lebih nyaman untuk memasak di rumah dan enggan untuk ke luar rumah guna membatasi kontak fisik dan menghindari resiko tertular korona.

“Sekarang orang lebih prefer di rumah, beli bahan untuk dimasak dirumah. Kalau yang rumah tangga punya anak kecil ya harus masak, enggak mungkin dia beli makanan terus di luar rumah ya,” ujarnya.

Kinerja industri makin tertekan

Hal serupa juga disampaikan oleh Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S Luqman. Menurutnya, instruksi pemerintah tentang pembatasan sosial masyarakat berdampak besar pada industri makanan dan minuman.

“Memang pembatasan sosial ini berdampak ke industri makanan dan minuman, terutama untuk hotel, restoran dan restoran yang berada dalam mal. Income turun 70-80 persen. Penurunan ini terjadi pada industri yang tidak bisa melayani secara online,” ungkapnya pada Lokadata.id, Senin (6/4/2020).

Kurangnya konsumen restoran dan banyaknya restoran yang tutup memengaruhi pesanan ke produsen pengolahan makanan. Adhi mengungkapkan, banyak distributor dan toko ritel membatalkan pesanannya, sehingga omzet pabrik olah makanan menurun.

“Survei GAPMMI saat ini, karena baru beberapa hari melakukan survei, 60 persen dari total 64 perusahaan anggota Gapmmi mengalami penurunan omzet hingga 30 persen,” tuturnya.

Adhi pun menyarankan, untuk menyiasati turunnya omzet, para pengusaha restoran bisa saja bergabung dengan pihak ketiga, yakni penyelia jasa pesan antar.

Sementara itu menurut Eddy, sebelum adanya pandemi Covid-19 industri telah mengalami penurunan pendapatan akibat lesunya ekonomi.

“Memang restoran dua tahun lalu sudah menunjukkan penurunan karena persaingan banyak dan mungkin ekonomi agak sulit. Sebelum wabah korona ini pendapatan sudah turun 20 sampai 30 persen,” paparnya.

Saat ini para pengusaha makanan dan minuman yang memiliki gerai di mal pun terpaksa berpasrah diri jika gedung tempatnya usaha harus ditutup karena korona. Pengurangan karywan pun tak jarang harus dilakukan.

“Kalau yang di mal tutup mau gimana? Ya terpaksa restoran harus tutup. Tapi ada juga yang buka hanya untuk delivery, jadi enggak banyak orang (karyawan) kan. Memang cukup memprihatinkan dengan adanya korona ini,” ujarnya.