Lokadata.ID

Dari Ikea hingga Uniqlo ramai-ramai buy back produk, demi lingkungan

Toko Circilar Hub Ikea di Korea
Toko Circilar Hub Ikea di Korea / Ikea.com

Setelah lama ditunggu-tunggu, Ikea akhirnya meluncurkan program pembelian dan penjualan kembali furnitur lawas dari konsumennya. Skema pembelian kembali ini sekarang telah tersedia pada seluruh toko Ikea di Inggris, dan segera diluncurkan di 26 negara lain.

Program buy back merupakan upaya Ikea demi mengurangi jumlah produk yang dibuang ke tempat sampah, sebagai bagian untuk mencapai ‘iklim positif’ pada 2030.

"Saya tidak mengatakan bahwa kami memiliki semua jawaban (untuk masalah limbah), tetapi kami belajar bahwa ini bisa menjadi sesuatu yang bernilai nyata bagi kami dan pelanggan kami," tutur Hege Saebjornsen, pakar lingkungan dan keberlanjutan Ikea di Inggris dan Irlandia, seperti dikutip BBC, Rabu (5/5/2021).

Uji coba program di beberapa kota dinilai berhasil. Pelanggan akan mendapatkan voucer belanja tanpa batas waktu, jika barang lawas mereka dikembalikan dalam kondisi baik. Pelanggan yang ingin menjual kembali furnitur ke Ikea.co.uk, sebelumnya harus mengisi formulir secara daring. Di sana, akan disampaikan harga penawaran awal. Kemudian, jika pelanggan setuju, mereka tinggal membawa barang ke toko.

Produk yang memenuhi syarat untuk dibeli kembali termasuk meja rias, lemari, rak buku, meja kecil, meja makan, dan meja lainnya. Produk bekas yang dikembalikan dalam kondisi tanpa goresan akan dibeli seharga 50 persen dari harga aslinya, sedangkan barang dengan goresan kecil akan dibeli seharga 40 persen. Adapun furnitur yang digunakan dengan baik namun ada beberapa goresan, akan dibeli dengan harga 30 persen dari harga semula.

Barang-barang tersebut akan dijual di area toko terpisah, yang disebut Circular Hub. Selain itu, Ikea juga telah mengumumkan kemitraan baru dengan Gumtree untuk menjual produk bekas melalui pasar daring.

Salah satu kendala dalam program buy back ini adalah bahwa furnitur harus dikirim dalam keadaan utuh. Tentu menyulitkan orang-orang yang ingin mengembalikan furnitur berukuran besar. Saat ini, Ikea sedang mencari cara agar pelanggan dapat membongkar produk dengan mudah, dan membawanya ke toko tanpa repot.

Industri hijau

Raksasa ritel Swedia ini telah mengumumkan keinginannya untuk sepenuhnya menghilangkan limbah melalui penggunaan bahan berkelanjutan pada tahun 2030. Ingka Group, perusahaan induk Ikea, baru-baru ini bahkan mengumumkan telah menginvestasikan €4 miliar (sekitar Rp69,3 triliun) untuk energi terbarukan.

Menurut Global News Wire, Ikea juga menjalankan eksperimen lain termasuk daur ulang tekstil dan uji coba opsi untuk menyewakan meja dan kursi kantor kepada pelanggan bisnis di Swiss.

Saebjornsen, mantan manajer keberlanjutan retail yang sekarang menjadi penasihat Ikea untuk KTT iklim COP26, mengaku belum tahu persis bagaimana respons konsumen akan program hijau ini. Tapi, berdasarkan hasil uji coba di Sydney, Lisbon, Edinburgh dan Glasgow, program ini diprediksi akan menangguk sukses. "Benar-benar berhasil. Itu mengajari kami banyak hal tentang minat untuk ini dan bagaimana orang berperilaku.”

Sementara itu, Peter Jelkeby, manajer ritel Ikea Inggris dan Irlandia, mengatakan program pembelian kembali ini diharapkan membuat konsumsi sirkular menjadi arus utama.

“Saat kami bergerak menuju iklim positif pada 2030, kami akan terus mengambil langkah berani untuk memastikan semua produk akan dibuat dari bahan yang dapat diperbarui dan didaur ulang. Produk kami juga dirancang untuk digunakan kembali, diperbaharui, diproduksi ulang atau didaur ulang, mengikuti prinsip-prinsip desain keberlanjutan,” katanya kepada The Guardian.

Buy back produk fashion

Sebelum Ikea meluncurkan program buy back, langkah serupa sebenarnya telah dilakukan oleh sejumlah peretail produk fashion. Setidaknya tercatat peretail global Zara, H&M, dan Uniqlo sudah lebih dulu membeli kembali produk lawas dari pelanggannya.

Dikutip dari The Sydney Morning Herald, juru bicara Zara mengatakan bahwa perusahaan pernah mengumpulkan 12.229 ton pakaian, alas kaki dan aksesori bekas pada tahun 2017.

Daur ulang pakaian adalah fenomena yang relatif baru di Australia, dan dua pengecer terbesar di dunia mencoba membuatnya dapat diakses oleh semua orang.

Zara dan H&M telah menawarkan layanan membeli pakaian bekas dari produk apapun, Lebih dari 30 persen pakaian yang dikumpulkan H&M, yaitu pakaian yang tidak dapat dijual atau digunakan kembal, didaur ulang untuk membuat kain atau benda-benda seperti isolasi untuk industri konstruksi.

Kampanye pengumpulan garmen H&M dilaporkan telah melampaui target untuk mengumpulkan setidaknya 25.000 ton pakaian bekas selama tahun 2020. Mereka telah mengumpulkan lebih dari 29.005 ton garmen, meningkat 40 persen dari 2018.

“Untuk mengatasi masalah iklim, Grup H&M memiliki ambisi untuk mengurangi dampak kami baik di dalam maupun di luar operasi kami sendiri,” kata Grup H&M kepada Inside Retail.

Tak ketinggalan, pengecer mode Jepang, Uniqlo, juga turut memperhatikan keberlanjutan lingkungan dengan memperkenalkan inisiatif pengumpulan dan daur ulang garmennya sendiri. Uniqlo telah meluncurkan Re.Uniqlo, program keberlanjutan yang mengumpulkan pakaian Uniqlo yang tidak lagi dipakai pelanggan.

Namun, tren daur ulang produk fashion ini tak luput dari kritik. Vogue Business melaporkan, saat semakin banyak pengecer mengumpulkan pakaian bekas untuk dijual kembali, diperbaiki, atau didaur ulang, di sisi lain mereka juga mengumpulkan dan mendistribusikan lebih banyak limbah ke negara-negara yang menolak perdagangan barang bekas.