Lokadata.ID

Dari Seabank sampai Bank Jago, bagaimana persaingan bank digital?

Konsumen membayar pesanannya melalui kode Quick Response Indonesia Standard (QRIS) di gerai Ke-Angkringan di Jalan Ampera Raya, Jakarta, Sabtu (6/2/2021). Pada tahun 2021, Bank Indonesia menargetkan pengguna QRIS yang didominasi oleh UMKM dapat meningkat hingga mencapai angka 12 juta pengguna.
Konsumen membayar pesanannya melalui kode Quick Response Indonesia Standard (QRIS) di gerai Ke-Angkringan di Jalan Ampera Raya, Jakarta, Sabtu (6/2/2021). Pada tahun 2021, Bank Indonesia menargetkan pengguna QRIS yang didominasi oleh UMKM dapat meningkat hingga mencapai angka 12 juta pengguna. Reno Esnir / ANTARA FOTO

PT Bank Kesejahteraan Ekonomi resmi berganti nama menjadi PT Bank Seabank Indonesia (Seabank). Penggantian nama ini dilakukan pasca bank tersebut diakuisisi oleh Sea Group, induk perusahaan e-commerce Shopee.

Informasi penggantian nama tersebut berdasarkan pemberitahuan di media massa yang dikutip Kontan.co.id, Senin (22/2/2021). Direksi Seabank menyampaikan pemberitahuan tersebut kepada pemegang saham, nasabah, dan mitra bisnis. Perubahan nama ini berlaku sejak Rabu (10/2).

Perubahan nama tersebut menandai tranformasi SeaBank menjadi bank digital dari sebelumnya konvensional. Bank ini merupakan kelompok bank umum kegiatan usaha (Buku) II dengan modal inti Rp1,3 triliun (per September 2020) dan total aset (per Desember 2020) sebesar Rp3,6 triliun.

Hampir bersamaan dengan SeaBank, sejumlah bank lain juga tengah dalam proses perubahan menuju bank digital. Bank Digital BCA misalnya, ditargetkan akan meluncur pada semester pertama 2021 ini. Menurut keterangan direksi PT Bank Central Asia Tbk, bank tersebut akan diarahkan menjadi sepenuhnya digital (neo-bank) dan menyasar segmen generasi milenial.

Sebelumnya, PT Bank Jago meluncurkan aplikasi Jago Apps pada akhir 2020. Perusahaan rintisan Gojek bahkan menjadi salah satu pemegang saham bank tersebut dengan kepemilikan sebesar 22,16 persen.

Dari bank pelat merah, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Sunarso mengatakan, perusahaan membuka peluang menjadikan anak usahanya PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk atau BRI Agro sebagai bank digital.

Menurut dia, BRI Agro dapat diarahkan menjadi bank digital karena ukurannya yang belum besar. Sejumlah pelaku usaha perbankan lain yang tercatat sudah memiliki model bisnis digital ini, di antaranya: Jenius oleh bank BTPN dan Digibank oleh DBS.

Sebagai catatan, model bisnis bank digital yang diterapkan sejumlah pelaku usaha tersebut berbeda dengan layanan perbankan yang sebelumnya sudah ada, seperti: internet banking, SMS banking, dan mobil banking.

Akses terhadap layanan bank digital ini seluruhnya dilakukan melalui gawai dengan fasilitas internet, salah satuya termasuk pembukaan rekening. Bank digital juga tidak memerlukan kantor cabang secara fisik seperti pada bank konvensional.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun menyebut, pendirian bank digital akan dibagi menjadi dua jenis. Pertama, entitas baru yang akan beroperasi penuh sebagai bank digital. Kedua, transformasi dari bank konvensional menjadi digital.

Menurut Direktur Eksekutif Penelitian dan Pengaturan Perbankan OJK, Anung Herlianto, lembaganya tengah menyusun peraturan mengenai pembentukan bank digital. Salah satu aturannya yakni modal minimum bank tersebut minimal harus mencapai Rp10 triliun.

Tren perbankan yang ramai-ramai meluncurkan model bisnis digital ini menimbulkan pertanyaan: bagaimana peta persaingan bank digital ke depannya? Pada segmen “kue ekonomi” yang mana mereka akan bersaing?

Neo bank: pasar potensial, diincar start-up

Menurut Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira, upaya perusahaan rintisan baik e-commerce dan sebelumnya teknologi transportasi, yang mulai 'menyenggol' bank disinyalir menjadi petunjuk bahwa industri perbankan tengah menuju tren neo-bank.

Bhima berkata, ini karena sejumlah perusahaan tersebut melihat prospek yang bagus untuk meningkatkan platform penyaluran pinjaman melalui bank digital. Alasannya, secara regulasi, kapasitas pendanaan bank lebih besar dibandingkan finance technology (fintech). Kendati demikian, dia berharap pinjaman yang disalurkan di masyarakat tak hanya bersifat konsumtif, melainkan juga produktif.

"Ke depannya akan ada channeling pembiayaan, lantas akan jadi agresif. Misalnya di Gopay ada Paylater, nah, itu makin agresif. Dengan regulasi perbankan, dimungkinkan untuk melakukan penawaran pinjaman dengan platform yang lebih besar lagi," kata Bhima kepada Lokadata.id, Selasa (23/2).

Peraih gelar Master in Finance dari Universitas Bradford Inggris ini mengatakan, dengan masuknya perusahaan rintisan di perbankan diharapkan dapat menurunkan biaya transaksi menjadi lebih efisien, sekaligus akan melengkapi ekosistem digital.

Pendapat lain disampaikan Pengamat Perbankan dari Universitas Bina Nusantara (Binus), Doddy Ariefianto. Dia menyebut, bisnis bank digital sebetulnya tergolong niche market, namun potensinya besar.

“Sekarang mungkin bank digitalnya baru sedikit. Tetapi lautannya masih luas. Sebagai digital banking, apa sih yang mereka jual? Sepanjang mereka bisa memberikan kemudahan dan kenyamanan, maka bank-bank tersebut akan bisa bersaing,” kata Doddy kepada Lokadata.id.

Doddy menyebut, tren maraknya bisnis bank digital ini muncul karena perkembangan penggunaan teknologi di Indonesia yang kian masif. Dia berkata, ini misalnya terlihat dari peningkatan kepemilikan gawai.

Lokadata.id sebelumnya mencatat, berdasarkan survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), pada 2019 sekitar 63,5 persen penduduk punya ponsel, naik dua kali lipat dari 2010 yang masih 38 persen.

Tak hanya itu, di periode yang sama, jumlah pelanggan telepon seluler mencapai 341,28 juta, melampaui jumlah penduduk sekitar 267 juta orang. Artinya, banyak di antara warga Indonesia yang memiliki lebih dari satu ponsel atau dua nomer telepon.

Terlebih dengan Covid-19 dan PSBB kita terkonsentrasi di rumah. Padahal aktivitas seperti belanja kan harus jalan. Tren yang sudah berjalan sebelumnya dan kian diakselerasi pandemi Covid-19 ini yang kemudian dilihat oleh bank-bank. Dulu mereka mungkin masih melihatnya dengan cara (biasa),” katanya.

Kepada Lokadata.id, analis Binaartha Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta menambahkan, ramainya transformasi sektor perbankan dari konvensional menuju digital dikarenakan peluang bisnis yang lebih fleksibel, terutama di era pandemi Covid-19. "Perbankan menjadi lebih efisien. Fintech telah berperan sebagai mitigasi bisnis perbankan saat terjadi wabah pandemi Covid-19," kata Nafan.

Nafan berkata, Indonesia saat ini masih berada dalam fase early growth atau pertumbuhan awal untuk industri perbankan digital. Namun, menurutnya, prospek industri perbankan akan meningkat seiring adanya potensi pertumbuhan ekonomi pada tahun ini. "Ke depannya, peta persaingan dalam industri perbankan digital akan semakin kompetitif," katanya.

Persaingan di segmen ritel

Doddy Ariefianto menambahkan, sejumlah pelaku usaha bank digital tersebut ke depannya akan bersaing pada “kue ekonomi” segmen pembiayaan ritel atau konsumsi. Alasannya, karena segmen tersebut sesuai dengan karakteristik bank digital itu sendiri.

Sebagai informasi, industri perbankan memiliki tiga jenis pembiayaan berdasarkan penggunaan, di antaranya: kredit modal kerja, investasi, dan konsumsi. Dua fasilitas kredit yang pertama pada umumnya digunakan untuk aktivitas produktif, seperti: modal usaha atau pendirian proyek baru. Sedangkan, kredit konsumsi adalah fasilitas yang diberikan kepada perseorangan untuk barang konsumsi.

Data Bank Indonesia menunjukkan, kredit modal kerja memiliki porsi terbesar ketimbang konsumsi dan investasi. Sebagai contoh, per Desember 2020, dari total kredit sebesar Rp5.481 triliun, porsi kredit modal kerja mencapai 44,98 persen. Sisanya, kredit konsumsi 28,23 persen dan kredit investasi 26,79 persen.

Menurut Doddy Ariefianto, dari kredit konsumsi sebesar 28,23 persen atau senilai Rp1.547 triliun ini, sebagian besar di antaranya merupakan kredit kepemilikan rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor (KKB). Dia menghitung, dari jumlah tersebut, porsi pembiayaan yang bisa diraih bank digital sekitar Rp200 sampai Rp300 triliun.

“Nah itulah saya kira pasar terbesarnya digital banking, Rp200-300 triliun. Karena apa? Yang ritel besarnya seperti KPR dan KKB ini apakah sudah ada prosedur untuk memverifikasi? Saya juga melihat segmennya masih terbatas di ritel karena kalau pindah ke segmen lain, pinjaman Rp500 juta ke atas apa mungkin?,” kata Doddy.

Doktor Ilmu Ekonomi lulusan Universitas Indonesia (UI) ini, berkata, “keterbatasan” dari bank digital untuk meraih segmen pembiayaan lain ini karena karakteristik dari mereka sendiri. Bisa jadi, katanya, bank digital hanya akan memfasilitasi layanan perbankan ringan seperti transfer dan pembukaan rekening. Kalau pun ada pembiayaan yang disalurkan, katanya, tentu nominalnya tidak akan sebesar segmen lain.

Mantan Direktur Group Surveilans dan Stabilitas Sistem Keuangan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ini mengatakan, bank digital diduga tidak menyalurkan pembiayaan pada segmen kredit modal kerja dan investasi karena dalam prosesnya menghendaki pertemuan secara fisik, misalnya dengan melakukan penilaian terhadap calon debitur seperti perusahaan. Sedangkan pertemuan fisik tersebut justru melanggar esensi dari bank digital.

Alasan lain, lanjut dia, nasabah baik dari perseorangan dan perusahaan boleh jadi tak akan menyimpan uangnya dalam jumlah besar di bank digital, misalnya dengan nominal sekitar Rp500 juta sampai Rp1 miliar ke atas.

“Jadi saya melihat paling nggak sampai 5 tahun akan terfokus di ritel. Kecuali, nanti kalau sudah ada sistem yang bisa mendeteksi karakter debitur dan bank-nya bisa percaya,. Bagaimana pun nyawa dari bisnis bank itu trust.”