Lokadata.ID

Dompet digital dan layanan transfer bank jadi pilihan utama dalam bertransaksi

Seorang warga membeli makanan menggunakan pembayaran non tunai Quick Response Indonesia Standard (QRIS) pada Pekan QRIS Nasional 2020 di Medan, Sumatera Utara, Minggu (15/3/2020).
Seorang warga membeli makanan menggunakan pembayaran non tunai Quick Response Indonesia Standard (QRIS) pada Pekan QRIS Nasional 2020 di Medan, Sumatera Utara, Minggu (15/3/2020). Septianda Perdana / ANTARA FOTO

Preferensi masyarakat Indonesia bertransaksi menggunakan dompet digital (e-wallet) dan layanan transfer antarbank menjadi yang tertinggi dibanding sejumlah negara pada kawasan Asia Pasifik.

Hal ini terlihat dari riset yang dilakukan perusahaan tekfin Rapyd pada Maret-April lalu. Dalam kegiatan yang dilakukan terhadap 3.500 responden dari 7 negara ini, Rapyd menemukan bahwa 78 persen masyarakat Indonesia lebih suka bertransaksi menggunakan transfer bank dan dompet digital dibanding bentuk lain.

Jika dirinci, 44,4 persen responden dari Indonesia mengungkap preferensinya menggunakan jasa transfer bank untuk bertransaksi. Kemudian, 33,8 persen lebih mengutamakan penggunaan dompet digital dalam aktivitas sehari-hari.

Penggunaan uang kas dan pembayaran via kartu (kredit atau debit) masing-masing hanya menjadi pilihan utama 9,60 persen responden asal Indonesia. Angka ini tergolong rendah jika dibanding keadaan di negara lain (lihat gambar).

“Sejak pandemi global terjadi, menjadi digital bukan lagi opsional. e-commerce sekarang sudah menjadi baseline baru. Kami melihat, di seluruh Asia sedang terjadi pertumbuhan besar-besaran penggunaan pembayaran digital, dengan hadirnya pola dan pelaku pasar yang berbeda-beda di tiap wilayah,” ujar Vice President Rapyd untuk Asia Pasifik Joel Yarbrough, Kamis (11/6/2020).

Preferensi pembayaran masyarakat sejumlah negara di kawasan Asia Pasifik
Preferensi pembayaran masyarakat sejumlah negara di kawasan Asia Pasifik Rapyd APAC e-Commerce and Payments Study 2020 / prnewswire.com

Berdasarkan riset ini, Rapyd memprediksi nilai pasar e-commerce dan mobile-commerce di 7 negara objek penelitian—Jepang, Taiwan, Singapura, Malaysia, India, Thailand, Indonesia—mencapai AS$355 miliar. Khusus Asia Tenggara, nilai perputaran uang akibat digitalisasi dan perkembangan e-commerce serta transaksi digital diprediksi bisa mencapai AS$300 miliar pada 5 tahun mendatang.

Dari penelitian yang dilakukan, diketahui bahwa penggunaan kartu debit/kredit dan uang kas masih jadi opsi utama yang digemari masyarakat di Jepang dan Taiwan. Akan tetapi, tren di dua negara ini tidak sebanding dengan perkembangan pesat penggunaan e-wallet di negara lain.

Rapyd memprediksi, ke depannya penggunaan dompet digital dan transfer antarbank akan semakin marak dilakukan masyarakat Asia Pasifik. “Apalagi jika secara khusus (pembayaran via dompet digital) disokong sistemPembayaran Real-Time (RTP),” tulis mereka.

Anomali kartu debit

Di Indonesia, dompet digital seperti OVO, Go-Pay, Dana, dan LinkAja tercatat banyak digunakan masyarakat. Riset Rapyd menunjukkan, penggunaan dompet digital sebagai metode pembayaran menjadi yang tertinggi dibanding metode pembayaran lain.

Dibanding semua jenis pembayaran digital, OVO menjadi aplikasi yang paling sering digunakan masyarakat Indonesia. Ada 69 persen responden yang mengaku menggunakan aplikasi ini dalam kurun sebulan terakhir sebelum survei dilakukan.

Menyusul OVO, pembayaran via kartu debit menjadi metode pembayaran terbanyak kedua yang digunakan. Sebanyak 67 persen responden melakukan transaksi menggunakan benda ini.

Metode pembayaran yang banyak digunakan masyarakat Indonesia untuk bertransaksi pada kurun Maret-April 2020
Metode pembayaran yang banyak digunakan masyarakat Indonesia untuk bertransaksi pada kurun Maret-April 2020 Rapyd APAC e-Commerce and Payments Study 2020 / Rapyd

Di urutan ketiga, ada transaksi via ATM yang banyak dilakukan masyarakat. Ada 64 persen responden yang berkata bahwa mereka pernah bertransaksi dari ATM dalam 30 hari terakhir.

Anomali muncul ketika survei menunjukkan tingkat preferensi masyarakat terhadap beragam metode pembayaran dan transaksi yang tersedia. Meski kartu debit banyak digunakan, tetapi penggunaannya ternyata tidak menjadi prioritas masyarakat.

Riset yang sama menunjukkan, sebanyak 17,8 persen responden mengaku lebih memilih penggunaan OVO jika hendak bertransaksi. Kemudian, 12,2 persen memiliki preferensi menggunakan layanan KlikBCA.

Preferensi masyarakat Indonesia terhadap beragam pilihan metode pembayaran
Preferensi masyarakat Indonesia terhadap beragam pilihan metode pembayaran Rapyd APAC e-Commerce and Payments Study 2020 / Rapyd

Sisanya masyarakat cenderung menyelesaikan pembayaran via ATM (10,4 persen), dompet digital DANA (8,6 persen), layanan perbankan dari Bank Mandiri (8 persen), dan dompet digital Go-Pay (7,4 persen).

“Konsumer di Indonesia lebih suka menggunakan dompet digital dan layanan transfer dari sejumlah bank untuk bertransaksi. Meski kartu debit sering digunakan, namun popularitasnya cenderung rendah,” tulis Rapyd dalam hasil survei yang diterima Lokadata.id.

Peningkatan popularitas dan kepemilikan dompet digital di Indonesia juga bisa dilihat dari data Bank Indonesia (BI). Berdasarkan statistik BI, terlihat ada kenaikan signifikan jumlah uang elektronik yang beredar di masyarakat per April 2020.

Dua bulan lalu, jumlah uang elektronik yang beredar—baik chip-based atau server-based—mencapai 412,05 juta. Jumlahnya naik 24,71 persen dibanding posisi Maret sebesar 330,39 juta.

Meski peredarannya bertambah, volume transaksi uang elektronik per April turun 18,98 persen dibanding bulan sebelumnya. Akan tetapi, nominal transaksi via uang elektronik di periode yang sama naik 16,73 persen menjadi Rp17,55 triliun.