logo-lokadata
Drama milenial membeli tempat tinggal
Rumah mikro berukuran 1,8 kali 1,2 meter karya Yu Sing pada Rabu (27/07/2018). Lokasinya berada di belakang Studio Akanoma, Padalarang, Bandung Barat, Jawa Barat. Aditya Herlambang /Beritagar.id

Drama milenial membeli tempat tinggal

Harga rumah tak pernah kompak dengan pendapatan generasi yang paling produktif saat ini.

Rumah impiannya berada di salah satu kawasan di Bogor, Jawa Barat. Pemandangannya menghadap kota. Kala sore, terlihat matahari terbenam, cahayanya menembus celah gedung dan rumah. Saat malam, seribu cahaya lampu memanjakan matanya.

Zila sering membayangkan mimpinya itu. Perempuan berusia 22 tahun ini sehari-hari berprofesi sebagai mahasiswi dan pekerja marketing properti.

Ia bukan tak mau mewujudkannya. Tapi masalah berat merintanginya, yaitu proses pengajuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) ke bank. "Ribet dan bank mengeluarkan plafon yang kurang sesuai," katanya pada Selasa (18/09/2018) ketika ditemui di Summarecon Mal Serpong, Tangerang, Banten.

Budget untuk uang muka minim, belum lagi gaji yang tak sesuai dengan besarnya cicilan. Tapi Zila tak menyerah. Ia percaya membeli rumah adalah investasi dan harus diniatkan dari sekarang. "Karena harganya semakin lama makin gila. Jadi, hal terpenting yang harus ditanamkan ke diri sendiri, ya menabung untuk jangka panjang," ujarnya.

Membeli rumah ibarat mencari jodoh. Proses pencariannya kadang bagai pungguk merindukan bulan. Yang sesuai dengan jumlah uang di rekening kadang tak sejalan dengan keinginan. Harapan hanya tinggal kenangan.

Kalau Anda memiliki masalah ini sekarang, jangan sedih dan gelisah. Anda tidak sendirian. Zila mengalami hal yang sama, begitu pula jutaan orang di Indonesia.

Angka persisnya, menurut data yang dihimpun oleh tim Lokadata Beritagar.id, sekitar 13,7 juta keluarga atau rumah tangga. Bahkan sejak 10 tahun terakhir, dari 2007 sampai 2017, jumlah kebutuhan rumah tak pernah turun dari angka 11 juta keluarga.

Presiden Joko Widodo mencoba mengatasi hal ini dengan mencanangkan program satu juta rumah per tahun. Namun, realisasinya sejak 2015 tidak pernah mencapai angka tersebut.

Anda boleh bernapas lega sekarang. Ini bukan sekadar masalah pribadi, tapi nasional.

Yang tidak memiliki rumah sebagian besar adalah generasi milenial. Mereka sekarang adalah angkatan produktif (lahir pada awal 1980 hingga akhir 1990an) yang punya peran besar dalam menguatkan perekonomian negara. Tapi tragisnya, untuk memenuhi kebutuhan pokok, yaitu papan, mereka kesulitan.

Diagram di bawah ini menunjukkan sekitar 40 persen dari 17,8 juta keluarga milenial tak memiliki rumah. Jumlahnya kemungkinan lebih banyak kalau memasukkan mereka yang belum berkeluarga. Hunian yang mereka miliki rata-rata berukuran 36 sampai 70 meter persegi.

"Kalau kita bicara properti, ujung-ujungnya harga tanah. Kalau tanahnya murah, rumahnya juga," ujar Ali Tranghanda, CEO Indonesia Property Watch, ketika dihubungi beberapa waktu lalu. "Kalau tanah makin mahal, sampai kapan pun enggak akan kekejar sama penghasilan."

Sulit mengendalikan harga tanah. Selama ini pasarlah yang menentukan. Pemerintah tak bisa mengintervensi. Kalau lokasinya menarik, banyak fasilitas atau dekat dengan infrastruktur, sudah pasti harganya mahal.

Subsidi mungkin bisa jadi solusi dari pemerintah untuk menahan kenaikan harga tanah. Tapi, lalu muncul masalah baru. Pendapatan yang tidak sejalan dengan jumlah cicilan.

"Sekarang bagaimana bisa nyicil, kalau harga rumah masih mahal. Berarti, kalau pun ada pembebasan uang muka, suku bunga rendah, dan lainnya, tapi harga properti mahal, ya sama saja," kata penasihat keuangan Aidil Akbar ketika dihubungi terpisah.


Idealnya, kemampuan mencicil paling tidak sebesar sepertiga atau 30 persen dari gaji bulanan. Untuk milenial dengan perkiraan gajinya sekitar Rp7 juta per bulan, kemampuan mencicilnya berarti Rp2 jutaan. Artinya, harga rumah yang bisa ia beli tak sampai Rp300 juta.

"Harga itu untuk rumah di mana? Enggak mungkin di Jakarta kan. Pasti di pinggir kota," kata Ali. Kota penyangga Jakarta, seperti Tangerang, Depok, dan Bekasi, harga rumahnya terus merangkak naik hingga miliaran rupiah.

Mari kita kembali ke data dari Lokadata. Sebenarnya tren penjualan rumah saat ini sedang turun. Dari tabel di bawah ini akan terlihat kalau sejak 2015 pertumbuhannya cenderung melambat.

Selain karena penurunan daya beli, perubahan gaya hidup juga mempengaruhi industri properti. Kebutuhan hunian kerap terabaikan. Generasi milenial lebih memilih mengeluarkan uang untuk mencari pengalaman baru, seperti jalan-jalan atau pergi ke restoran.

Tapi, meskipun melambat, harga properti rumah tak pernah turun. Nilainya naik sekitar 5,4 persen per tahun.

Angka itu sebenarnya lebih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata gaji bersih karyawan, tanpa melihat jabatannya, di seluruh Indonesia. Tapi hal ini pun sulit menjadi ukuran karena nilai rerata gaji tersebut Rp2,7 juta pada 2017.

Dengan gaji segitu rasa-rasanya sulit membeli rumah Rp300 juta, kecuali memiliki uang tunai dalam jumlah banyak. Untuk yang pas-pasan tapi nekad ingin membeli hunian di perkotaan, mungkin bentuknya, meminjam istilah masa lalu, adalah RSSSSSS alias "rumah sangat sederhana sekali selonjoran saja susah".

Tapi Anda jangan pesimis dulu melihat kondisi ini, pembaca budiman. Di atas kertas mungkin sulit membeli rumah. Tapi masih banyak jalan menuju Roma atawa banyak cara meraih impian.

Edisi tulisan serial kali ini berusaha memberikan paling tidak sedikit jalan keluar untuk kegundahan hati Anda. Kami mewawancarai para arsitek yang berhasil mewujudkan rumah sesuai dengan selera dan kantong milenial.

Kami fokus melihat pada rumah tapak karena masyarakat masih banyak yang menyukai jenis ini, ketimbang hunian vertikal. Pangsa pasarnya besar. Desainnya lebih variatif. Tantangannya juga lebih banyak.

Kami menampilkan Yu Sing pada tulisan pertama. Arsitek terkenal asal Bandung yang sudah hampir 20 tahun bergelut dengan hunian murah. Ia sedang mempelajari seberapa kecil ruang yang dibutuhkan manusia zaman now untuk hidup sehari-hari. Hasilnya, rumah mikro.

"Harga tanah dan bangunan makin tinggi. Masyarakat semakin tersingkir ke pinggir. Jadi, mereka harus lebih realistis dan mencoba lebih hemat dengan rumah mikro," katanya.

Rumah yang luasnya minim ini jangan Anda bayangkan bagaikan sel penjara. Yu Sing telah membuktikan sendiri, bangunan masih terasa nyaman untuk ditinggali.

Kami juga berbincang dengan arsitek yang berhasil membangun perumahan dengan sistem swadaya di kawasan Pondok Aren, Tangerang, Banten. Mande Austriono menyebutnya co-housing alias kompleks rumah berbasis komunitas.

Ia mendesain dengan baik 10 bangunan di dalam lahan seluas tak lebih dari seribu meter persegi. Semua ia rancang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik para penghuni.

Terakhir, ada tulisan tentang tiga rumah dengan ukuran di bawah 110 meter persegi yang desainnya cukup baik memanfaatkan lahan sempit.

Cerita lengkapnya bisa Anda klik dalam tautan ini.

Semoga Anda menikmati serial tulisan ini dan juga terinspirasi.