Lokadata.ID

Dua tewas dalam kecelakaan mobil autopilot Tesla, kurang andal?

Ilustrasi: Tesla di San Diego, California, Amerika Serikat (21/7/2020).
Ilustrasi: Tesla di San Diego, California, Amerika Serikat (21/7/2020). Mike Blake / ANTARA FOTO/REUTERS

Dua orang tewas setelah mobil Tesla, yang diyakini dijalankan dengan mode autopilot, menabrak pohon dan terbakar di pinggiran kota Houston, Texas, AS, akhir pekan lalu. Polisi memastikan tidak ada seorang pun di kursi pengemudi pada saat kecelakaan itu terjadi.

Polisi Harris County Precinct 4, Mark Herman mengatakan, mereka hanya menemukan satu orang di kursi penumpang depan dan satu lagi di kursi belakang setelah kecelakaan.

Tesla Model S 2019 itu sedang melaju dengan kecepatan tinggi, ketika gagal melewati tikungan dan keluar dari jalan raya, menabrak pohon dan terbakar. “Dari posisi jenazah setelah benturan, diyakini tidak ada yang mengemudikan kendaraan itu,” kata Herman kepada KHOU-TV, seperti dilansir AP News, Senin (19/4/2021).

Dilaporkan butuh waktu empat jam untuk memadamkan api yang berkobar dari mobil listrik itu. Petugas pemadam kebakaran memerlukan lebih dari 32.000 galon air untuk menjinakkan api. Baterai kendaraan bahkan berulang kali menyala kembali, sehingga polisi sampai menelepon Tesla untuk menanyakan cara memadamkan api.

Pejabat federal pun mengkritik Tesla karena risiko kebakaran hebat akibat paket baterai di mobilnya. Tesla juga dinilai tidak berbuat cukup untuk mencegah pengemudi salah menggunakan fungsi bantuan pengemudi.

Dalam sidang tahun lalu, ketua Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) mengatakan sudah waktunya menghentikan pengemudi yang mengendarai mobil secara otonom. Namun, seperti dikutip Bloomberg., juru bicara NTSB, Chris O'Neil mengatakan pihaknya tidak berencana membuka penyelidikan baru terhadap insiden terbaru.

Autopilot bukan otonom

Pihak Tesla (TSLA) tidak segera menanggapi permintaan wawancara terkait kecelakaan terakhir ini. Namun sebelumnya, perusahaan milik miliarder Elon Musk ini telah memperingatkan pelanggan bahwa sistem bantuan pengemudi, yang disebut autopilot, bukanlah program mengemudi otonom. Sehingga, pengendara mobil autopilot tetap harus memperhatikan dan siap untuk mengendalikan kendaraan.

Kecelakaan itu sendiri terjadi di tengah pengetatan pengawasan pada sistem penggerak semi-otomatis Tesla. Di sisi lain, Tesla sedang bersiap untuk meluncurkan perangkat lunak "full self-driving" yang diperbarui ke lebih banyak pelanggan.

Reuters melaporkan, Badan Keamanan Kendaraan Nasional AS telah membuka 27 investigasi kecelakaan kendaraan Tesla per Maret 2021. Padahal, pada bulan Januari, CEO Tesla Elon Musk mengatakan bahwa dia mengharapkan keuntungan besar dari perangkat lunak self-driving lengkapnya.

"Kami sangat yakin mobil itu akan dapat mengemudikan dirinya sendiri dengan keandalan yang melebihi manusia tahun ini," kata Musk.

Bahkan dalam podcast Joe Rogan Experience edisi 11 Februari 2021, Musk cukup yakin dengan keandalan sistem autopilot Tesla. “Sudah cukup baik sehingga Anda tidak perlu mengemudi di sebagian besar waktu, kecuali Anda benar-benar menginginkannya."

Sebelumnya, CNBC melaporkan bahwa Tesla menjual sistem penggerak otomatis dengan merek Autopilot, dan Full Self-Driving (FSD). Tesla juga merilis versi FSD beta untuk beberapa pelanggan yang memiliki opsi FSD premium, yang dibanderol AS$10.000 (sekitar Rp145 juta).

Meski demikian, Tesla Autopilot dan FSD diakui tidak mampu mengendalikan kendaraan listrik dalam semua kondisi berkendara normal. Menurut kabar yang diperoleh CNBC, dalam sebuah surat kepada California DMV akhir tahun lalu, pengacara Tesla mengatakan bahwa baik autopilot maupun FSD Capability bukanlah sistem otonom. Dalam buku manual untuk pemilik pun, Tesla telah memberikan peringatan bahwa fitur yang saat ini diaktifkan memerlukan pengawasan pengemudi aktif, dan tidak membuat kendaraan menjadi otonom.

Tidak seperti AS, pemerintah Jerman telah melarang Tesla menggunakan frasa yang menyamakan autopilot dengan Full Self-Driving dalam iklan. Sebab, frasa ini dikhawatirkan akan menyesatkan konsumen dan melebih-lebihkan kemampuan mobil.

Meskipun demikian, banyak penggemar dan influencer Tesla berbagi video di media sosial yang menunjukkan orang-orang mengemudi dengan tangan bebas untuk waktu yang lama, tidur di belakang kemudi atau tanpa ada orang di kursi pengemudi. Salah satunya aktor AS Jamie Foxx, yang membagikan video di saluran YouTube-nya, di mana dia berpura-pura tertidur di depan kemudi Tesla Model 3. Lalu, Foxx mengoperasikan Teslanya dengan tangan bebas dan mata tertutup.

Angka kecelakaan

Hanya beberapa jam sebelum laporan kecelakaan fatal di Houston Spring, Texas, Musk sempat memuji data kecelakaan kuartal pertama yang dilaporkan sendiri oleh perusahaan. Melalui Twitternya yang memiliki lebih dari 50 juta pengikut, Musk berkicau, "Tesla dengan Autopilot sekarang mendekati 10 kali lebih rendah kemungkinan kecelakaan daripada kendaraan biasa."

Menurut data yang dikumpulkan Tesla tetapi belum dibagikan dengan pihak ketiga untuk analisis independen, perusahaan mencatat satu kecelakaan untuk setiap 4,19 juta mil yang dikendarai di mana pengemudi menggunakan autopilot. "Untuk mereka yang mengemudi tanpa autopilot tetapi dengan fitur keselamatan aktif kami, kami mencatat satu kecelakaan untuk setiap 2,05 juta mil berkendara," kata Tesla.

Adapun bagi mereka yang mengemudi tanpa autopilot dan tanpa fitur keselamatan aktif, Tesla mencatatkan satu kecelakaan untuk setiap 978 ribu mil perjalanan. Namun, Tesla tidak mengungkapkan berapa banyak kecelakaan yang mengakibatkan cedera, kematian, atau hanya kerusakan.