Lokadata.ID

Dunia pertambangan kian lesu

Pertumbuhan kredit perbankan ke sektor pertambangan melambat, sebaliknya NPL justru menanjak.
Pertumbuhan kredit perbankan ke sektor pertambangan melambat, sebaliknya NPL justru menanjak. Arijal / LOKADATA.ID

Krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan ikut memukul industri pertambangan. Kinerja rata-rata perusahaan pertambangan di Indonesia memburuk. Dampaknya, permintaan kredit dari sektor pertambangan ke perbankan pun anjlok.

Bahkan, saat ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat ada perusahaan pemegang 2.350 izin usaha pertambangan yang tidak melakukan kegiatan sama sekali. Izin-izin tersebut terancam dicabut, kata Staf Khusus Menteri Energi Irwandy Arif, seperti diperintahkan Presiden Joko Widodo.

Sektor pertambangan terutama ditopang oleh tambang minyak, gas dan panas bumi dengan porsi 33,4 persen terhadap total sektor pertambangan. Kontribusi kedua berasal dari batu bara dan lignit yang memberikan kontribusi 30,9, kemudian bijih logam 14,6 persen, dan sisanya adalah pertambangan serta penggalian lainnya.

Kelesuan dunia pertambangan tersebut tergambar dengan jelas dalam jumlah dan pertumbuhan kredit perbankan ke sektor ini. Sebelum krisis, kredit perbankan untuk sektor usaha tersebut selalu tumbuh positif. Namun sejak Desember 2020 mulai mengalami kontraksi, bahkan makin dalam saat memasuki tahun ini.

Pada 2019, rata-rata pertumbuhan tahunan kredit sektor pertambangan mencapai 15,2 persen setiap bulan. Bahkan tahun lalu secara rata-rata masih positif, yaitu 6,0 persen. Sementara pada April 2021 kondisinya berbalik drastis. Dari menyusut 7,1 persen pada Januari tahun ini, kemudian menjadi minus 12,6 persen pada April.

Bersamaan dengan itu, tingkat kredit bermasalah (non performing loan/NPL) juga terus menanjak. Dalam tiga tahun terakhir misalnya, NPL sektor pertambangan mencapai puncaknya pada April 2021, yaitu 7,7 persen. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan batas maksimal NPL sebesar 5 persen.

Melemahnya sektor pertambangan di dalam negeri juga ditunjukkan melalui kinerja ekonomi atau produk domestik bruto (PDB) sektor tersebut. Sudah empat triwulan yaitu sejak triwulan II-2020 hingga triwulan I-2021 masih mengalami kontraksi, seperti halnya perekonomian nasional atau PDB total.

Bedanya, PDB total terus bergerak membaik, sementara sektor pertambangan justru menunjukkan tren pemburukan. Rupanya fasilitas yang telah digelontorkan pemerintah, antara lain berupa pembebasan royalti bagi pertambangan batu bara –kontributor terbesar dalam industri pertambangan- tidak banyak membantu.

Kini tinggal perbankan harus berhadapan dengan kredit bermasalah yang nilainya tidak sedikit, yaitu sekitar Rp9,6 triliun pada April 2021. Itulah nilai kredit bermasalah tertinggi, setidaknya dalam lima tahun terakhir.