Lokadata.ID
Dwikorita: Saya heran masyarakat cool saja saat diingatkan
Dwikorita Karnawati berpose depan kamera usai berbincang dengan Heru Triyono dan fotografer Wisnu Agung di Kantor Pusat BMKG, Kemayoran, Jakarta, Rabu malam (8/1/2020). Wisnu Agung/Lokadata.id

Dwikorita: Saya heran masyarakat cool saja saat diingatkan

Ia mengaku akan terus menginformasikan perkembangan cuaca tanpa terpengaruh hal-hal politis.

“Maaf menunggu, harus rapat dulu, ada wawancara televisi juga setelah ini,” Dwikorita beri tahu kepada kami saat menyesuaikan diri dengan pencahayaan kamera—sembari memeriksa arloji. Seorang staf juga tampak khawatir dan memberi kode agar jangan lama-lama. “Banyak rapat mendesak soalnya,” kata staf itu kepada kami.

Sebelumnya, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) ini memang baru selesai rapat secara maraton. Ia rapat dengan pihak terkait seperti Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), BNPB dan Pemerintah Jakarta.

Memasuki awal tahun baru, lembaga yang dipimpin Rita benar-benar sibuk. Musababnya adalah banjir dan bencana longsor akibat curah hujan yang amat tinggi. Bahkan, dalam catatan BMKG, curah hujan itu jadi yang tertinggi sejak 120 tahun lalu.

“Ketika banjir 2015 itu curah hujannya 367 mm/hari. Pada 2020 kemarin itu mencapai 377 mm/hari,” ujar Rita saat berbincang dengan Heru Triyono dan fotografer Wisnu Agung di Kantor Pusat BMKG, Kemayoran, Jakarta.

Cuaca ekstrem ini juga membuat Kedutaan Besar Amerika Serikat menghimbau warganya untuk memperhatikan informasi cuaca. Dikutip dari laman resminya, id.usembassy.gov, Jakarta dan daerah sekitarnya diperkirakan mengalami hujan sangat lebat hingga 12 Januari 2020.

Rita pun heran. Prediksi cuaca Kedubes Amerika malah lebih viral ketimbang BMKG. Padahal pihaknya sudah memberikan peringatan dini sejak awal Desember tahun lalu. “Mungkin karena pakai diksi thunderstorm, maka peringatan itu lebih keren bagi publik he-he,” ujar mantan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.

Selama kurang dari sejam, dikelilingi para stafnya, Rita dengan lugas menjawab pertanyaan kami. Di antaranya soal angin kencang dan kilat petir, serta kenapa prediksi BMKG kurang diperhatikan oleh masyarakat. Berikut tanya jawabnya:

Dwikorita Karnawati berpose depan kamera usai berbincang dengan Heru Triyono dan fotografer Wisnu Agung di Kantor Pusat BMKG, Kemayoran, Jakarta, Rabu malam (8/1/2020).
Dwikorita Karnawati berpose depan kamera usai berbincang dengan Heru Triyono dan fotografer Wisnu Agung di Kantor Pusat BMKG, Kemayoran, Jakarta, Rabu malam (8/1/2020). Wisnu Agung / Lokadata.id

Sedemikian mengkhawatirkan kah sampai-sampai Kedubes Amerika juga mengeluarkan peringatan akan cuaca ekstrem ini?
Sebetulnya kan peringatan dini cuaca ekstrem sudah sejak 3 Januari untuk periode 5 sampai 12 Januari 2020 oleh BMKG.

Dalam memberikan peringatan memang harus sedini mungkin dan diulang-ulang agar masyarakat jadi waspada.

Lalu, ada update lagi pada 7 Januari 2020 bahwa pada tanggal 9 dan 10 akan ada peningkatan curah hujan tinggi. Setelah tanggal 10, intensitasnya diperkirakan menurun, tapi tetap waspada.

Oke. Apa yang Anda baca dari pengumuman Kedubes Amerika itu terkait cuaca?
Mungkin maksudnya untuk ingatkan warganya. Ya wajar. Hanya, yang jadi masalah, masyarakat seperti cool-cool saja saat ada peringatan dini BMKG. Saya heran. Tapi ketika Kedubes AS, perhatiannya sangat besar.

Yang jadi soal lagi, ada yang salah menerjemahkan peringatan Kedubes AS itu dan di-share ke publik. Seakan-akan kontradiksi dengan BMKG.

Padahal curah hujan yang perlu diwaspadai hingga 12 Januari 2020 sudah benar. Sesuai dengan laman BMKG yang diacu Kedubes AS. Tapi ada yang menerjemahkan terjadi pada tanggal 12.

Anda sudah berkomunikasi dengan Kedubes Amerika terkait hal itu?
Kami sudah komunikasikan. Ternyata memang ada kesalahan penerjemahan dari orang lain, bukan dari mereka, dan itu tersebar ke publik.

Poinnya, peringatan kami masih berlaku sampai tanggal 12. Probabilitasnya tinggi, mencapai 90 persen khususnya untuk 9 dan 10 Januari 2020.

Pada dua tanggal itu intensitas akan meningkat di beberapa wilayah, yang kemudian menurun kembali mulai tanggal 11 Januari.

Tidak hanya di Jabodetabek, tapi juga Jawa Tengah. Ada potensi curah hujan tinggi juga di situ.

Probabilitas 90 persen ini artinya akan ada curah hujan yang tinggi lagi?
Bisa lebih dari 50 mm/hari, serta petir. Kan kalau yang ditulis Kedutaan AS itu akan ada thunderstorm. Memang bahasanya lebih dahsyat dan keren bagi publik.

Tapi BMKG itu lembaga Indonesia, jadi kami menuliskannya ya hujan lebat disertai angin kencang dan petir.

Orang lebih memperhatikan peringatan dalam bahasa Inggris ya, meski sebenarnya sama saja artinya…
Sebetulnya sama. Tetapi karena bahasa Inggris dan juga institusi Kedubes AS, jadi orang melihatnya beda. Kayaknya ini aspek psikologis.

Tapi BMKG harusnya merasa terbantu dong dengan peringatan dini dari Kedubes AS itu?
Memang kami justru apresiasi respons Kedubes AS, karena ditindaklanjuti dengan aksi nyata dengan menyebarluaskan ke warga negaranya di Jakarta.

BMKG punya kewenangan koreksi gak jika lembaga lain, seperti Kedubes Amerika ini, ketika salah mengumumkan soal cuaca?
Sebetulnya yang berhak mengoreksi ya yang menyebarkan, yaitu kedutaan AS. Mekanisme kami ya meng-update saja.

Jadi bukan wewenang kami untuk mengoreksi punya orang lain. Kami fokus update saja peringatan untuk masyarakat.

Apakah BMKG selama ini merasa tidak dipercaya oleh masyarakat?
Kami bersyukur dan berterima kasih kepada masyarakat yang makin besar perhatian dan kepercayaannya pada info BMKG.

Terlihat dari jutaan followers media sosial kami yang selalu meningkat signifikan tiap tahun.

Yang masih kurang adalah aksi lanjut oleh masyarakat dan pihak terkait setelah mendapatkan peringatan dini tersebut.

Kenapa menurut Anda ketika ada peringatan BMKG masyarakat seperti cool-cool saja?
Tampaknya peringatan dini kami saat itu kalah dengan berita Nataru, Novel Baswedan, Jiwasraya dan berita lainnya.

Budaya kita juga masih kurang menganggap penting info cuaca. Ini tantangan bagi BMKG dan jadi PR kami.

Tapi apakah kami harus pakai diksi thunderstorm agar diperhatikan? Kan enggak.

Aspek psikologis seperti ini tetap kami dalami. Dan, yang mengalami seperti ini bukan cuma Indonesia. Di Jepang juga begitu.

BMKG-nya banyak dicuekin dan pas ada korban dipersalahkan. Isu ini tuh jadi isu global di antara pengelola BMKG di seluruh dunia.

Tapi di negara maju seperti jepang edukasi bencana dan program mitigasinya amat baik…
Iya budayanya sudah terbentuk. Nah tantangan BMKG itu bagaimana membangun budaya waspada cuaca dan peduli terhadap iklim.

Kami terus upayakan agar budaya tersebut dapat terwujud dengan langkah inovatif dalam mengemas informasi.

Dwikorita Karnawati berpose depan kamera usai berbincang dengan Heru Triyono dan fotografer Wisnu Agung di Kantor Pusat BMKG, Kemayoran, Jakarta, Rabu malam (8/1/2020).
Dwikorita Karnawati berpose depan kamera usai berbincang dengan Heru Triyono dan fotografer Wisnu Agung di Kantor Pusat BMKG, Kemayoran, Jakarta, Rabu malam (8/1/2020). Wisnu Agung / Lokadata.id

Terkait peringatan dini tadi. Apakah ada kemungkinan hujan ekstrem pada malam tahun baru akan terulang, setidaknya sampai pada tanggal 12 Januari nanti?
Harapannya tidak, tapi kewaspadaan masih perlu dilakukan.

Ternyata, intensitas hujan pada awal tahun baru itu tertinggi ya?
Data awal itu menunjukkan hujan malam itu adalah intensitas tertinggi dalam 24 tahun terakhir. Tapi, setelah kami kumpulkan data lagi, ternyata intensitasnya adalah yang tertinggi sejak seratusan tahun lalu. Mencapai 377 mm/hari.

Data curah hujan tertinggi BMKG:

• 1866: 185,1 mm/hari
• 1918: 125,2 mm/hari (Kwitang)
• 1979: 198 mm/hari (Kwitang)
• 1996: 216.2 mm/hari (Kwitang)
• 2002: 168.5 mm/hari (Kwitang)
• 2007: 340 mm/hari (Pondok Betung)
• 2008: 317 mm/hari (Cengkareng)
• 2013: 174 mm/hari (Kemayoran)
• 2014: 178 mm/hari (Rorotan)
• 2015: 367 mm/hari (Sunter Kodamar)
• 2016: 148 mm/hari (Cengkareng)
• 2020: 377 mm/hari (Halim)

Jika terjadi lagi curah hujan yang mencapai 377 mm/hari, apa yang harus masyarakat lakukan?
Selalu monitor info-info peringatan dini dari kami dan siapkan langkah mitigasinya, berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi.

Ada kemungkinan kalau curah hujan yang lebih besar akan datang—mengingat musim hujan itu belum puncaknya?
Hingga periode puncak musim hujan yang diprediksi terjadi pada Februari-Maret 2020, hujan dengan intensitas lebat masih berpotensi terjadi.

Masyarakat dihimbau waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang dapat ditimbulkan oleh hujan lebat ini.

Apakah hujan ekstrem ini bisa dimodifikasi?
Beberapa hari ini, BPPT kan sedang melakukan modifikasi cuaca dengan menjatuhkan awan di Laut Jawa dan di Selat Sunda. Kami amat apresiasi itu.

Nah, untuk melakukan itu kan perlu informasi dari BMKG juga. Misalnya posisi awan, kemungkinan bergeraknya dan sampai jam berapa.

Sama BPPT, awan itu nanti dicegat dan ditembak di laut sebelum masuk daratan. Awan itu dipaksa turun. Semoga saja BPPT berhasil dan cuaca ekstrem tidak terjadi.

Seberapa efektif modifikasi cuaca ini dan baiknya kapan dilakukan?
Efektifnya sebelum awan itu masuk ke wilayah yang diprediksi. Pergerakan awan ini harian. Jadi, BPPT itu kejar-kejaran sama awan.

Kalau pilot umumnya selalu menghindari awan agar tidak terjadi turbulensi, maka pilot BPPT justru harus menabrak awan untuk menyemai awan itu.

Maksudnya untuk mempercepat turunnya hujan. Dikarbit gitu lho.

"Kami sudah komunikasikan dan meluruskan ke Kedubes AS terkait informasi yang salah soal cuaca itu"

Dwikorita Karnawati

Anomali cuaca apa sih yang terjadi sehingga terjadi curah hujan amat tinggi?
Ketika ada fenomena pembangkit cuaca yang terjadi secara bersamaan, biasanya akan menimbulkan peningkatan curah hujan yang signifikan.

Seperti misalnya ada pengaruh cold surge (aliran udara dingin) yang dibarengi dengan kondisi suhu muka laut yang cukup hangat.

Itu ditambah dengan posisi konvergensi di wilayah tertentu, dan diperkuat dengan adanya fenomena gelombang atmosfer yang memperkuat konvektifitas awan hujan.

Ketika fenomena-fenomena ini aktif dan terjadi secara bersamaan maka akan saling menguatkan, sehingga memicu cuaca ekstrem.

BMKG sudah memperingatkan cuaca ekstrem ini, tapi kok Pemerintah Jakarta dan yang lain seperti tidak siap menghadapinya? Ada miskoordinasi?
Sistem dan koordinasi sudah berjalan sejak beberapa tahun terakhir. Hanya tampaknya aksi dengan langkah nyata yang masih perlu dilakukan.

Apakah pemerintahan daerah, termasuk Jakarta, sudah cukup baik program mitigasi bencananya?
Koordinasi dan komunikasi rutin dengan Pemda termasuk Jakarta sudah dilakukan. Hanya respons dengan langkah nyata yang perlu lebih dahsyat.

Bagaimana prediksi BMKG tentang musim hujan dan kemarau pada 2020?
Secara umum BMKG memprediksi musim hujan 2020 akan berada pada kisaran Normal.

Terakhir. Apakah Anda merasa berita banjir dan cuaca ekstrem ini dipolitisir?
Sesuai undang-undang, tugas dan fungsi BMKG memberikan informasi cuaca kepada masyarakat, baik itu instansi pemerintah, swasta maupun umum.

BMKG akan terus menginformasikan perkembangan kondisi cuaca tanpa terpengaruh apakah beritanya itu dipolitisir.