Lokadata.ID
Eben Burgerkill, Bento yang menjadi Begundal
Gitaris Burgerkill Aries Tanto atau lebih dikenal Eben berpose di depan kamera usai wawancara di kediamannya, Jalan Gemuruh, Turangga, Bandung, Jawa Barat, Kamis (13/7/2017). Wisnu Agung Prasetyo/Beritagar.id

Eben Burgerkill, Bento yang menjadi Begundal

Jika sebelumnya Burgerkill bicara tentang depresi, maka saat vokalis berganti, mereka mulai bicara kritik sosial, seperti korupsi dan ketamakan manusia.

Tas hitam dari kulit buaya
Selamat pagi, berkata bapak Oemar Bakri
Ini hari aku rasa kopi nikmat sekali

**-**

Eben menyanyikan lagu itu lebih dari 30 tahun lalu. Lagu tersebut lagu pertama Iwan Fals yang bisa ia bawakan. Yang mengajarkannya seorang pengrajin kayu bernama Mat Ramli. "Dia yang ajarin gitar," tutur Eben.

Saat remaja ia juga punya panggilan yang berasal dari lagu Iwan, yaitu Bento. Itu karena ia kerap mentraktir teman-temannya--layaknya bos eksekutif dan tokoh papan atas. "He-he, kalau di tongkrongan harus punya nickname," ujar Eben, yang bernama tulen Aries Tanto.

Tetapi gaya bermusik Iwan tak banyak memengaruhinya. Sebab ia lebih pilih band-band Eropa, seperti Gojira, Hacride, atau Lyxanzia. Selain itu band Amerika old-school seperti Megadeth, Slayer, dan Anthrax juga jadi fondasinya bermusik. "Dari awal, Burgerkill sepakat untuk mengeksplorasi musik. Jangan stagnan," ujar Eben.

Eben adalah gitaris Burgerkill dan juga satu-satunya pendiri band yang masih bertahan. Bersama Burgerkill sejak 1995, ia telah malang melintang mencicipi berbagai macam panggung.

Dari skala kecil hingga pentas internasional macam Soundwave, Big Day Out di Australia, Bloodstock Festival (Inggris) dan Wacken Open Air (Jerman).

Prestasi internasional Burgerkill pun tak main-main, mereka pernah jadi penyabet kategori Metal As F*ck dari majalah Metal Hammer asal Inggris.

Hampir seluruh panggung besar dalam negeri juga telah dijajal. Mulai dari Java Rockin'land, Sonic Fair, Hammersonic hingga ke penjuru Kalimantan di Kukar Rockin' Fest.

Kini, band yang pernah jadi pembuka konser Lamb of God di Indonesia itu diperkuat vokalis Iyupi Yupiki alias Vicky menggantikan mendiang Ivan Firmansyah. Anggota lainnya, pembetot bas yang kalem, Ramdan Agustiana, gitaris Agung Ridho, dan Putra Pra Ramadhan, sebagai drummer yang terpilih lewat audisi--mengganti Abdul Kandris.

Band besutan Eben ini dinilai jurnalis Metal Hammer, Dom Lawson, sebagai harta karun di tengah citra buruk Indonesia sebagai negara korup. Juga amat jarang komunitas metal bisa hidup di negara berkembang. Hal itulah yang membuat kategori Metal as F*ck, yang merupakan kategori penghargaan band metal inspiratif, jatuh ke Burgerkill pada 2013.

Penghargaan tersebut semakin mengukuhkan popularitas Burgerkill hingga kini. Jumlah begundal--sebutan penggemar mereka--yang terlihat di akun @burgerkill mencapai 700 ribuan, dan terus bertambah. "Yang terdaftar resmi sebanyak 3 ribu orang," kata Eben.

Beritagar.id menyatroni rumah dedengkot band musik cadas ini pada Kamis lalu (13/7/2017) di Jalan Gemuruh, Turangga, Bandung. Dia mengenakan kacamata. Rambutnya yang gondrong dikuncir ekor kuda tertutup topi. Ia baru selesai salat asar. "Ibadah mah kewajiban bro," ujarnya, lantas menaikkan dua sudut bibirnya.

Kepada Heru Triyono, Andi Baso Djaya, Aditya Nugraha dan fotografer Wisnu Agung Prasetyo, Eben bercerita tentang ancaman pembakaran gitar oleh ayahnya, titik terendah Burgerkill dan pertarungan aliran di Ujungberung. Berikut kisahnya:

Gitaris Burgerkill Aries Tanto atau lebih dikenal Eben berpose di depan kamera usai wawancara di kediamannya, Jalan Gemuruh, Turangga, Bandung, Jawa Barat, Kamis (13/7/2017).
Gitaris Burgerkill Aries Tanto atau lebih dikenal Eben berpose di depan kamera usai wawancara di kediamannya, Jalan Gemuruh, Turangga, Bandung, Jawa Barat, Kamis (13/7/2017). Wisnu Agung / Beritagar.id

Panggil saya Bento

Bermula di SMA Negeri 1 Ujungberung. Pada 1993 Eben masuk ke sana dan bertemu Ivan dan Kimung, yang merupakan personel awal band. Mereka sering bertemu di ruangan guru bimbingan konseling karena sering kena kasus.

Mereka kedapatan mencoret-coret seragam yang digambar logo band kesukaan hingga tertangkap tangan sedang merokok. Nah, sambil dihukum di ruangan itu, mereka membicarakan musik, sampai akhirnya sepakat bikin band pada 1995.

Band itu bernama Burgerkill, yang merupakan ide dari Eben. Filosofinya sederhana: mengubah nama restoran Burgerking menjadi Burgerkill karena terdengar keren. Itu saja.

Bagi Eben, titik tertinggi band besutannya adalah ketika touring di Australia dan bermain di festival besar seperti Soundwave dan Big Day Out. Tentu termasuk juga penghargaan Metal as F*ck itu. "Tapi kami tidak puas sampai di situ," ujar Eben.

Sebenarnya panggilan Aries Tanto bukan Eben ketika tumbuh besar di Jakarta. Panggilannya Bento, diambil dari lagu Iwan Fals dengan judul Bento juga--dari album Swami (1989). Anak tongkrongan di Manggarai Jakarta memanggilnya dengan sebutan itu.

Ia sempat bergaul lama di kawasan tersebut. Ada nama gang Glatik di daerah itu yang merupakan tempat tinggal neneknya. Ketika itu Iwan Fals memang yang paling disuka publik--yang lagunya kerap didendangkan oleh anak-anak Manggarai.

Setiap kali makan atau trip bersama anak tongkrongan itu, Eben selalu jadi juru bayarnya. Selalu begitu. Sehingga anak-anak menjulukinya Bento. Tak peduli tanggal tua atau musim paceklik. Tidak pusing berapa orang teman yang ikut bersamanya, dia selalu yang membayar.

Dari panggilan Bento, lama-lama orang hanya memanggil kata depannya saja. "Ben, ben," kisahnya. Kemudian nama panggilannya jadi Eben setelah pindah sekolah ke Ujung Berung, Bandung. "Gue dikeluarkan dari SMA 82," kata Eben.

Bandung sebenarnya pilihan keduanya untuk meneruskan sekolah. Pilihan pertamanya adalah Surabaya. Namun karena omnya yang tinggal di Surabaya itu polisi dan galak, membuatnya batal ke sana.

Eben saat itu merasa sudah malas menyelesaikan sekolah. "Tapi nyokap mendorong gue agar meneruskan," tutur lulusan Design Produk Itenas Bandung ini.

Eben memang dekat dengan Ibunya, juga ayahnya yang merupakan pengusaha mebel. Ia punya satu saudara pria. Pada masa kecilnya, sang ayah membebaskan Eben untuk menentukan masa depan. Termasuk di bidang seni.

Tetapi ada satu yang dilarang sang ayah: main gitar. Eben dituntut untuk tidak bermain gitar, tapi justru boleh memainkan piano dan organ. Ayahnya berharap, ia tak seperti anak tongkrongan yang menghabiskan malam dengan main gitar dan bermabuk-mabukan.

Karena kekeh belajar gitar, Eben kerap berdebat dengan ayahnya--yang menuntut Eben menjadi pengusaha nantinya, bukan gitaris. Namun Eben terlanjur kesengsem oleh teknik gitar andalan para gitaris band-band Eropa, seperti dari Gojira, Hacride, atau Lyxanzia. Selain itu band-band Amerika old-school seperti Megadeth, Slayer, dan Anthrax. "Gue nekat belajar," tuturnya.

Penderitaan Eben tak lama berlangsung. Di usianya ke-12, ia memberanikan diri membeli gitar sendiri dari celengannya. Kemudian ia belajar dari seorang pengrajin kayu bernama Mat Ramli. Mat Ramli ini tinggal di sebuah mes bengkel kayu depan rumahnya.

Untuk beberapa waktu Eben sempat terlibat kucing-kucingan dengan ayahnya--saat belajar gitar. Bahkan ayahnya sempat akan membakar gitarnya ketika nilai sekolah Eben jelek. "Yang jadi kambing hitam bokap gitar gue," katanya.

Namun hal itu terjadi hanya sesaat karena setelah melihat jiwa seni pada diri Eben membuat ayahnya mengalah. Lama-lama sang ayah mendukung--tapi dengan catatan. "Bokap selalu bilang, good job, I support you. Tapi jangan pernah tinggalin sekolah."

Selanjutnya, gitar pun jadi sahabat dan teman bertualang Eben untuk menjelajahi musik cadas, termasuk heavy metal--sampai saat ini.

Sang Pemimpin Begundal

Membubarkan Burgerkill

Kematian Ivan pada 2006 adalah momen paling menyakitkan bagi Eben. Ivan merupakan sahabat yang ia anggap sebagai musikus berbakat.

Sebagai mahasiswa sastra, Ivan memang suka menulis. Banyak tulisannya yang ia ajukan kepada Eben untuk jadi lirik. Titik perubahan penulisan Ivan ada di lagu Everlasting Hopes Neverending Pain--ketika dia mulai mengagumi vokalis Korn, Jonathan Davis.

Ivan merasa banyak lirik dari lagu Korn mewakili pahitnya hidup, termasuk soal drugs. Lirik lagu Anjing Tanah, yang bercerita tentang seks bebas dan pelacuran adalah lagu terakhir yang berasal dari suara Ivan. Saat itu Ivan sudah diketahui memiliki penyakit paru-paru--sehingga sering absen latihan.

Penyakitnya semakin menjadi ketika Burgerkill diundang manggung di sebuah skatepark di Bandung. Setelah nyanyi, ia menghilang tanpa kabar. Tak berselang lama, Ivan diketahui dirawat di rumah sakit dan koma.

Akhirnya setelah berjuang melawan penyakitnya, Ivan meninggal pada 27 Juli 2006. Tepat tiga pekan sebelum album Beyond Coma and Despair dirilis. Eben pun langsung drop. "Sempat ada niat untuk membubarkan Burgerkill," ujar Eben yang merasa tidak siap ditinggal Ivan.

Bahkan Eben sempat tidak mau mendengarkan album itu sampai berbulan-bulan. Ia belum cukup kuat untuk mendengar suara Ivan di album tersebut.

Tetapi Eben bisa bangkit. Dasar pikirannya adalah ia tak mau karier Burgerkill ditutup dengan album yang kelam. Sebab itu ia membuat album Venomous pada 2011.

Lagu Sakit Jiwa merupakan persembahan terakhir untuk Ivan dan semua Begundal--yang biasa ikut nyanyi bersama saat manggung. Yang memusingkan Eben adalah mencari pengganti Ivan, yang kala itu pilihannya jatuh kepada Teguh dari band Right 88.

Teguh mendapat sambutan baik dari Begundal. Namun Eben tetap mengadakan audisi untuk mencari vokalis tetap. Meskipun, bagi Eben, Ivan memang tidak pernah bisa tergantikan, namun ia juga sadar untuk memulai kembali era baru bagi Burgerkill. Pada Mei 2007 Vicky akhirnya resmi bergabung--sebagai suksesor Ivan.

Jika sebelumnya Burgerkill bicara tentang depresi dan kelamnya hidup, maka ketika Vicky terpilih menjadi vokalis, ia dan teman-temannya sepakat untuk mulai membicarakan tema lain. Yaitu kritik sosial, seperti korupsi dan ketamakan manusia.

Jadi, Ivan bicara tentang kemelaratan. Ya, karena hidup dia melarat dan kesakitan. Pada era Vicki, dia lebih sehat. Karena latar belakang keluarganya juga lebih baik. "Saat ini kita merupakan pribadi yang lebih bijak," kata Eben.

Gitaris Burgerkill Aries Tanto atau lebih dikenal Eben berpose di depan kamera usai wawancara di kediamannya, Jalan Gemuruh, Turangga, Bandung, Jawa Barat, Kamis (13/7/2017).
Gitaris Burgerkill Aries Tanto atau lebih dikenal Eben berpose di depan kamera usai wawancara di kediamannya, Jalan Gemuruh, Turangga, Bandung, Jawa Barat, Kamis (13/7/2017). Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id

Bertarung di Ujungberung

Masih tak jelas kapan musik metal masuk ke Ujungberung. Yang terang, saat Eben pindah ke sana, sudah ada komunitas metal tersebar. Mereka banyak menongkrong di Studio Palapa.

Eben tahu Ujungberung sebelum pindah sekolah. Di sana ada rumah bibinya yang kerap ia singgahi. Meski kecewa dengan SMA 1 Ujungberung--yang ia andaikan sebagai kandang merpati--Eben merasa betah. Sebab, ia bisa tukar informasi mengenai musik, khususnya metal--meski saat itu ia gandrung dengan genre punk.

Meski berseberangan dengan komunitas metal di sana, Eben cuek saja memakai kaos band punk Sex Pistols. Tapi dengan sikapnya itu, justru memancing diskusi komunitas metal di sana. Mereka jadi mencari referensi musik lain, selain metal.

Kala itu tidak ada internet, sehingga informasi musik cenderung eksklusif. Informasi hanya didapat dari majalah-majalah luar. Untuk mengorder T-Shirt pun masih harus dengan cara yang primitif, dengan menggunakan katalog, mengisi formulir dan membayar dengan kartu kredit.

Nah, lewat si Kimung dan Ivan, Eben mulai masuk ke komunitas metal di sana.

Pada era itu ada empat band metal yang menjadi ikon Ujungberung: Funeral, Necromancy, Jasad, dan Orthodox. Mereka menggebrak berbagai panggung di Bandung.

Burgerkill jadi generasi selanjutnya setelah empat band itu. Bersama Disinherit, Sonic Torment, Forgotten, Truth, Beside, Embalmed, Disinfected dan lain-lain mereka semakin mewarnai musik metal di sana.

Eben merasakan perbedaan Ujungberung dulu dan sekarang. Dahulu menurut Eben kawasan itu cenderung anti terhadap warna musik lain. Pokoknya selain metal mereka tidak akan mendengarkan yang lain. "Akhirnya mereka membuka pikiran, karena ternyata kan musik underground itu luas," tuturnya.

“Sudah bukan zamannya rockstar gandeng cewek”

Eben Burgerkill

Sekian lama menggeluti musik metal, membuat mental Eben kian terasah. Perjuangannya menyebarkan virus metal lewat Burgerkill membuahkan hasil. Tak seperti dulu, Burgerkill kini begitu diminati banyak orang.

Sejak populer itu Eben kerap didekati partai politik ketika musim Pemilu. Tetapi Eben tidak peduli walau tawarannya amat menggiurkan. "Harga dari mereka itu enggak pakai menawar he-he."

Pengalaman itu dijadikan dasar Eben untuk memupuk idealisme band-nya: mencoba mandiri dan selalu menabrak batasan dalam berkarya. "Jangan jumawa juga, harus cool," tuturnya.

Eben ingin mematahkan anggapan rockstar yang ingin diperlakukan sebagai raja. Ia memilih berpihak pada kesederhanaan. "Sudah buka zamannya rockstar gandeng cewek," ujarnya.

Tak kalah penting, ia berterima kasih kepada Begundal yang setia mendukung selama 27 tahun kiprah band-nya.

Demi fan pula ia ingin Burgerkill tak cuma bermusik, tapi juga terus mengkreasi karya lain seperti desain kaus, buku dan film. ''Kami mau inspirasi banyak orang dengan karya,'' ujarnya.

**-**

Wawancara usai. Sambil beranjak, Eben mematikan bara rokoknya di atas asbak, kemudian mengajak berkenalan dengan Si Wiro, Si Lanang dan Si Jenggo--yang merupakan nama-nama gitarnya. Salam tiga jari !