Lokadata.ID

Ekonomi pulih di 2022, Indonesia hadapi ancaman depresi

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berjalan lambat.
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berjalan lambat. Sigid Kurniawan / ANTARA FOTO

Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KCP-PEN) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia baru akan sepenuhnya pulih pada tahun 2022. Jika di kuartal III/2020 Indonesia memasuki fase resesi, bukan tidak mungkin akan berkepanjangan dan menyebabkan depresi ekonomi.

Ketua Pelaksana KCP-PEN, Erick Thohir, mengatakan, perekonomian nasional baru bisa sepenuhnya pulih di kuartal I/2022. Meskipun, dirinya tidak memungkiri jika sudah banyak riset yang memprediksi perekonomian akan tumbuh positif mulai tahun depan.

Beberapa lembaga yang merilis proyeksi tersebut diantaranya Bank Dunia, dan Bank Pembangunan Asia atau ADB. Hanya saja, Erick melihat Indonesia masih butuh satu tahun lagi agar perekonomiannya bisa kembali tumbuh seperti sebelum pandemi berlangsung.

"Kami berharap nantinya, dan sudah banyak riset yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi akan kembali positif, tetapi kalau tumbuh benar-benar seperti sebelum kejadian covid semua memprediksi baru kuartal I 2022," jelasnya pada Selasa, (15/9/2020).

Menurutnya, perekonomian Indonesia akan terus tumbuh seiring dengan penanganan krisis kesehatan akibat virus korona. Karenanya Erick mengatakan, pemerintah akan terus mendorong penanganan kesehatan dan perekonomian secara simultan.

Prioritas pemerintah menurutnya masih sama, yaitu memastikan masyarakat aman dari korona. Baru setelah itu pemerintah bisa berbicara Indonesia kembali bertumbuh. Karenanya ia berharap program vaksinasi sudah bisa dilakukan pada awal tahun 2021, seiring dengan berjalannya investasi dan stimulus ekonomi dari pemerintah.

"Kami tidak pernah bicara Indonesia tumbuh ketika program Indonesia Sehat tidak berjalan dengan baik. Kami tidak bicara Indonesia bekerja kalau Indonesia tidak fokus pada kesehatan," jelasnya.

Stimulus ekonomi

Selain pengentasan pandemi, untuk mengejar pertumbuhan ekonomi tersebut, ia mengatakan sejumlah stimulus ekonomi juga telah disiapkan pemerintah. Salah dua sektor yang akan difokuskan merupakan bisnis dan masyarakat.

Pemberian stimulus kepada sektor tersebut diharapkan dapat mendorong tingkat konsumsi masyarakat serta memberikan penguatan bagi sektor usaha untuk mampu bertahan selama pandemi berlangsung.

"Ekonomi Indonesia tumbuh bila program selanjutnya berjalan baik, masyarakat juga akan bisa bertahan, ini ada catatan bahwa hal ini mampu mendorong ekonomi Indonesia," paparnya.

Di sisi lain, upaya mendorong stabilitas ekonomi juga akan dilakukan dengan meningkatkan kemampuan produksi sumber daya alam. Di mana pemaksimalan tersebut tidak hanya terbatas pada mineral saja, tetapi juga didorong pada sektor pertanian dan maritim.

"Ekonomi dunia akan shifting ke negara selatan seperti China, India dibeberapa negara Asia dibandingkan di Eropa dan Amerika Serikat. Afrika juga akan jadi potensi, karena itu perdagangan south to south diprioritaskan," terangnya.

Sementara, Ketua Satgas PEN, Budi Gunadi Sadikin melaporkan, realisasi anggaran penanganan korona baik untuk kesehatan maupun ekonomi, per 14 September, telah terserap sebesar 34,65 persen atau setara Rp240,9 triliun dari total anggaran yang mencapai Rp695,2 triliun.

Budi mengklaim, angka serapan tersebut tumbuh 30 persen jika dibandingkan dengan Juli 2020, atau sebelum pembentukan KPC-PEN. Khusus untuk dana yang dialokasikan kepada Satgas PEN, Budi mengatakan dari total anggaran sebesar Rp100 triliun, jumlah yang telah disalurkan dalam kurun tujuh Minggu mencapai Rp87,5 triliun.

Dirinya optimis dapat menyalurkan sisa anggaran tersebut hingga akhir September ini. Pasalnya, saat ini Satgas PEN tengah mendorong percepatan penyaluran bantuan ke masyarakat melalui Banpres Produktif dan Subsidi Gaji Pekerja. Kedua program tersebut diharapkan dapat menyalurkan dana masing-masing sebesar Rp8,6 dan Rp8,8 triliun hingga akhir bulan ini.

“Kami akan bekerja keras agar dari Rp87,5 triliun yang sudah kami salurkan kami bisa tingkatkan menjadi Rp100 triliun di akhir september ini," jelasnya dalam konferensi pers pada Rabu, (16/9/2020).

Lebih lanjut, Budi mengatakan dari empat program yang menjadi tanggung jawab PEN, realisasi terbesar didapatkan program perlindungan sosial. Serapannya sudah mencapai 59,3 persen atau sekitar Rp120,4 triliun. Dirinya berharap seluruh anggaran dapat terserap di akhir tahun nanti.

Program lain dengan realisasi tinggi terkait UMKM. Ia mengatakan program ini juga termasuk salah satu fokus penyaluran Satgas PEN karena mampu tenaga kerja dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. Anggaran yang telah disalurkan mencapai Rp58,67 triliun, atau setara 47,52 persen dari total anggaran.

Sementara untuk realisasi anggaran di sektor Kementerian/Lembaga dan pemda, Budi mengatakan sudah cukup baik. Dengan realisasinya anggaran mencapai 24,46 persen atau Rp25,95 triliun dari total pagu sebesar Rp106,06 triliun.

“Kemudian memang yang masih menunggu adalah pembiayaan korporasi. Ini di antaranya ada beberapa PMN yang mudah-mudahan di akhir September bisa cair. Gelondongannya cukup besar. Sehingga nanti ada kenaikan yang signifikan di akhir bulan ini,” paparnya.

Kemungkinan depresi ekonomi

Secara terpisah, Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, menilai prediksi Erick soal pertumbuhan ekonomi di Kuartal I-2022 tidaklah berlebihan.

Alasannya, saat ini seluruh negara di dunia sedang menghadapi ancaman depresi ekonomi yang nyata. Bahkan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) sendiri telah meramalkan kemungkinan terjadinya depresi ekonomi akibat resesi berkepanjangan yang dialami sejumlah negara.

Menurut Bhima, Indonesia termasuk salah satu negara tersebut. Jika tidak ada perbaikan penanganan pandemi pun juga pertumbuhan ekonomi, bukan tidak mungkin Indonesia akan mengalami resesi berkelanjutan dan masuk ke jurang depresi ekonomi.

“Untuk Indonesia, karena kita masuk dalam rantai pasokan global, apalagi kita eksportir komoditas, ya itu sudah ada beberapa tanda (depresi). Jadi Pak Erick tidak salah mengatakan ekonomi kita baru akan membaik seperti sebelum pandemi pada tahun 2022,” jelasnya kepada Lokadata.id, Rabu (16/9/2020).

Agar dapat terhindar dari kemungkinan terburuk salah satu cara yang dapat dilakukan pemerintah dengan mengoptimalkan anggaran dana PEN yang telah tersedia. Menurutnya guna mencapai target pemulihan ekonomi, realisasi anggaran PEN di akhir tahun nanti harus terserap 100 persen.

Bhima berpendapat, seharusnya pemerintah dapat dengan cepat mengalihkan anggaran dari program yang macet atau bermasalah kepada program yang penyerapannya lebih cepat. Semisal program pengaman sosial ataupun UMKM.

Pasalnya menurut Bhima, bantuan terhadap sektor UMKM sangat penting dan harus ditingkatkan. Sebab dalam setiap krisis ekonomi di Indonesia, yang menjadi penyelamat ekonomi merupakan UMKM.

Sedangkan dari segi konsumsi masyarakat apabila supply dan demand-nya dapat dijaga bahkan ditingkatkan, Bhima berpendapat bukan suatu hal yang mustahil Indonesia dapat terhindar dari depresi ekonomi. Sekaligus mengerek pertumbuhan ekonomi ke arah positif di Kuartal III-2021.