Lokadata.ID

Ekspor batu bara ke Filipina melesat, Cina dan India tetap terbesar

Pertumbuhan volume ekspor batu bara Indonesia kurun 2016-2020
Pertumbuhan volume ekspor batu bara Indonesia kurun 2016-2020 Bebet / Lokadata.id

Dalam laporan BPS, Indikator Ekonomi Indonesia Mei 2021 menyebut mayoritas volume pengiriman batu bara Indonesia kurun 2016-2020 terbanyak dikirimkan ke India dan Cina, namun ekspor ke Fililipa dan Malaysia tumbuh paling pesat dalam kurun lima tahun terakhir.

Pada 2016 jumlah pengiriman batu bara ke Filipina baru sebanyak 17,5 juta ton, tapi pada 2020 sudah mencapai 28 juta ton atau naik sekitar 60,32 persen. Nilai pendapatan Indonesia pada 2016 mencapai AS$788,3 juta, dan pada 2020 sudah AS$1,2 miliar atau naik 55,06 persen.

Situasi yang sama terjadi pada ekspor batu bara ke Malaysia. Volume ekspor batu bara ke Malaysia pada 2016 baru mencapai 17,2 juta ton, tapi empat tahun kemudian sudah di angka 26,7 juta ton atau naik 54 persen. Devisa yang masuk ke Tanah Air pun naik cukup besar dari AS$807 juta (2016) menjadi AS$1,3 miliar pada 2020.

Seperti halnya Indonesia, Filipina dan negara berkembang lainnya masih menjadikan batu bara menjadi bahan bakar utama untuk pembangkit listrik. Namun, ancaman pada keberlangsungan ekspor batu bara Indonesia sudah di depan mata. Filipina, misalnya, menargetkan energi terbarukan dalam bauran energi sebesar 35 persen pada 2030.

Kemungkinan besar Filipina akan mencapai angka tersebut lebih cepat. Departemen Energi Filipina pada Oktober lalu mengumumkan, pembangkit listrik tenaga batu bara, masih menyumbang 41 persen, minyak dan gas alam masing-masing 17 persen dan 13 persen, sedangkan energi terbarukan sudah 29 persen.

Sejumlah pemasok listrik Filipina juga mendukung upaya ini. Misalnya, San Miguel Corp. pada April lalu mengumumkan akan menggelontorkan AS$1 miliar untuk membangun 31 fasilitas penyimpanan energi baterai dengan total kapasitas lebih dari 1.000 MW. San Miguel menyumbang 20,7 persen kebutuhan listrik Filipina.

Selain itu, sejak 2017 Filipina menaikkan tarif pajak bea masuk batu bara untuk mempercepat transisi energi terbarukan. Besaran bea masuk baru dinaikkan secara bertahap menjadi 50 peso per ton pada 2018, naik lima kali lipat dari sebelumnya. Bea masuk pada 2019 menjadi 100 peso, pada 2020 menjadi 150 peso.

Berbeda dengan Filipina, penggunaan batu bara masih cukup besar di Malaysia. Tingkat ketergantungannya semakin naik dari 20 tahun sebelumnya. Sumber listrik Malaysia pada 2017 sebanyak 50,6 persen bersumber dari batu bara, sedangkan pada 1997 kontribusi batu bara sebagai sumber energi hanya 7,4 persen.

Pada 2021, pembangkit batu bara masih menyumbang sekitar 37 persen, nomer dua setelah gas alam (45 persen). Sampai 2029, pasar Malaysia tampaknya aman karena proporsi pembangkit batu bara masih di kisaran 36-37 persen. Dengan meningkatnya kapasitas listrik di Negeri Jiran itu, kebutuhan batu bara masih akan tinggi sampai 2029.

Peningkatan ekspor batu bara ke Cina masih lumayan tinggi. Pada 2020, Indonesia mengekspor 62,4 juta ton batu bara ke Cina atau naik 22,63 persen dibandingkan tahun 2016. Dalam kurun 2016-2020, devisa yang masuk juga naik 26,5 persen menjadi AS$2,65 miliar pada 2020.

Situasi berbeda terjadi di India karena ekspor batu bara sudah mulai melandai. Sepanjang empat tahun itu, pengiriman batu bara ke India hanya naik 3,29 persen atau dari 95,1 juta ton pada 2016 menjadi 98,2 juta ton pada 2020. Devisa dari India juga cuma naik 3,12 persen menjadi AS$3,4 miliar pada 2020. Ekporter terbesar batu bara ke India adalah Australia.

Sepanjang 2020, Cina merupakan importer batu bara terbesar di dunia. Australia, Indonesia, dan sejumlah negara eksporter mengirim batu bara ke Cina senilai AS$16,4 miliar, India berada di posisi ketiga dengan AS$15,87 miliar, Malaysia di posisi ke-9 dengan AS$2,3 miliar, dan Filipina berada di peringkat 12 sebesar AS$1,5 miliar.

Global Warming Policy Foundation—sebuah lembaga tangki pemikir yang fokus pada kajian kebijakan pemanasan global yang bermarkas di Inggris—pada April 2021 merilis bahwa ketergantungan Cina pada batu akan terus meningkat bila dibanding dengan negara lainnya.

Apalagi sejumlah pembangkit listrik batu bara di Cina baru selesai pembangunan pada 2020 lalu. Bahkan Global Warming Policy menyebut jumlah tambahan daya listrik Cina dari batu bara itu mencapai 38 gigawat dan itu setara dengan 76 persen konsumsi energi dunia. Peningkatan itu dilakukan untuk pemulihan ekonomi akibat pandemic Covid-19.

Hal serupa terjadi di India, ketergantungan pada batu bara sangat tinggi. Meski sedang berupaya menuju energi hijau, dalam satu dekade ke depan penggunaan India diprediksi akan tetap menggunakan batu bara sebagai sumber energinya. Pada 2021, sekitar 65 persen listrik India bersumber dari pembangkit batu bara.

Pertumbuhan nilai pendapatan ekspor batu bara Indonesia dari masing-masing negara tujuan.
Pertumbuhan nilai pendapatan ekspor batu bara Indonesia dari masing-masing negara tujuan. Bebet / Lokadata.id