Lokadata.ID

Emiten baru didominasi sektor konsumsi dan teknologi, siapa paling untung?

Seorang petugas kebersihan melintasi layar digital pergerakan saham di Jakarta, Rabu (28/7/2021).
Seorang petugas kebersihan melintasi layar digital pergerakan saham di Jakarta, Rabu (28/7/2021). Akbar Nugroho Gumay / ANTARA FOTO

Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan tren pencatatan saham perdana (initial public offering/IPO) di pasar modal Indonesia masih akan bergairah pada separuh akhir tahun ini. Menurut catatan BEI, sampai akhir 2021, setidaknya masih ada puluhan emiten yang akan IPO. Bagaimana perkembangan tren IPO emiten sejauh ini?

Berdasarkan data BEI, jumlah perusahaan yang IPO pada sepanjang Januari hingga Juli tahun ini mencapai 27 perusahaan. Capaian ini lebih tinggi dari tren IPO periode yang sama 2020 sebesar 18 perusahaan, atau meningkat 50,0 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Menurut data BEI, dari total 27 perusahaan itu, sepertiga di antaranya merupakan perusahaan yang bergerak di sektor barang konsumen baik primer maupun nonprimer. Rinciannya, sektor barang konsumen primer tercatat ada 5 perusahaan, sedangkan barang konsumen nonprimer mencapai 4 perusahaan.

Setelah sektor konsumsi, tren IPO juga didominasi oleh sektor teknologi dan barang baku dengan jumlah masing-masing 4 perusahaan. Berikutnya, sektor properti & real estate, perindustrian, kesehatan, dan keuangan semuanya menyumbang 2 perusahaan. Sedangkan, sektor energi dan infrastruktur menempatkan masing-masing 1 perusahaan.

Data BEI yang lebih rinci menunjukkan, dari puluhan perusahaan tersebut, sejumlah emiten mencatatkan kenaikan harga saham yang luar biasa. Harga saham PT DCI Indonesia, misalnya, saat ini sudah Rp59.000 per lembar, padahal harga saat IPO hanya Rp420 per lembar saham atau naik 150 lima kali lipat.

Kenaikan saham perusahaan yang bergerak di sektor teknologi itu membuat kapitalisasi pasar DCII melejit menjadi Rp141 triliun. Pada saat IPO, kapitalisasi pasarnya hanyaRp1 triliun. DCII juga langsung merangsek ke peringkat 10 besar perusahaan dengan kapitalisasi terbesar, di bawah PT Unilever Indonesia Tbk mencapai Rp165 triliun.

Namun, sejak 17 Juni lalu, perdagangan harga saham DCII dihentikan (suspensi) oleh BEI lantaran terindikasi unusual market activity/UMA. Istilah ini merujuk pada aktivitas perdagangan dan/atau pergerakan harga saham di luar kewajaran. Menurut BEI, status UMA ini tidak serta merta menunjukkan pelanggaran di pasar modal Indonesia.

Saham emiten lain yang naik signifikan adalah PT Bank Net Indonesia Syariah Tbk atau Bank Aladin Syariah. Saat IPO, harganya hanya Rp103 per lembar saham, namun kini sudah Rp3.350 (3.152,4 persen). Harga saham PT Damai Sejahtera Abadi Tbk juga naik 964,4 persen, PT Triniti Dinamik Tbk 820,0 persen, dan PT Sunter Lakeside Hotel 633,3 persen.

Lebih lanjut, data BEI juga menunjukkan, dari daftar 27 IPO tahun ini, ada dua perusahaan yang berhasil menghimpun dana mencapai triliunan rupiah. PT Archi Indonesia, misalnya, perusahaan emas ini pada saat IPO meraup dana mencapai Rp2,79 triliun, tertinggi di antara perusahaan lainnya.

Setelahnya ada PT Fap Agri Tbk yang berhasil menghimpun dana dari pasar perdana sebesar Rp1,01 triliun. Secara keseluruhan, berdasarkan data BEI, total dana publik yang sudah terhimpun pada saat IPO sepanjang tahun ini mencapai Rp7,12 triliun.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna mengatakan, di sisa akhir tahun ini, setidaknya ada 25 perusahaan yang akan mencatatkan sahamnya di pasar modal Indonesia. Menurut perkiraannya, puluhan perusahaan tersebut mengejar dana total mencapai Rp5,5 triliun.

Nyoman belum bisa menyebutkan nama-nama perusahaan pipeline IPO pada tahun ini lantaran mereka belum mendapatkan izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Namun, dia mengatakan, dalam waktu dekat ini salah satu perusahaan unicorn teknologi, yakni PT Bukalapak.com Tbk, akan mencatatkan sahamnya di pasar modal.

Bukalapak bakal masuk bursa pada Jumat, 6 Agustus. Perusahaan yang berdiri sejak 2010 ini akan melepas sebanyak 25,76 miliar saham dengan harga Rp750-Rp850 per saham. Bukalapak digadang-gadang akan menjadi perusahaan unicorn pertama yang IPO dengan potensi dana yang dihimpun mencapai Rp21,9 triliun.

Menurut Nyoman, masih banyaknya emiten yang berminat IPO pada separuh akhir tahun ini karena ekspektasi pada prospek pemulihan ekonomi Indonesia yang baik. Dia berkata, kondisi ini juga diharapkan dapat memberikan iklim positif bagi pasar saham Indonesia.

Mantan Pengurus Perhimpunan Pendidikan Pasar Modal Indonesia ini juga mengatakan, lembaganya menyambut baik perusahaan yang akan melakukan penggalangan dana di bursa saham. Dia berkata, BEI turut mendukung perusahaan dengan berbagai macam jenis usaha, sektor usaha, dan skala perusahaan yang akan mencatatkan sahamnya.