Lokadata.ID
Erlina Burhan: Belum tentu corona lebih pintar dari SARS
Ketua Kelompok Kerja Infeksi Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Erlina Burhan saat ditemui di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Jakarta Timur, Minggu malam (9/2/2020). Wisnu Agung/

Erlina Burhan: Belum tentu corona lebih pintar dari SARS

Menurutnya corona tak bisa menempel di kulit lalu tumbuh. Dia butuh sesuatu yang mengikat, seperti enzim protein yang ada di saluran nafas--untuk replikasi diri.

Dalam beberapa pekan terakhir, media makin tak sabar memburu sumber yang bisa menyampaikan informasi tentang virus corona—yang menyebar cepat ke penjuru dunia. Di antara sumber yang diburu dan paling menonjol adalah Erlina Burhan, dokter spesialis paru yang menggembar-gemborkan pentingnya cuci tangan.

“Kebersihan tangan itu pertahanan utama dari penyebaran dan penularan corona,” ujar Ketua Kelompok Kerja Infeksi Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia ini.

Virus corona memang tak henti diperbincangkan. Selain telah menginfeksi hampir 40 ribu orang dan sembilan ratusan di antaranya meninggal, virus tersebut juga belum memiliki obat dan vaksinnya.

“Banyak pasien saya minta divaksin. Media juga terus bertanya. Ya kan belum ada,” tuturnya saat wawancara dengan Heru Triyono dan fotografer Wisnu Agung di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Jakarta Timur, Minggu sore (9/2/2020).

Awalnya, Erlina coba tidak memalingkan media manapun. Namun, ada belasan wartawan menghubunginya saban hari. Total, ia menghitung, ada sekitar 30-an media yang memintanya untuk wawancara. “Lama-lama enggak sanggup juga. Ha-ha,” ujar Anggota Satgas Waspada dan Siaga NcoV PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) ini.

Sore itu, selama satu jam, Erlina bicara dengan gaya ceplas-ceplos mirip Mama Dedeh. Kami membahas tentang penyebaran cepat corona dan kekhawatiran terbesarnya tentang virus itu ketika masuk ke Indonesia. Berikut tanya jawabnya:

Ketua Kelompok Kerja Infeksi Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Erlina Burhan saat ditemui di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Jakarta Timur, Minggu malam (9/2/2020).
Ketua Kelompok Kerja Infeksi Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Erlina Burhan saat ditemui di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Jakarta Timur, Minggu malam (9/2/2020). Wisnu Agung / Lokadata.id

Kapan kita dapat mengatakan bahwa yang terburuk dari virus corona sudah berakhir?
Itu belum bisa dijawab. Yang pasti, dari hari ke hari, penyebarannya semakin cepat.

Di situ bisa ada dua kemungkinan. Kemampuan Cina untuk mendeteksi semakin canggih atau virusnya yang semakin pintar—sehingga dengan cepat menyebar.

Corona lebih pintar dari SARS dan MERS CoV?
Enggak, enggak. Belum tentu dan belum bisa dipastikan. Kalau SARS dan MERS CoV itu kan di udara terbuka hanya bisa bertahan beberapa jam sampai dua hari.

Kalau corona masih sangat baru. Sehingga butuh penelitian lebih jauh.

Jadi bagaimana membandingkan beberapa virus itu?
Corona yang ditemukan di Wuhan ini tidak identik dengan SARS atau MERS. Tapi gejalanya sama, seperti batuk, demam dan kesulitan bernafas—yang kemudian berkembang sampai menyerang paru. Nah ini yang jadi berat.

Orang batuk, sesak nafas dan kalau imunitasnya rendah, bisa meninggal. Apalagi ada riwayat diabetes, hipertensi, sakit ginjal, maka akan semakin berat.

Mirip virus HIV?
Beda ya. Sistem imun memang jadi rendah karena virus (HIV) ini, tapi kan meninggalnya tidak mendadak. Kalau corona itu bisa meninggal dalam waktu singkat.

Kenapa sih orang yang terjangkit corona bisa meninggal mendadak?
Soalnya menyerang saluran nafas. Jika masuk ke paru, orang akan sesak nafas. Lalu, toksin-toksin yang dikeluarkan virus itu kan dilawan sistem imun, tapi justru membuat paru semakin penuh, padat, sehingga makin sesak.

Akut ya?
Karena menjadi pneumonia (radang paru), ya akut, bukan kronik. Kalau kronik itu mereka dengan riwayat diabetes, hipertensi, strok atau gagal ginjal.

Apa saja gejala lainnya kecuali sesak dan batuk tadi?
Masih belum ada urutannya. Terlalu dini untuk menyimpulkan. Tapi tanda-tanda umum infeksinya ya gejala pernafasan tadi: sakit tenggorokan, batuk, sesak nafas dan demam.

Adakah tanda fisik?
Tadi itu. Jika itu adalah kasus pneumonia, pada pemeriksaan paru, mungkin ada mengi (penyakit sesak nafas).

Apakah virus ini bisa menempel di kulit manusia kemudian berkembang?
Memang, mudah sekali virus ini berkembang biak. Tapi perlu diingat, virus ini masuk lewat saluran apa. Jadi dia gak bisa menempel di kulit lalu tumbuh.

Dia perlu sesuatu yang bisa mengikat—seperti reseptor yang menerimanya.

Nah di saluran nafas itu ada enzim protein, yang diperlukan virus untuk replikasi dirinya sendiri. Sebagian kecil lagi, enzim itu ada di saluran cerna.

Sudah valid ya corona berasal dari kelelawar?
Memang hidupnya di kelelawar. Tapi ada inang (organisme tempat parasit tumbuh dan makan) perantaranya.

Seperti ular, kucing atau musang. Jadi, situasi di pasar tradisional Wuhan itu memang banyak inang perantaranya.

Banyak hewan-hewan liar itu dijual dan tidak ada pemisahan di antara mereka. Kita juga enggak tahu apakah terjadi mutasi virus di antara hewan-hewan itu. Kemungkinan itu kan ada.

Bagaimana cara penularan virus itu di pasar tradisional Wuhan?
Kita tahu, kelompok masyarakat yang pertama kali dirawat sebagian besar bekerja di pasar itu. Kemungkinannya ada kontak erat antara hewan dan manusia.

Misalnya, potong daging tidak pakai sarung tangan dan tidak menerapkan personal hygiene.

Apakah kultur makan hewan liar ini memengaruhi persebaran virus corona?
Bisa saja. Mereka kan memang makan sup ular, kelelawar, kemudian daging tikus dan anjing.

Bisa jadi penularan ini terjadi pada saat mengolah. Tapi kalau sudah matang seperti sup, saya yakin suhunya kan cukup tinggi ya, jadi virus bisa mati.

Tapi kita belum tahu pasti kan. Kita enggak datang langsung ke Wuhan sana. Apalagi pasar itu juga sudah lama tutup.

Oke. Bagaimana dengan di Tomohon Sulawesi Utara, pasar yang serupa dengan di Wuhan. Kenapa corona tidak berkembang di sana?
Betul. Mungkin di Tomohon hewan liarnya dipisah, sehingga tidak terjadi mutasi virus di antara hewan itu.

Apakah ada hubungannya dengan cuaca Indonesia yang tropis, sehingga corona tidak berkembang?
Nah. Secara teori memang dikatakan bahwa virus ini tidak aktif di suhu yang tinggi dan kelembaban yang tinggi. Aktivasi corona meningkat di suhu dan kelembaban yang rendah.

Ketua Kelompok Kerja Infeksi Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Erlina Burhan saat ditemui di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Jakarta Timur, Minggu malam (9/2/2020).
Ketua Kelompok Kerja Infeksi Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Erlina Burhan saat ditemui di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Jakarta Timur, Minggu malam (9/2/2020). Wisnu Agung / Lokadata.id

Mirip Wuhan, Jakarta juga memiliki jumlah penduduk yang sama, sekitar 11 juta orang…
Iya. Sama ramainya. Makanya kita harus waspada dan menyebarkan informasi yang benar.

Bayangkan, orang itu enggak boleh keluar ruangan--di Wuhan saat ini. Sungguh mencekam kota itu sekarang.

Kebijakan pemerintah menjemput WNI di sana, apakah perlu?
Saya kira itu tindakan paling tepat. Negara lain sudah lebih dulu dan ada kemungkinan virus itu akan menyebar lebih luas.

Jadi bagus sekali mereka dipulangkan, di tengah logistik yang serba terbatas dan virus yang mulai meluas.

Termasuk menyetop penerbangan langsung ke Cina?
Iya. Itu bagus. Mumpung Indonesia belum ada kasusnya. Cegahlah orang-orang yang menjadi sumber infeksi ini untuk masuk. Kan kita tahu sumber infeksinya ada di Cina. Lebih baik disetop.

Minimal sudah mengurangi risiko. Kalaupun ada yang masuk, menurut saya harus diobservasi dulu 14 hari.

Yang penerbangan transit kan masih bisa masuk Indonesia. Dari Cina transit di Malaysia misalnya…
Maka itu. Semua yang masuk Indonesia ditelusuri saja paspornya. Empat belas hari terakhir ke mana saja.

Kalau dari Cina, harus diberlakukan sama dengan WNI lain—seperti di Natuna. Yaitu diobservasi. Pintu masuk ke Indonesia pokoknya harus ketat.

Kalau terbukti orang itu terjangkit, telusuri juga dengan siapa-siapa saja dia berinteraksi.

Sampai saat ini corona memang tak ada obatnya ya?
Ya belum. Baru saja virus ini ditemukan. Membuat obat itu lama. Harus diuji coba. Stepnya banyak sekali.

Begitu juga vaksin. Enggak ada itu vaksin yang serta merta dalam sekian bulan langsung jadi.

Jadi, kalau ada kasus corona ditemukan di Indonesia, bagaimana?
Saya rasa Indonesia sudah siap. Ada 100 rumah sakit rujukan yang sudah disiapkan. Ini kan bicara soal tata laksana medis ya.

Tentu lebih kepada yang sifatnya suportif, dalam arti menyembuhkan sesuai dengan gejala yang ada.

Jika ada yang sesak, ya diberikan oksigen, kemudian antibiotik jika ada infeksi. Obat ini mengatasi infeksinya, bukan corona-nya.

The Sidney Morning Herald menulis absennya corona di Indonesia lebih karena ketidakmampuan kita mendiagnosis virus ini?
Kalau dari pernyataan (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan) Kementerian Kesehatan, mereka itu bisa deteksi.

Kenapa ada kecurigaan itu dari luar negeri terhadap Indonesia?
Saya kurang paham juga.

Untuk penekanan. Apa yang dilakukan pemerintah sudah cukup ya?
Menurut saya sudah. Awal-awal ketika lokasi observasi di Natuna itu dapat protes, ya karena kurang sosialisasi saja. Tapi kita juga jangan lebay terhadap corona.

Masyarakat harus dapatkan informasi yang benar. Jangan mengira virus ini bisa menular lewat buah impor, bisa sembuh pakai alkohol atau menular lewat tatapan mata. Itu hoaks.

Tidak perlu juga pakai masker N95.

Panik, soalnya jumlah korban meninggal lebih tinggi dari serangan virus SARS pada awal 2000 dulu…
Kuncinya itu adalah cuci tangan dan kalau di keramaian pakai masker. Jangan pegang-pegang wajah deh kalau tangan gak bersih. Pasti sudah sering kan saya bicara begini. He-he.

Menurut Anda, hoaks apa yang paling berbahaya terkait corona?
Hoaks bahwa virus ini adalah senjata biologis yang disebarkan. Ini kan hanya bikin orang panik.