Lokadata.ID

Fesyen, makanan, dan musik K-Pop terpopuler di Indonesia

K-pop boy band, Super Junior, saat tampil dalam upacara penutupan Asian Games 2018 di Gelora Bung Karno, Jakarta, Indonesia (2/9/2018)
K-pop boy band, Super Junior, saat tampil dalam upacara penutupan Asian Games 2018 di Gelora Bung Karno, Jakarta, Indonesia (2/9/2018) Mast Irham / EPA-EFE

Penikmat budaya Korea Selatan tak sekadar tentang musik K-Pop, tapi juga pengikut tren fesyen dan menonton drama atau serial televisinya. Drama yang menguras emosi, paras rupawan para bintang, hingga tarian lincah para artis K-Pop membuat mereka menghabiskan 12 hingga 20 jam saban bulannya.

Gelombang budaya Korea Selatan atau populer dengan istilah hallyu mulai menerjang dunia sejak 1990-an. Kata itu secara literal bermakna "gelombang korea", yang setidaknya terdiri dari konten budaya yang kompetitif; pesohor yang mampu menarik jutaan penggemar setia; dan media massa yang menjadi promotornya.

Sekilas profil hallyu itu terungkap lewat History of Korean Popular Culture: From Its Embryonic Stage to Hallyu (Korean Cultural Wave) dalam jurnal "American International Journal of Contemporary Research", terbitan Desember 2018.

Sejarah kelahiran budaya populer Korea Selatan ini tak lepas dari pengaruh berkuasanya Jepang di Asia, dan memuncak ketika Amerika Serikat terlibat dalam perang Korea pada 1945. Budaya populer ala Amerika pun menggeser dominasi Jepang, dan menjadi arus utama hingga melahirkan "budaya pop Korea Selatan yang baru".

Ia digadang sebagai gelombang budaya ketiga di Asia--setelah dominasi Tiongkok dan Jepang--yang lahir berkat perkembangan teknologi informasi pada abad-21. Kehadirannya disebut mengakhiri kejayaan Sinocentrisme ala Tiongkok, dan industrialisasi modern ala Jepang.

Popularitasnya di Indonesia bisa dilacak sejak 2000-an, saat drama televisi berjudul Endless Love yang menyuguhkan kisah sedih dan tragis, jadi favorit penonton. Drama ini merebut perhatian di tengah drama lain buatan Shanghai, Meteor Garden (2001).

Pakar budaya Korea dari Universitas Indonesia, Zaini, menyebut penggemar budaya Korea lumrah berlaku di kalangan anak muda. Anak muda yang dinamis dan ingin tahu sesuatu yang baru memantik konsumsi konten ala Korea tanpa jeda.

“Dari drama mulai masuk bidang-bidang lain seperti musik, fesyen, gaya hidup hingga tahap meniru dan meminati Bahasa Korea,” kata Zaini yang juga Dosen Program Pendidikan Bahasa dan Budaya Korea, Universitas Indonesia, Jumat (15/3/2019).

Dedikasi pada waktu dan uang

Badan Promosi Kebudayaan Internasional Korea, Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata, merilis hasil penelitian hallyu wave di 16 negara bertajuk 2017 Study on Ripple Effects of Hallyu. Di Indonesia, mereka mewawancarai 400 responden yang pernah menikmati konten Korea.

Skor indeks popularitasnya di Indonesia mencapai 3,49 pada 2017. Meski angkanya sempat menurun dari tahun sebelumnya, popularitasnya Indonesia terbilang cukup tinggi dibandingkan dengan responden di Jepang, India, Tiongkok, dan Thailand.

Produk Korea terfavorit--lebih dari 50 persen responden menyatakan terpopuler-- adalah produk kecantikan atau fesyen, musik K-pop, dan makanan. Buku menjadi produk budaya Korea yang paling tak populer--hanya dipilih 29,8 persen responden.

Namun, perlu diingat bahwa mereka yang hanyut dalam gelombang hallyu ini tak terkonsentrasi di satu pilihan produk budaya. Misalnya, pencinta musik K-Pop bisa sekaligus menjadi penggemar film atau drama serial Korea.

Penggemar setianya, bisa menghabiskan waktu rata-rata 18,8 jam dalam sebulan untuk mendengarkan musik, termasuk menonton konser. Selain itu, mereka juga mampu menonton drama Korea hingga 20,6 jam setiap bulan dan 17,9 jam untuk menonton film.

Bayangkan bila seorang penggemar mengonsumsi musik, film, dan drama televisi Korea sekaligus, akumulasinya bisa mencapai 2 jam setiap sehari dalam sebulan--setara seperempat waktu produktif per hari pada hari kerja normal.

Mereka juga rela merogoh kocek dalam-dalam untuk menikmati produk Korea. Ada yang bisa menghabiskan Rp8,1 juta untuk membeli album, kartu pos, banner, light stick, poster, dan menonton konser.

Rata-rata setiap penggemar di Indonesia menghabiskan $10,5 AS per bulan, atau sekitar Rp1,82 juta per tahun untuk menikmati konten Korea, dengan pengeluaran terbesar pada drama Korea.

Gelaran BLACKPINK 2019 World Tour di Indonesia, misalnya, harus diperpanjang karena tiket habis terjual jauh sebelum pelaksanaannya pada 20 Januari 2019. Promotor acara pun menambah jadwal penampilan sehari, pada 19 Januari 2019.

Konser yang digelar di ICE BSD, Tangerang, Banten, itu harga tiketnya berkisar Rp1.100.000 hingga Rp2.500.000. Para penggemar juga rela merogoh kantong untuk membeli light stick saat konser, atau untuk menginap di hotel bagi mereka dari luar kota.

Penetrasi terstruktur

Zaini melihat fenomena hallyu berbeda dengan demam budaya lain seperti India atau Tiongkok yang pernah berkembang di Indonesia. Keterlibatan pemerintah Korea Selatan ikut mempromosikan budaya mereka menjadi kunci kesuksesan.

Sejumlah kementerian di Korea Selatan yang terlibat aktif seperti Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pariwisata, dan keterwakilan Kedutaan Korea di sejumlah negara termasuk Indonesia. Di beberapa acara kenegaraan, pemerintah setempat juga turut menggandeng seniman.

“Mereka (pemerintah Korea) aktif mengundang pelaku seperti penyanyi dan seniman (saat berkunjung ke negara lain), sehingga (penetrasi budaya) masuk dalam berbagai sektor dalam konteks Korea,” kata Zaini.

Tahun 2017, Leeteuk, ketua dari grup Super Junior turut memberikan pidato singkatnya dalam pertemuan bisnis dari negaranya dan Indonesia. Acara tersebut membahas tentang kerja sama Indonesia dan Korea Selatan dalam bidang industri dasar, ekonomi kreatif, energi dan wisata.

Presiden Moon Jae-in juga pernah memboyong sejumlah artis K-pop ke Beijing untuk menemui presiden China Xi Jinping dalam acara kenegaraan. Beberapa artis yang ikut dalam acara ini seperti aktris yang membintangi drama populer Descendants of the Sun, Song Hye-kyo, boyband EXO, dan pasangan Choo Ja-yeon dan Xiaoguang Yu.

Bahkan, pemerintah Korsel juga mengapresiasi keterlibatan warga negara asing yang terlibat mempromosikan budaya mereka-- seperti yang dialami Zaini.

“Tahun 2015 saya mendapatkan penghargaan karena membantu menyebarluaskan informasi kebudayaan korea di Indonesia,” kata Zaini. Dengan promosi yang terencana ini, Zaini memprediksi gelombang Korea bisa bertahan lama.

“Selama mereka (pasar) masih ada sulit untuk membuat prediksi (kapan hallyu meredup) seperti lima atau sepuluh tahun, karena Korea juga terus mengemas berbagai bentuk produknya secara variatif. Itu akan bertahan di wilayah-wilayahnya,” tutup Zaini.