Lokadata.ID
Fidelis: Saatnya revolusi ganja untuk medis
Fidelis Arie Sudarwoto saat ditemui di kediamannya di kawasan Bunut, Kapuas, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Rabu (18/10/2017). Bismo Agung Sukarno/Beritagar.id

Fidelis: Saatnya revolusi ganja untuk medis

Dahulu Fidelis tak anggap ganja untuk medis sebagai hal serius. Saat tahu bermanfaat, ia setuju ganja menjadi legal.

Kami melewati tanjakan curam, bengkel motor dan tiga anjing yang terus menyalak. Lalu rumah-rumah pun mulai tampak. Satu rumah dengan yang lain berjarak belasan meter. Rumah Fidelis berada paling dekat jalan raya.

Suasana rumahnya sepi. Monitor komputer dan bungkusan plastik terlihat bergelimpangan di lantai ruang tamu. Dia, yang berkaus dan kurus, kemudian mendekat, mengumbar senyum--saat menjamu.

"Silakan masuk, saya sedang beres-beres barang istri," kata pria bernama lengkap Fidelis Arie Sudarwoto itu kepada Heru Triyono dan fotografer Bismo Agung di rumahnya, kawasan Sanggau, Kalimantan Barat, Rabu (18/10/2017).

Bertahun-tahun rumah itu jadi tempatnya bernaung bersama Yeni Riawati, sang istri, yang meninggal tujuh bulan lalu. Setiap ruangan punya kenangan. Dapur misalnya. Jadi tempat ia dan Yeni masak bersama. Yeni tak tahu masakan Kalimantan, seperti pakis dan rebung. Sementara Fidelis juga kurang tahu masakan Jawa.

"Kami akhirnya kolaborasi: masak makanan Kalimantan dengan bumbu Jawa," ujar Fidelis, menarik dua sudut bibirnya ke atas.

Yeni, yang kelahiran Magelang, wafat tepat 32 hari setelah Fidelis ditangkap karena kepemilikan 39 batang ganja. Fidelis memberi Yeni ekstrak ganja selama separuh tahun. "Saya yakin, jika pengobatan ganja enggak putus, maka Yeni masih hidup," ujar Fidelis.

Nama Fidelis memang jadi perhatian publik. Terutama saat lelaki berusia 36 ini berdalih menanam ganja untuk pengobatan istri yang mengidap penyakit Syringomyelia atau munculnya kista di sumsum tulang belakang.

Tetapi dalih itu tidak mempan di mata hakim. Ia tetap divonis delapan bulan penjara. Pada hari kami menemuinya, Fidelis baru 72 jam menghirup udara bebas. "Jujur. Saya masih suka terbayang istri," ujarnya.

Foto Yeni masih dipajang oleh Fidelis di atas meja ruang tamu. Diapit patung salib dan lilin. Di foto itu Yeni memakai kebaya pemberian sang kakek untuk pergi ke gereja. "Baju itu dipakai di Magelang, Yeni minta dirinya diabadikan dalam foto," ujar dia.

Selama dua jam, termasuk ziarah ke makam Yeni, kami bertanya-tanya kepada Fidelis soal pertemuan awalnya dengan sang istri, proses pembuatan ekstrak ganja dan juga kehidupannya di penjara. Berikut perbincangannya:

Fidelis Arie Sudarwoto saat ditemui di kediamannya di kawasan Bunut, Kapuas, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Rabu (18/10/2017).
Fidelis Arie Sudarwoto saat ditemui di kediamannya di kawasan Bunut, Kapuas, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Rabu (18/10/2017). Bismo Agung

Menurut Anda, jika ekstrak ganja terus menerus diberikan kepada Yeni (istri), apakah dia mempunyai peluang bertahan hidup?
Saya rasa iya, peluangnya besar sekali. Hanya, saya kurang yakin apakah dia bisa kembali normal atau tidak.

Seberapa besar Anda yakin ekstrak ganja yang Anda buat bisa berefek pada kesehatan Yeni?
Kondisinya sudah jadi lebih baik karena ganja. Waktu itu, dia semakin gemuk dan mau makan, lukanya juga sudah sembuh.

Banyak yang bertanya-tanya, bagaimana cara Anda membuat ekstrak ganja untuk obat itu...
Cukup diambil bunganya saja. Kemudian bunga itu dikeringkan tiga sampai empat hari. Ya, cannabinoid (kandungan aktif dalam ganja atau dikenal dengan THC) harus dilarutkan dalam minyak untuk mengekstraknya. Kemudian pengambilan sari ganjanya itu harus menggunakan alkohol 90 persen.

Bunga itu direndam kurang lebih dua sampai lima menit dengan alkohol tadi, kemudian disaring--sampai air berubah hijau. Hasil cairan ini yang diuap dengan suhu yang enggak boleh terlalu tinggi. Kalau terkena suhu tinggi, semisal 125 derajat, cairan ini akan menjadi DHC (dihydrocodeine) aktif. Kalau sudah jadi begitu, yang pakai bisa langsung ngefly.

Tetapi kalau takarannya pas, cairan ini bisa mengontrol dan mengurangi nyeri sedang sampai berat.

Dari mana Anda tahu takarannya pas dan bisa mengurangi sakit, apakah Anda mencobanya lebih dulu sebelum diberikan ke Yeni?
Sejujurnya iya--saat mendapat hasil ekstraksi pertama kali. Saya mau tahu dosisnya betul atau enggak. Dari yang saya pelajari, setiap orang itu punya ukuran dosis berbeda, tergantung bagaimana kondisi tubuh.

Anda sebelumnya pernah menggunakan ganja untuk ekstase?
Engga, belum pernah sama sekali.

Tapi Anda kan tinggal di Sanggau, dekat batas negara Entikong, yang kabarnya jadi gerbang masuk narkotika dari Malaysia...
Saya tahu. Di Sanggau dikenal rawan. Tetapi rata-rata sabu, bukan ganja. Tapi dari dulu saya enggak pernah menggunakan ganja, apalagi sabu.

Lalu, Anda mendapatkan barang itu dari mana jika bukan dari pengedar atau bandar?
Saya dapat tanpa sengaja. Itu setelah banyak riset tentang ganja. Ceritanya, saya lagi di terminal untuk beli gado-gado. Saya pesan dan duduk di tukang gado-gado itu.

Kemudian, karena muka saya kusut, ada seseorang yang mengajak saya bicara. Sampailah cerita soal istri saya, kemudian ganja--yang sedang saya cari.

Kebetulan dia bisa menyediakan. Ya sudah, saya bersyukur. Kasih uang dan tiga hari kemudian datang sebanyak satu ons dalam bentuk satu pucuk. Ada batang, biji dan bunganya. Masih komplet.

Semenjak membuat ekstrak itu Anda terus menerus membeli tanaman ganja dong...
Untuk tanaman kedua saya sudah bisa bikin biji sendiri. Ganja itu sangat mudah dimodifikasi. Kita mau jadikan dia jantan atau betina, bisa diatur.

Apa bedanya ganja jantan dan betina?
Kalau bunga yang betina itu hanya tumbuh rambut-rambut putih saja. Sedang jantan itu biji-biji. Kalau yang biji itu ada serbuk sarinya, maka bisa kita kawinkan.

Bahkan, satu pohon itu bisa jadi jantan, bisa jadi betina. Kalau kita kawinkan satu pohon yang ada jantan dan betinanya, maka ganja itu bisa jadi auto seed dan auto flower.

Dikawinkannya mudah: tinggal taburkan saja serbuk sari di atas betina he-he.

"Ganja itu sangat mudah dimodifikasi. Kita mau jadikan dia jantan atau betina, bisa diatur"

Fidelis

Anda menanamnya di mana, sudah pasti di tempat tersembunyi ya?
Dalam lemari dan ada tekniknya. Saya mengganti cahaya matahari dengan lampu khusus. Suhu itu penting untuk mendapatkan ganja bagus. Hasilnya positif.

Awal-awal saya menanam, hasilnya enggak bagus. Karena kurang dirawat. Ganja berbeda dengan cabai, yang mudah tumbuh. Jadi, harus benar-benar dikondisikan. Mulai dari suhu, udara dan airnya.

Tapi dari penemuan petugas BNN misalnya, banyak tanaman ganja tumbuh subur di lereng-lereng gunung, tanpa harus dirawat...
Ya bagaimana mau dapat hasil bagus kalau asal tanam. Ganja itu bukan tanaman miracle grow, biji ditanam, kemudian kita berdoa biar tumbuh.

Tumbuh sih, cuma enggak tahu hasilnya. Sama seperti kita merawat bayi. Kita perhatikan makanan, pakaian, kebersihan atau nutrisinya.

Oke. Soal ekstrak ganja tadi. Seberapa banyak Anda mencobanya?
Pertama kali mencoba itu hanya satu tetes. Enggak lama saya tertidur pulas selama lima jam. Pas bangun, saya merasakan lapar yang luar biasa.

Ekstrak ini mirip liquid untuk rokok listrik itu ya...
Enggak. Beda. Ekstrak ganja lebih kental.

Jadi, bagaimana Anda menghitung dosis obat yang akan diberikan ke Yeni?
Dia cukup dapat setetes saja, karena keluhannya kan susah tidur dan makan.

Tidak khawatir Yeni akan overdosis?
Buktinya dia enggak mual dan muntah. Sejak memakai ganja, makan lancar. Enggak banyak, tapi masuk. Kemudian BAB (buang air besar) juga lancar. Sebelumnya, dalam seminggu itu dia tidak BAB, kadang lebih.

Ada kecenderungan Yeni kecanduan ekstrak ganja itu?
Yang saya bilang tadi. Setiap orang punya dosis yang berbeda. Begitu juga dengan almarhum. Ganja itu tidak saya beri terus. Ketika kondisinya menurun baru saya kasih. Misalnya lemas, enggak bisa tidur atau makan kurang.

Sebelum ganja, sudah coba semua jenis obat, serta pengobatan dari dokter ataupun alternatif?
Sudah semuanya. Kalau obat dokter, kita enggak tahu apa dampak langsung ke pasiennya, karena baru beberapa jam kemudian bisa tahu.

Kalau pakai ganja, kita bisa komunikasi, bagaimana rasanya, sehingga perkembangannya terlihat sekali. Begitu nyaman ya kita hentikan. Kalau masih belum enak, kita tambahkan lagi, tergantung kondisi.

Asumsi Anda mengonsumsi ganja itu supaya bisa rileks dan beristirahat?
Biar bisa tidur, dan tidurnya ini tidur biasa bukan karena efek obat. Kalau efek obat kan tidurnya seperti orang enggak sadar. Beda dengan ganja, yang kalau bangun juga enggak bikin pusing. Ya seperti orang bangun tidur saja.

Pertanyaannya lagi, kenapa ganja, tidak ada kah tanaman lain yang memiliki efek yang sama ketika dikonsumsi?
Karena ganja ada kandungan cannabinoid (kandungan aktif dalam ganja atau dikenal dengan THC). Itu yang saya pelajari. Kandungan itu hanya ada di ganja. Memang ada tiga sumber cannabinoid itu: pertama dari tanaman ganja, kedua dari tubuh manusia dan ketiga ganja sintesis.

Sampai saat ini ganja sintesis enggak pernah sukses membuat THC. Saya juga sudah coba segala tanaman. Tapi enggak ada pilihan lain. Ganja pun sudah diteliti di luar negeri bahwa dia bisa sebagai obat. Itu yang saya pelajari.

Tetapi Menteri Kesehatan mengatakan belum ada bukti yang membenarkan ganja bisa sebagai obat...
Saya rasa penelitiannya amat detail. Cannabinoid terbukti bisa bekerja sebagai pereda sakit. Kandungan ini mengarah langsung pada sejumlah titik pada otak dan sistem saraf untuk mengatasi rasa nyeri. Efeknya cukup efektif.

Berapa lama Anda mengobati Yeni dengan ganja?
Kurang lebih enam bulan. Efektifnya itu sekitar tiga bulan terakhir. Karena pada awal pengobatan saya belum punya tanaman ganja untuk pengobatan yang continue.

Setelah bisa menanam sendiri, baru pengobatan bisa continue dan perkembangan kesehatan Yeni mulai terlihat.

Keluarga Anda setuju Yeni diobati dengan ganja?
Enggak ada yang tahu.

Seandainya tahu, menurut Anda mereka akan mendukung apa yang Anda lakukan?
Enggak tahu. Ketika tertangkap baru saya bicara. Memang, untuk meyakinkan mereka, susahnya setengah mati.

Saya katakan ke keluarga bahwa obatnya hanya ganja. Kemudian saya kasih nama-nama teman saya di luar negeri yang memakai ganja untuk medis kepada mereka.

Saya suruh baca artikel yang ada di komputer saya, dan akhirnya mereka percaya ganja bisa sebagai obat.

Yeni tahu dia selama enam bulan itu diberi ganja?
Saya enggak pernah kasih tahu. Kalau dia tahu pasti paranoid. Dia juga enggak tahu bahwa penyakitnya itu belum ada obatnya.

Apakah Anda memiliki testimoni bahwa ada orang lain yang sembuh dari penyakit syringomyelia dengan memakai ganja?
Ada, namanya Christina Evan dari Kanada. Saya banyak sharing dengan dia. Dia yang mengirim resep untuk saya.

Sampai saat ini dia belum sembuh total, tapi sudah bisa beraktivitas, bahkan ikut yoga. Hal itu yang menjadi dasar saya mengobati istri saya dengan ganja.

Btw dari mana Anda mengetahui cara membuat ekstrak ganja?
Yang pasti dari internet, saya ada kawan juga dari luar negeri. Kita sering sharing cerita, saya banyak tanya ke mereka. Komunikasi dilakukan via Facebook.

Saya juga dapat bimbingan dari sepasang suami istri, John dan Amanda Seckar, yang tinggal di Washington D. C, Amerika Serikat, serta Emily Grand, seorang botanical steel di Kanada.

Bagaimana cara membangun komunikasinya agar mereka percaya bahwa ganja itu untuk pengobatan?
Saya mengajak kenalan dulu. Di komunitas ganja ini ternyata bagus. Mereka enggak memandang siapa dan dari mana. Yang penting tujuan saya baik dan mereka mau membantu.

Fidelis Arie Sudarwoto saat ditemui di kediamannya di kawasan Bunut, Kapuas, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Rabu (18/10/2017).
Fidelis Arie Sudarwoto saat ditemui di kediamannya di kawasan Bunut, Kapuas, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Rabu (18/10/2017). Bismo Agung

Sejak kapan Anda sebetulnya mengenal Yeni?
Saya bertemu dia ketika sama-sama baru masuk kuliah di Sanata Dharma, Yogyakarta. Kebetulan saat itu kita satu kelompok ospek.

Tetapi saat berjalannya kuliah, saya mulai merasa terbebani, karena jurusan mekatronika ternyata berat. Jadwalnya padat. Jadi, pagi sampai jam 12 itu teori, siang sampai sore itu praktek. Tiap hari kayak begitu, dan malam bikin laporan. Yang kosong cuma hari Minggu aja. Saya hanya sampai semester empat di sana.

Kenapa akhirnya berhenti kuliah?
Karena terkendala biaya juga. Kondisi ekonomi keluarga tidak stabil. Bapak hanya guru. Kalau saya memaksa, dari mana lagi biayanya. Ketika itu bayar masuk sekitar Rp20 jutaan. Per semesternya Rp400 ribu. Almarhum (Yeni) juga memutuskan berhenti dan ikut saya ke Kalimantan untuk menikah.

Selama Anda mengenal Yeni, apakah dia pernah sakit parah?
Enggak ada, sehat-sehat saja. Bahkan sampai anak yang pertama itu lahir enggak pernah ada masalah.

Mulai sakit itu ketika anak kedua (lahir). Dari hamil, pas umur lima bulan, ada gejala kayak demam. Separuh badan yang kanan itu bisa berkeringat sampai kening, sebelah lagi biasa. Aneh. Demam itu datang dan hilang. Pergi ke dokter cuma dikasih vitamin.

Lama-lama kaki kanannya enggak bisa gerak. Dokter bilang bawaan hamil, enggak ada kelainan. Sampai melahirkan anak kedua Yeni cukup sehat. Tetapi saat usia anak kedua lima bulan, demam itu kambuh lagi. Kali ini, kedua kakinya enggak bisa gerak. Ke dokter lagi, dan tetap dinilai tidak ada apa-apa. Sekitar tahun 2014.

Dokter mendiagnosis apa?
Dokter itu tidak mendiagnosis apa-apa. Saya sampai ke rumah sakit Pontianak yang fasilitasnya lebih lengkap. Namun dua minggu dirawat tidak terdiagnosa apa-apa--meski istri saya di MRI (magnetic resonance imaging).

Dokter tidak menyatakan bahwa Yeni menderita penyakit syringomyelia?
Waktu itu dokter curiga memang ada sesuatu di tulang belakang, tapi tidak berani memastikan. Mungkin karena penyakit ini jarang sekali, sangat langka. Banyak waktu terbuang dan tidak ada hasil.

Tadi Anda katakan mencoba pengobatan alternatif dan obat herbal juga, apa hasilnya?Karena enggak ada perubahan, saya akhirnya memang kasih obat herbal--sebelum ganja itu. Pakai herbal sebenarnya sudah membaik, namun si tukang obatnya malah meninggal. Sehingga pengobatan berhenti. Dari situ saya cari pengobatan lain dan enggak ada hasil.

Saat itu Yeni seperti punya kekhawatiran berlebihan. Kalau nonton televisi, beritanya enggak bagus, kakinya bisa kram sendiri. Kemudian sekitar 2015, dia mulai enggak bisa mengendalikan buang air kecil. Kadang saat ingin pipis, dia malah enggak bisa mengeluarkan. Pas dia mengajar, pernah celananya basah.

Pernah menyerah dengan keadaan seperti itu?
Putus asa pernah. Saya sempat bikin sayembara. Siapa yang bisa buktikan penyakit Yeni adalah mistik, maka akan saya kasih hadiah.

Rumah ini kemudian penuh air garam, air putih, beras kuning tabur--dari segala macam suku. Ternyata enggak ada apa-apa. Setelah itu ya saya terus cari cara untuk menyembuhkan Yeni, makanya saya menanam ganja.

Anda sudah tahu kan sebenarnya ganja merupakan jenis narkotika golongan satu?
Oke, golongan satu dan memang tidak ada pengecualian. Tetapi lihat yang sakit, ini nyawa orang. Kenapa lebih penting 39 batang ganja daripada istri sakit.

Sudah konsultasi sebelumnya dengan praktisi hukum atau dokter--sebelum tanam ganja?
Waktu itu saya terus terang dengan teman saya yang polisi. Mereka juga mengerti dengan kondisi saya, tapi memang enggak ada solusi, dan mereka enggak bisa bantu. Ada kekhawatiran kalau alibi sakit jadi alasan para pemilik ganja nantinya. Ya saya akhirnya dipenjara.

Bagaimana pengalaman hidup di penjara selama berbulan-bulan?
Saya banyak belajar. Kalau dulu saya lihat pelaku kriminal di televisi, ketika itu saya beraktivitas dan tinggal di antara mereka. Bayangkan, kami 10 orang di dalam satu blok yang luasnya 5 x 7 meter.

Mereka ramah, mengajak makan, menawarkan rokok, bahkan kami patungan untuk beli mi. Kadang nasi satu bungkus dihabiskan bersama.

Mereka banyak napi narkoba ya...
Betul, tapi saya tidak ketemu kawan yang kasusnya sama dengan saya. Kebanyakan kasus sabu. Kalau kasus ganja memang sudah tidak ada lagi.

Para napi tertarik dengan kasus Anda?
Enggak sih. Mereka malah tertarik sama proses ekstraksinya he-he.

Dari pengalaman Anda ini, apakah Anda setuju Indonesia harus mulai penggunaan ganja untuk kepentingan medis?
Sudah saatnya revolusi ganja untuk medis. Pemerintah harus bisa perbaiki image ganja yang selama ini buruk, padahal bermanfaat.

Omong-omong, status Anda masih pegawai negeri sipil kan...
Masih, sebagai PNS di bagian Kesbangpolinmas (Sanggau).

Pengakuan Fidelis, Sang Penanam ganja