Lokadata.ID
Gala Gundala
Tangkapan layar penampilan Gundala yang diperankan Abimana Aryasatya dengan balutan kostumnya dalam teaser film /Screenplay Films

Gala Gundala

Kisah Gundala sang Putera Petir kembali dihadirkan dalam layar lebar. Kali ini lewat tangan sineas Joko Anwar. Sejumlah perubahan pun dilakukan.

Area Empire Stage Indonesia Comic Con (ICC) di Hall B, Jakarta Convention Center, gegap gempita pada Minggu (29/10/2018) siang.

Para pengunjung rela berdesakan dan merapat hingga ke bibir panggung. Mereka ingin jadi yang pertama menyimak pengumuman terbaru film Gundala, tokoh komik karya Harya Suryaminata alias Hasmi (1946-2016).

Bagi penggila film dan komik, khususnya genre superhero, kehadiran Gundala ibarat oase di tengah kerontang film sejenis yang diproduksi oleh sineas Indonesia.

BumiLangit Studios Media bersama Screenplay Films dan Legacy Pictures adalah pihak yang bertanggung jawab mengobati kerinduan para penggemar.

Saat layar yang menjadi latar belakang panggung memampang tulisan “first look Gundala & casts announcement”, kontan para pengunjung memberikan aplaus panjang. Tak lama Joko Anwar naik ke atas panggung.

Imam Wibowo selaku pemandu acara lantas mempersilakan Joko mengundang pemain-pemain utama film Gundala.

Secara beruntun hadirlah Muzakki Ramdhan (pemeran Sancaka kecil), Tara Basro (Wulan/Merpati), Bront Palarae (Pengkor), dan Abimana Aryasatya (Sancaka dewasa alias Gundala).

Pada kesempatan tersebut, Joko berkisah tentang proses menulis naskah film Gundala yang memakan waktu empat bulan.

Agar bisa konsentrasi, ia sengaja mengisolasi diri. Tak jarang sineas berusia 42 ini menulis di kuburan dan museum seni.

Alasannya karena museum bisa membuka pintu-pintu inspirasi dan menciptakan banyak ide. Sementara atmosfer kuburan yang hening cocok untuk berefleksi tentang perkerjaan.

Sekitar Juli 2018, skenario film Gundala tuntas penulisannya di Modern Contemporary Museum, Amsterdam, Belanda.

Joko mengakui bahwa Gundala adalah skenario film tersulit yang pernah ditulisnya. Tantangan terbesarnya bagaimana menghadirkan cerita yang harus terhubung dengan setiap karakter para tokohnya.

Versi komik tetap menjadi rujukan utama cerita, tapi mendapat sentuhan baru. Semisal menghadirkan masa kecil Sancaka yang tidak ada dalam versi komik.

“Bagian itu kami dapatkan setelah membaca catatan-catatan kecil dari Pak Hasmi,” ungkap Joko.

Gundala juga dibuat realistis. Misalnya soal kostum. Semua elemen yang melekat akan terjelaskan dalam film.

Keberadaan tokoh-tokoh lain yang mengitari Gundala juga sangat diperhatikan. Joko tidak ingin mereka hanya sekadar tempelan sehingga kehadirannya terasa dipaksakan.

Dalam berbagai kesempatan, pengoleksi dua Piala Citra ini memang kerap mengatakan bahwa skenario adalah tulang punggung film.

Oleh karena itu, development cerita dan karakter dipersiapkan sangat matang. Karena hanya pada titik inilah ia bisa mengejar pencapaian film-film sejenis buatan Hollywood yang ongkos produksinya triliunan rupiah.

“Karena (skenario) bikinnya di kepala. Imajinasi, kemauan untuk berpikir keras, disiplin. Semua itu enggak butuh bujet besar,” tulis Joko melalui akun Twitter-nya.

Pendek kata, alih-alih mengikuti jejak film pahlawan super mancanegara yang pamer CGI, Joko lebih fokus menggarap sisi cerita dan setiap karakter dalam film ini agar relevan dengan kondisi Indonesia sehingga para penonton dapat terhubung.

Deretan judul komik Gundala Putera Petir karya Hasmi yang terbit perdana pada 1969
Deretan judul komik Gundala Putera Petir karya Hasmi yang terbit perdana pada 1969 / Akun Twitter @sinemagerbanget

Judul komik Gundala Putera Petir pertama muncul pada 1969 oleh penerbit Kentjana Agung. Kekuatan utama Gundala adalah mengeluarkan sambaran petir dari telapak tangan.

Hasmi terinspirasi tokoh legenda Kerajaan Mataram yang bernama Ki Ageng Ngabdurahman Selo, yang konon mampu menangkap petir.

Sementara dari segi penampilan, Gundala mengambil elemen milik The Flash, tokoh superhero karya Gardner Fox dan Harry Lampert yang diterbitkan DC Comics.

Berbeda dengan The Flash yang mampu berlari secepat cahaya, kecepatan maksimal Gundala diibaratkan hanya mampu secepat taifun.

Adalah Kentjana Agung pula yang meminta Hasmi menciptakan figur jagoan yang memiliki kemampuan super laiknya tokoh-tokoh milik Marvel dan DC.

Bersama Widodo Noor Slamet alias Wid NS, karibnya yang menciptakan Aquanus dan Godam, guratan tangan Hasmi menghasilkan Gundala.

Tak dinyana Gundala --juga Godam-- berhasil memikat para pembaca yang saat itu dijejali komik berlatar cerita pewayangan, legenda, roman remaja, dan silat.

Memunculkan sosok dengan kemampuan super dalam panel komik sebenarnya telah dirintis sejak 1954.

Kala itu R.A. Kosasih yang berjuluk bapak komik Indonesia menghadirkan Sri Asih. Akan tetapi kesan pembaca saat itu masih biasa saja.

Puncak popularitas komik pahlawan super dari Indonesia terjadi pada dekade 70-an hingga awal 80-an. Gundala merupakan salah satu yang berada di garda terdepan.

Kesuksesan Gundala dengan cepat menghadirkan banyak komik sejenis. Ada yang berhasil, tak sedikit pula melempem di pasaran.

Hasmi bersama Gundala-nya terus berkibar selama 13 tahun dengan total 23 edisi. Setelah terbit dengan judul “Surat Dari Akhirat” pada 1982, petualangan Putra Petir ini mendadak terhenti.

Alasan utama Hasmi tidak melanjutkan seri Gundala karena harus memenuhi permintaan Presiden Soeharto. Bersama Wid NS, Hasmi mendapat order mengerjakan komik tentang Serangan Umum 1 Maret.

"Saat itu saya baru selesai membuat judul terakhir Surat dari Akhirat jilid yang pertama. Rencananya mau 12 jilid, tapi keburu ada berita dari Istana Negara," cerita Hasmi dilansir Brilio (21/11/2015).

Butuh waktu dua tahun mengerjakan komik propaganda Orde Baru tersebut. Saat kelar, Hasmi yang berniat melanjutkan kembali cerita Gundala terpaksa gigit jari. Medio 80-an banyak perusahaan yang menghentikan aktivitasnya menerbitkan komik.

Alhasil Gundala terpaksa pindah medium. "Saat itu Gundala masih bisa terbit di koran Jawa Pos meski hanya sekitar dua bulan," kisah Hasmi.

Memasuki dekade 90-an, seperti juga kondisi perfilman Tanah Air, komik-komik Indonesia lesu darah. Tenggelam oleh serbuan manga, komik asal Jepang.

Para penggawa film Gundala (dari kiri);  Muzakki Ramdhan, Tara Basro, Abimana Aryasatya, Joko Anwar, dan Bront Palarae di Indonesia Comic Con (ICC), Jakarta Convention Center, Jakarta Selatan (29/10/2018)
Para penggawa film Gundala (dari kiri); Muzakki Ramdhan, Tara Basro, Abimana Aryasatya, Joko Anwar, dan Bront Palarae di Indonesia Comic Con (ICC), Jakarta Convention Center, Jakarta Selatan (29/10/2018) / Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Hasmi menyerahkan hak pengelolaan Gundala --juga tokoh-tokoh komik ciptaannya yang lain seperti Maza, Merpati, Pangeran Mlaar, dan Sembrani-- kepada PT BumiLangit sejak 2003.

Bersamaan dengan itu proses mengadaptasi kembali Gundala ke layar lebar mulai dirintis.

Sebenarnya versi live action sang Putra Petir telah dihadirkan oleh PT Cancer Mas Film pada 1981.

Teddy Purba berperan sebagai Gundala, sementara kursi penyutradaraan oleh Lilik Sudjio. Sosok satu ini sebelumnya telah mengarahkan film Si Buta dari Gua Hantu (1970) yang juga adaptasi komik.

“Ide memfilmkan Gundala kembali sudah masuk dalam perencanaan jangka panjang kami sejak pertama diberikan kesempatan mengelola hak Gundala oleh Pak Hasmi,” tulis Imansyah Lubis, production designer Bumilangit Studios, saat dihubungi Beritagar.id via layanan berbagi pesan (2/11).

Sebelum sampai pada titik tersebut, BumiLangit mau tak mau harus memperkenalkan lagi Gundala kepada generasi kekinian sekaligus memperluas pasar.

Langkah pertama dengan mencetak ulang komik-komik lawas Gundala sejak 2005. Lalu menghadirkannya dalam laman harian Kompas mulai 1 Agustus 2013 dengan episode "Gundala Koma".

Dua tahun kemudian, kumpulan komik strip Gundala tadi dicetak ulang dalam kemasan buku ukuran A4.

Saat perhelatan PopconAsia di SMESCO Exhibition Hall, Jakarta Selatan, (21/9/2014), BumiLangit resmi mengumumkan penggarapan film Gundala.

Rekan kolaborasi mereka kala itu adalah Mahaka Pictures. Hanung Bramantyo ditunjuk sebagai kapten alias sutradara.

Kenyataannya proyek tersebut mangkrak di tengah jalan. Hasmi yang mengembuskan napas terakhir pada 6 November 2016 tak sempat melihat tokoh ciptaannya beraksi lagi di layar lebar.

Berselang setahun, muncul kabar bahwa kendali penggarapan Gundala berpindah ke Anggy Umbara, sutradara Comic 8: Casino Kings (2015) dan Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! (2016).

Laiknya kisah pertama, kerja sama dengan Anggy urung terwujud. Pun demikian, proyek menghadirkan Gundala dalam format panel yang lebih besar tetap berjalan.

Akhir Maret 2018, sebuah undangan elektronik dari publisis Screenplay muncul dengan kop “konferensi pers proyek film yang masih dirahasiakan”. Ini undangan yang tak biasa.

Ketika datang pada acara yang dimaksudkan, ternyata Screenplay bersama BumiLangit dan Legacy mengumumkan dimulainya penggarapan film Gundala.

Hal yang membuat terkejut adalah kehadiran Joko sebagai sutradara sekaligus penulis skrip.

Menurut Wicky V. Olindo selaku produser dari Screenplay, rancangan cerita yang ditawarkan Joko memuat visi yang dibutuhkan Bumilangit.

Film Gundala hendak dijadikan pembuka bagi kemunculan tokoh-tokoh jagoan komik lain di bawah naungan Bumilangit yang menyusul akan difilmkan.

"Kalau (dari segi cerita) film ini tidak berhasil, tokoh yang lain juga tidak akan berhasil," tegas Wicky saat jumpa pers perdana Gundala di SCTV Tower, Senayan City, Jakarta Selatan (4/4). Dalam hemat mereka, Joko berhasil memenuhi persyaratan tersebut.

Lantas akan seperti apa Gundala yang direncanakan tayang pertengahan 2019 di tangan Joko?

“Yang pasti semua elemen asli dari Gundala yang bisa dipertahankan, kami pertahankan. Karena sebagai penggemar saya enggak mau mencoreng Gundala dengan membuat perubahan yang membuatnya tidak dikenali,” ikrar Joko.

Official First Look GUNDALA (2019) - A Film by Joko Anwar