Lokadata.ID

Gara-gara pandemi, belanja nonmakanan kelompok bawah meningkat

Perubahan konsumsi menurut kelas pengeluaran Maret-September 2020
Perubahan konsumsi menurut kelas pengeluaran Maret-September 2020 Lokadata / Lokadata

Pandemi Covid-19 telah mengubah pola pengeluaran penduduk Indonesia dalam kurun tujuh bulan. Banyak keluarga yang pola belanja hariannya bergeser dari semula makanan ke nonmakanan. Sebaliknya, banyak juga yang pengeluaran makanannya malah meningkat selama pandemi.

Fenomena ini terekam saat membandingkan pengeluaran penduduk Indonesia untuk konsumsi pada Maret dan September 2020. Pola belanja ini dibagi dalam tiga kelompok pendapatan, yakni 40 persen pengeluaran bawah, 40 persen pengeluaran menengah, dan 20 persen pengeluaran atas.

Semula, kelompok masyarakat pengeluaran 40 persen terbawah lebih banyak menghabiskan uang untuk makanan (62,61 persen). Namun, porsinya menurun beralih ke pengeluaran nonmakanan yang naik menjadi 41,72 persen, dari semula 37,39 persen atau ada perubahan 4,32 persen poin.

Salah satunya adalah Indah Apriani. Perempuan 32 tahun ini bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) untuk tiga rumah di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan. Saban hari, ia datang dan bekerja sekitar tiga jam di tiap rumah. Bersih-bersih dan mencuci pakaian. Dari tiap rumah, ia beroleh sekitar Rp1 juta per bulan.

Sebelum pandemi, Indah yang berstatus orang tua tunggal ini bisa menghidupi diri sendiri dan tiga anaknya yang sudah bersekolah. Mereka cukup makan, bisa sekolah, sesekali juga jajan. Sejak pandemi, ia hanya bekerja di satu rumah. Pendapatan berkurang, sementara kebutuhan lain bertambah.

“Saya jadi harus beli masker, hand sanitizer, anak-anak sekolah butuh internet, listrik juga nyala terus,” kata Indah kepada Lokadata, Senin (9/8/2021).

Pergeseran pengeluaran juga dialami masyarakat kelas pengeluaran 40 persen tengah. Tapi tidak signifikan. Pengeluaran untuk makanan turun 1,39 persen poin, beralih ke nonmakanan karena harus membeli perangkat kesehatan standar seperti masker dan hand sanitizer.

Kondisi sebaliknya terjadi pada kelompok masyarakat pengeluaran 20 persen atas. Pada kelompok ini justru pengeluaran untuk makananlah yang naik 2,80 persen poin.

Dahulu jalan-jalan sudah jadi sebuah kebutuhan bagi Rahmayanti Akmar. Karyawa swasta ini punya dua anak. Setidaknya, setiap dua bulan sekali, pebisnis salon waxing ini melanglang ke seluruh Indonesia. Sejak pandemi, bujet jalan-jalan pun beralih menjadi sajian di meja makan.

Dulu, uang belanja ia serahkan ke ART di rumah. Namun, kini urusan belanja lebih sering dikerjakannya bersama suami lewat lapak daring. Pemilihan bahan dan makanan pun jadi berbeda. Tak jarang harganya lebih mahal. Misalnya, ia jadi sering beli daging untuk masak steik.

Bersama anak-anaknya, ia juga menjajal meracik sendiri menu ala restoran. “Karena tidak bisa makan di luar rumah, jadi kita bawa restorannya ke dalam rumah,” kata Titi kepada Lokadata, Senin (9/8/2021). Titi juga sering tak sampai hati saat ada teman menawarkan dagangan makanan. Alhasil, ia jadi lebih sering jajan.

Fenomena ini menurut BPS dapat dijelaskan dengan Hukum Working (1943) tentang pangsa pengeluaran makanan. Hukum Working menyatakan bahwa proporsi pengeluaran rumah tangga untuk bermacam jenis pengeluaran bervariasi, sesuai dengan tingkat pendapatan, ukuran keluarga, dan tabungan.