Lokadata.ID

Gaya hidup sehat saat pandemi bantu bisnis farmasi berkilau

Arsip: Pegawai apotek  melayani konsumen di Kota Pekanbaru, Riau,  (2/3/2020).
Arsip: Pegawai apotek melayani konsumen di Kota Pekanbaru, Riau, (2/3/2020). FB Anggoro / ANTARA FOTO

Kinerja usaha farmasi tampak berkilau sepanjang 2020. Laporan keuangan perusahaan farmasi yang sudah go public mencatat sejumlah kemajuan. Kesadaran masyarakat akan gaya hidup sehat selama pandemi ikut menyumbang peningkatan penjualan produk penunjang kesehatan, vitamin dan herbal.

PT Kalbe Farma Tbk, misalnya, membukukan kinerja positif sepanjang 2020. Perusahaan berkode emiten KLBF itu mengantongi pendapatan dari penjualan hingga Rp23,11 triliun atau naik 2,12 persen secara tahunan dari capaian Rp22,63 triliun pada 2019.

Dari penjualan itu, segmen distribusi dan logistik berkontribusi paling tinggi hingga Rp7,75 triliun atau tumbuh 5,11 persen secara tahunan dari Rp7,38 triliun pada 2019. Kontribusi segmen ini menyumbang 33,5 persen terhadap total penjualan bersih perseroan.

Penjualan nutrisi mencapai Rp6,74 triliun atau tumbuh 1,86 persen secara tahunan. Kemudian sumbangan dari segmen obat resep sebesar Rp4,98 triliun, turun 3,53 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya. Kontribusi paling sedikit dicatatkan oleh produk kesehatan sebesar Rp3,63 triliun. Namun, segmen ini meningkat cukup tinggi sebesar 4,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Adapun laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp2,73 triliun. Jumlah tersebut meningkat 9,04 persen.

KLBF meyakini pentingnya pengelolaan keuangan yang berhati-hati untuk mempertahankan posisi keuangan yang kuat di masa pandemi. Melihat kondisi pandemi yang masih berlangsung, mereka menargetkan pertumbuhan penjualan bersih maupun proyeksi pertumbuhan laba bersih naik sekitar 5-6 persen di 2021.

“Perseroan juga mempertahankan anggaran belanja modal sebesar Rp1 triliun yang akan digunakan untuk perluasan kapasitas produksi dan distribusi. Rasio pembagian dividen dipertahankan pada rasio 45 – 55 persen, dengan memperhatikan ketersediaan dana dan kebutuhan pendanaan internal,” tulis manajemen KLBF.

PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. juga mencatatkan kenaikan penjualan sepanjang 2020. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan berkode emiten SIDO ini, penjualan bersih sebesar Rp3,3 triliun atau tumbuh 9 persen dibandingkan 2019.

Andalan utama penjualan SIDO adalah segmen jamu dengan kontribusi 66,6 persen dari penjualan 2020 yaitu Rp2,19 triliun. Segmen makanan dan minuman memberikan kontribusi 30,15 persen atau sebesar Rp994 miliar. Adapun segmen farmasi memberikan kontribusi 3,25 persen atau sebesar Rp107 miliar.

SIDO mengantongi laba bersih Rp934,01 miliar pada 2020, meningkat dibandingkan perolehan tahun lalu sebesar Rp807,689 miliar. Adapun dividend payout ratio (DPR) yang dibagikan SIDO 100 persen dari laba bersih pada 2020, meningkat dibandingkan 2019 yang sebesar 90 persen. Untuk tahun ini, SIDO menargetkan pertumbuhan paling sedikit 10 persen baik untuk penjualan maupun laba bersih.

Perusahaan pelat merah, PT Kimia Farma Tbk. dengan kode emiten KAEF juga mencatat kinerja positif dengan penjualan bersih naik 6,38 persen secara tahunan menjadi Rp10 triliun. Di 2019, KAEF membukukan penjualan bersih Rp9,40 triliun.

Pendapatan bersih itu berasal dari penjualan hasil produksi entitas sebesar Rp3,65 triliun. Angka ini terdiri dari penjualan obat generik Rp2 triliun, obat ethical, lisensi dan narkotika sebesar Rp697,82 miliar, obat over the counter (OTC) dan kosmetik sebesar Rp592,34 miliar, bahan baku Rp311 miliar serta pil KB, alat kesehatan sebesar Rp49,05 miliar.

Kontribusi pendapatan selanjutnya berasal dari hasil produksi pihak ketiga sebesar Rp6,34 triliun. Angka tersebut berasal dari penjualan obat ethical sebesar Rp2,52 triliun, obat OTC sebesar Rp1,54 triliun, alat kesehatan, jasa klinik, laboratorium klinik, dan lain-lain sebesar Rp1,69 triliun, serta obat generik sebesar Rp584,04 miliar.

Sepanjang 2020, KAEF mampu meraup laba bersih senilai Rp17,63 miliar. Hal ini berbanding terbalik dengan 2019 di mana KAEF mengalami rugi bersih Rp12,72 miliar.

KAEF belum menentukan target penjualan dan perolehan laba bersih tahun ini. Meski begitu, Kimia Farma mengalokasikan belanja modal Rp500 miliar di 2021. Alokasi belanja tersebut ditujukan untuk mengembangkan layanan kesehatan digital dan produk baru yang sejalan dengan Covid-19 dan produk-produk baru lainnya.

Prospek masih cerah

Analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan kinerja positif emiten farmasi sepanjang 2020 didukung kesadaran konsumen untuk menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh di masa pandemi Covid-19. Peningkatan kinerja ini banyak didukung oleh peningkatan penjualan produk nutrisi dan vitamin.

Untuk tahun ini, Reza mengatakan emiten farmasi masih memiliki prospek yang bagus. Sebab, pandemi masih berlangsung. Dia merekomendasikan saham farmasi yaitu SIDO dan KLBF.

“Masih dapat mencatatkan kinerja yang baik dan bisa mempertahankannya. Kebutuhan kesehatan tentunya masih akan tinggi seiring meningkatnya kesadaran masyarakat menjaga kesehatan,” katanya kepada Lokadata.id, Rabu (7/4/2021).

Analis Philip Sekuritas Helen juga mengatakan kinerja emiten farmasi sepanjang 2020 yang bagus didukung perubahan kebiasaan konsumen dalam mengkonsumsi produk vitamin hingga minuman herbal.

Dia mengatakan untuk tahun ini tantangan untuk mempertahankan kinerja positif berasal dari fluktuasi nilai tukar rupiah dan pasokan bahan baku obat yang berasal dari luar negeri. Meski ada tantangan, namun peluang juga datang dari perubahan gaya hidup dan jumlah populasi masyarakat Indonesia yang besar.

Helen merekomendasikan SIDO dan KLBF yang menurutnya masih prospektif mengingat pertumbuhannya yang konsisten.