Lokadata.ID

Gelombang kedua Covid-19 mulai terjadi, disarankan PSBB lagi

Seorang pasien berbaring di kursi menunggu masuk ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Dr. Loekmono Hadi, Kudus, Jawa Tengah, Rabu (2/6/2021).
Seorang pasien berbaring di kursi menunggu masuk ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Dr. Loekmono Hadi, Kudus, Jawa Tengah, Rabu (2/6/2021). Yusuf Nugroho / ANTARA FOTO

Gelombang kedua penyebaran virus korona terlihat mulai terjadi di Indonesia. Jumlah pengidap Covid-19 kembali meningkat setelah sejak Februari lalu mencatatkan penurunan.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, jumlah pengidap virus korona dalam empat hari terakhir berturut-turut naik. Pada Selasa (8/6/2021) jumlah kasus konfirmasi positif Covid-19 mencapai 6.294 kasus, kemudian pada Rabu bertambah menjadi 7.725 kasus, Kamis menjadi 8.892, dan Jumat (11/6) kembali naik 8.083 kasus.

Kenaikan kasus positif virus korona sekitar 8.000-an orang ini bahkan menjadi yang tertinggi sejak akhir Februari lalu. Secara kumulatif, jumlah kasus aktif Covid-19 atau pengidap yang sedang dalam perawatan atau isolasi mencapai 104.655 orang.

Data Kemenkes yang diolah Lokadata.id juga menunjukkan, kenaikan kasus virus korona sebetulnya sudah terlihat sejak pertengahan Mei (grafis). Pada pekan 30 Mei hingga 5 Juni lalu, jumlah pengidap virus korona meningkat menjadi 41.810 orang, sedangkan angka kematian akibat penyakit tersebut juga naik menjadi 1.187 orang.

Data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 juga mencatat, ada lima provinsi yang jumlah pengidap virus koronanya naik cukup tajam tiga minggu setelah momen Idulfitri lalu. Sejumlah daerah itu, di antaranya: Jawa Tengah kasusnya naik 120 persen, Kepulauan Riau 82 persen, Sumatera Barat, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.

Seiring dengan kenaikan kasus virus korona ternyata berdampak pada peningkatan keterisian tempat tidur (bed occupancy ratio/BOR) di sejumlah daerah. Satgas Covid-19 mencatat sejumlah daerah tingkat BOR-nya melebihi standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 60 persen.

Menurut Satgas Covid-19, sejumlah wilayah itu di antaranya: Menurut Satgas Covid-19, sejumlah wilayah itu di antaranya: DKI Jakarta, Kudus, Demak, Jepara, Pati, Semarang, Blora, Sragen, Bandung, Bandung Barat, Kota Bandung, Cimahi, Purwakarta, dan Pasaman Barat.

Sejumlah data tersebut mengindikasikan gelombang kedua penyebaran Covid-19 di Indonesia mulai terjadi. Menurut Pakar epidemiologi dari Universitas Indonesia, Pandu Riono, gelombang kedua perluasan kasus virus korona ini disebutnya “pasti terjadi”.

“Kasus saat ini meningkat drastis daripada yang sebelumnya. Dan itu sudah diprediksi akan potensial meningkat lebih tinggi daripada yang paling tinggi yang pernah dialami Indonesia,” kata Pandu kepada Lokadata.id.

Dia menambahkan, kenaikan kasus saat ini sangat mengkhawatirkan lantaran disebabkan oleh dua kombinasi faktor: perilaku manusia serta karakteristik virus.

Pandu menjelaskan, pada faktor perilaku manusia, misalnya, peningkatan ini akibat kenaikan mobilitas masyarakat pada mudik Idulfitri lalu –meski sudah dilarang pemerintah. Karakteristik virus sekarang juga berkembang sejumlah mutasi virus yang diyakini menular lebih cepat, seperti mutasi B117 dari Inggris dan B.1617 dari India.

“Karakter virus sekarang lebih ganas, lebih mudah menular, dan bisa mematikan. Dan mungkin juga vaksin tidak mampu melindungi seperti sebelumnya. Artinya, daya kemampuannya menurun,” katanya. Dia menyebutkan, indikasi mutasi virus menjadi penyebab kenaikan kasus ini karena ada fenomena sejumlah tenaga kesehatan yang meninggal meski sudah divaksinasi.

Kepada Lokadata.id, Ahli epidemiologi dari Griffith University Australia, Dicky Budiman menambahkan, kenaikan kasus virus korona saat ini merupakan “limpahan” dari kasus-kasus sebelumnya yang tidak terdeteksi. Menurutnya, ini sesuai dengan karakteristik penyebaran virus yang bersifat eksponensial.

Dicky memperkirakan, lonjakan jumlah pengidap Covid-19 akan mencapai puncaknya pada akhir Juni hingga Juli nanti. Bahkan, Dicky memperkirakan, jumlah kasus virus korona bisa mencapai 50-100 ribu kasus per harinya.

Masalahnya, lanjut Dicky Budiman, demi menemukan kasus sejumlah tersebut, Indonesia belum memiliki kemampuan tes, lacak, isolasi yang memadai. “Puncaknya terjadi tapi tidak terdeteksi. Itu yang berbahaya karena pada gilirannya ini akan menyebabkan potensi kasus yang besar yang akan membebani layanan kesehatan,” kata Dicky.

Respons pengendalian

Dengan potensi peningkatan jumlah kasus Covid-19 yang akan mencapai puncak terberat tentu perlu direspons dengan strategi pengendalian yang lebih ketat. Menurut Pandu Riono dari UI, pemerintah harus berani mempertimbangkan penerapan kembali pelaksanaan pembatasan sosial skala besar (PSBB) lantaran pelbagai indikator pandemi telah memburuk.

“Kalau mau PSBB sekarang. Jangan nunggu-nunggu lagi,” katanya. “Ibarat sekarang ini sudah kebakaran perlu dipadamkan dan mencegah kebakarannya lebih luas lagi.”

Sependapat, Dicky Budiman menambahkan, pemerintah harus segera menyiapkan skenario terburuk dengan melaksanakan PSBB kembali terutama se-Jawa dan Bali. Dia pun meminta, jika pembatasan itu diterapkan, maka kebutuhan dasar masyarakat terutama yang rentan harus dipenuhi oleh pemerintah.

Kasus kematian harian Covid-19 Indonesia cenderung naik, Jateng terbanyak

Kandidat Phd bidang Global Health Security and Pandemic ini juga meminta pemerintah segera memperbaiki sistem deteksi dini tes, lacak, isolasi. “Ini yang harus dilakukan untuk mencegah lonjakan yang lebih besar,” katanya.

Dikonfirmasi soal ini, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi mengatakan, pemerintah menyadari bahwa kenaikan jumlah pengidap Covid-19 saat ini bisa saja merupakan gelombang kedua.

Menurutnya, hal itu disebabkan pergerakan mobilitas masyarakat pasca Idulfitri. “Seperti disampaikan pak Menteri Kesehatan sampai awal Juli nanti tren kasus akan terus meningkat,” kata Nadia kepada Lokadata.id.

Nadia menyebut, pemerintah sudah menyiapkan sejumlah strategi demi mengendalikan kenaikan kasus Covid-19 saat ini, di antaranya: memperkuat microlockdown, optimalisasi tes, lacak, serta melakukan isolasi secara terpusat.

Dia juga mengatakan, pemerintah akan memperkuat layanan kesehatan di berbagai daerah serta memastikan kebutuhan obat dan sarana lainnya mencukupi untuk tiga bulan ke depan.

Juru Bicara Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito juga mengatakan, pemerintah akan meningkatkan cakupan vaksinasi massal terutama kepada wilayah yang mengalami lonjakan kasus Covid-19. Menurut Wiku, sejumlah daerah itu, seperti: Jawa Timur dan Jawa Tengah.