Lokadata.ID

Generasi sandwich harus cari sumber penghasilan baru

Ilustrasi pengaturan keuangan
Ilustrasi pengaturan keuangan mindandi / Freepik

Generasi ‘sandwich’ diperkirakan dapat mengalami kesulitan ekstra dalam menjaga keuangannya selama masa pandemi. Karena itu, perubahan pola konsumsi dan pengaturan kembali bujet bulanan harus dilakukan secara lebih tepat guna.

Beratnya beban yang harus ditanggung generasi ‘sandwich’ sebenarnya masuk akal. Dilihat dari term-nya saja, generasi ini berada pada posisi yang terjepit di tengah-tengah.

Istilah generasi sandwich pertama kali dikenalkan Dorothy A. Miller pada 1981 silam. Kala itu, melalui tulisannya di Jurnal Social Work, Dorothy memperkenalkan term generasi ‘sandwich’ sebagai sebutan bagi mereka yang “terjepit" di antara tanggungjawab terhadap orang tua dan keluarga barunya.

Generasi sandwich disebut banyak mendapat tekanan karena mereka harus memenuhi kebutuhan orangtuanya yang sudah berumur lanjut. Pada saat bersamaan, generasi ini juga menjadi tulang punggung keluarga barunya.

Beban ganda yang harus ditanggung ini menjadikan generasi sandwich terjepit. Posisinya, jika diibaratkan, persis seperti daging dan isi roti sandwich yang ditekan dari atas dan bawah.

Di masa pandemi Covid-19, beban generasi ini bisa jadi bertambah lebih banyak. Apalagi jika mereka terdampak perubahan kondisi ekonomi yang terjadi, entah dirumahkan atau terkena PHK.

Rasio pengeluaran masyarakat dan siasat memenuhinya di tengah pandemi
Rasio pengeluaran masyarakat dan siasat memenuhinya di tengah pandemi Jakpat / JAKPAT Survey Report 2020

Bertambahnya beban hidup generasi ‘sandwich terekam dalam hasil riset yang dilakukan Jakpat, 22-23 April lalu. Dalam surveinya terhadap 1.343 responden, Jakpat menemukan fakta bahwa 93 persen responden generasi sandwich memiliki tanggungan cicilan atau hutang. Jumlahnya lebih besar dari rasio hutang generasi non-sandwich, yakni 84 persen dari total responden.

Dibedah lebih dalam, ada 52 persen generasi sandwich yang harus memenuhi iuran rutin BPJS Kesehatan keluarga dan orangtuanya. Kemudian, 33 persen generasi ini juga harus menanggung cicilan sepeda motor, dan 30 persen bertanggungjawab terhadap utang keluarganya di bank.

Hanya 45 persen dari seluruh generasi sandwich yang mengaku rutin mengeluarkan uang untuk melunasi utang dirinya sendiri. Sisanya, lebih banyak anggota generasi ini yang harus menyisihkan pendapatan tiap bulannya untuk menutupi kebutuhan hidup keluarga inti, orangtua, atau keluarga besar.

Permasalahan muncul karena, dalam riset yang sama, ditemukan fakta 68 persen generasi sandwich mengalami penurunan pendapatan selama pandemi Covid-19. Rasio yang sama juga ditemukan pada kelompok responden non-generasi sandwich. Akan tetapi, jelas beban hidup mereka lebih ringan dibanding orang-orang yang termasuk generasi sandwich.

Penurunan pendapatan yang terjadi membuat generasi sandwich harus mulai merogoh tabungannya demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Cara masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya di tengah pengurangan pendapatan di kala pandemi
Cara masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya di tengah pengurangan pendapatan di kala pandemi Jakpat / JAKPAT Survey Report 2020

Sebanyak 70 persen generasi sandwich sudah mulai membuka tabungannya demi menutup seluruh kebutuhan. Kemudian, 54 persen dari mereka yang punya dana cadangan mulai menggunakan alokasi darurat untuk menjaga nafas keluarga.

Bahkan, 36 persen dari generasi ini mengaku sudah mulai berhutang demi menjaga kebutuhan keluarga inti dan besarnya. Hutang mereka cari baik melalui kerabat terdekat, bank, atau layanan teknologi finansial.

Sumber penghasilan baru

Selain berhutang dan membuka tabungan, ada juga anggota generasi sandwich yang mulai berusaha memenuhi kebutuhannya dengan menjual berbagai barang atau makanan. Usaha mencari sumber pendapatan baru ini disarankan agar dilakukan masyarakat, terutama bagi mereka yang sama sekali tak berpenghasilan di kala pandemi Covid-19.

Menurut Perencana Keuangan Independen Ahmad Gozali, sumber pendapatan baru atau tambahan wajib dimiliki masyarakat, khususnya bagi yang penghasilannya turun 50 persen lebih. Pendapatan baru bisa dicari, misalnya, dengan menjual berbagai barang atau makanan yang laku secara musiman.

“Untuk sementara berjualan yang laku secara musiman sampai bisa ketemu (produk) jualan yang lebih stabil,” ujar Gozali kepada Lokadata.id, Jumat (15/5/2020).

Gozali berpendapat, produk-produk macam masker, disinfektan, dan paket internet termasuk dalam contoh sumber penghasilan sesaat, karena permintaannya diyakini akan surut ke depannya.

Daripada menjual barang-barang itu, masyarakat khususnya generasi sandwich disarankan lebih memilih produk jualan lain yang memiliki daya tawar lebih awet. Produk-produk ini contohnya makanan, produk segar hasil olahan, dan makanan beku yang distribusinya mengandalkan layanan antar.

“Kemudian, yang trendnya masih akan tetap meningkat walaupun pandemi mereda adalah produk menjaga kesehatan seperti vitamin, herbal, madu dan sejenisnya. Karena masyarkat masih akan tetap tinggi awareness-nya terhadap kebersihan dan kesehatan,” ujarnya.

Atur bujet

Secara umum, Gozali mengelompokkan kemampuan masyarakat untuk bertahan hidup selama masa darurat dari 3 variabel kunci. Ketiganya yakni rasio dana cadangan yang dimiliki, cicilan utang eksisting, dan jumlah penghasilan.

Dia menyebut, seseorang masih bisa bertahan hidup meski pendapatannya turun hingga 30 persen di masa darurat. Syaratnya, orang terkait tak memiliki cicilan utang berlebihan.

Jika penghasilan seseorang berkurang 50 persen lebih, maka ia masih bisa bertahan hidup asal tak memiliki hutang sama sekali. “Kalau punya cicilan, walaupun dalam batas aman kurang dari 35 persen (pendapatan), tetap akan kesulitan mengatur cashflow-nya,” ujarnya.

Apabila penghasilan seseorang berkurang 30 persen, dan cicilan eksistingnya mencapai 35 persen dari pendapatan, maka dana cadangan harus digunakan orang tersebut untuk menutup kebutuhan hidup sehari-hari.

Gozali berkata, dalam masa serba tidak menentu saat ini, pengaturan kembali pos pengeluaran harus dilakukan, terutama oleh generasi sandwich dan mereka yang tak bekerja karena PHK atau dirumahkan.

Dalam pandangan Gozali, pengaturan ulang pos pengeluaran harusnya bisa mudah dilakukan, karena masa bekerja dan berkegiatan dari rumah diyakini turut mengurangi biaya hidup hingga 30 persen. Pengurangan ini berasal dari efisiensi biaya transportasi, makan di luar, serta bujet bersosialisasi.

Akan tetapi, pengaturan ulang pos pengeluaran diakui sulit dilakukan generasi sandwich yang pada dasarnya sudah memiliki beban hidup besar. Karena itu, generasi ini disarankan mulai lebih efektif lagi menggunakan dana cadangan.

“Pertimbangkan juga untuk menjual aset yang dikredit, karena dengan menjual aset yang dikredit, maka bukan hanya mengurangi beban cicilan, tapi juga mengurangi beban operasional aset itu,” ujarnya.