Lokadata.ID

GeNose belum bisa gantikan mekanisme pendeteksian Covid-19

Petugas menunjukkan alat tes cepat Covis-19 melalui hembusan nafas yang diberi nama GeNose hasil inovasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta
Petugas menunjukkan alat tes cepat Covis-19 melalui hembusan nafas yang diberi nama GeNose hasil inovasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Andreas Fitri Atmoko / ANTARA FOTO

Alat pendeteksi virus korona buatan Universitas Gadjah Mada (UGM), GeNose C19, resmi mengantongi izin edar dari Kementerian Kesehatan pada Kamis (24/12/2020) lalu. Kendati demikian, sejumlah epidemiolog menilai alat terebut masih perlu dievaluasi dan tidak serta-merta mampu menggantikan deteksi melalui uji usap. Pemerintah mengatakan masih mengkaji validitas alat ini.

Ketua tim pengembang GeNose, Kuwat Triyana mengatakan alat tersebut akan segera diproduksi secara massal untuk membantu pendeteksian Covid-19 di pelbagai daerah. Ia pun berharap distribusi GeNose C19 bisa digunakan di tempat publik seperti bandara, stasiun kereta, dan tempat keramaian lainnya termasuk rumah sakit.

"Alhamdulillah, GeNose C19 secara resmi mendapatkan izin edar (KEMENKES RI AKD 20401022883) untuk mulai dapat pengakuan oleh regulator, yakni Kemenkes, dalam membantu penanganan Covid-19 melalui skrining cepat," kata Kuwat dalam keterangan resmi dalam situs resmi UGM, Sabtu (26/12/2020).

Berbeda dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) atau yang lebih dikenal sebagai uji usap, Kuwat menjelaskan, GeNose menggunakan embusan napas untuk penentuan infeksi Covid-19 atau tidak. Hal ini dikarenakan terdapat pola embusan napas yang berbeda antara orang yang terinfeksi dengan orang yang tidak terinfeksi virus korona di dalam tubuhnya.

Lebih lanjut, dirinya mengatakan, ketika virus ataupun bakteri masuk ke dalam tubuh seseorang maka akan membentuk Volatile Organic Compound (VOC) atau senyawa organik menguap yang khas. Senyawa organik inilah yang dikatakannya, akan dideteksi oleh sensor-sensor yang berada dalam tabung GeNose.

Pola yang dihasilkan sensor tersebut lantas dianalisis menggunakan sistem kecerdasan buatan serta pembelajaran mesin yang telah dibuat. Kuwat mengklaim, dalam waktu kurang dari 3 menit, GeNose bisa mendeteksi apakah orang tersebut terinfeksi Covid-19 atau tidak.

Ia mengatakan sebelum mulai diproduksi massal pada awal 2021, sebanyak 100 unit alat telah dikirim ke Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) untuk meningkatkan akurasinya. Alat ini, kata Kuwat ditujukan untuk menyasar skrining cepat yang selama ini mengandalkan rapid test. Kendati demikian, Kuwat mengatakan alat ini belum memiliki kemampuan level diagnostik seperti tes PCR.

Tidak bisa gantikan uji usap dan uji cepat

Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman mengatakan, pengetesan melalui GeNose masih belum bisa menggantikan uji usap PCR ataupun uji cepat antigen dalam pendeteksian Covid-19.

"Tentu kita apresiasi upaya-upaya ini, terutama berkaitan dengan testing. Akan tetapi, dalam kondisi saat ini, GeNose tidak bisa menggantikan tes PCR untuk mengetahui secara pasti kasus terkonfirmasi,” katanya kepada Lokadata.id, Senin (28/12/2020).

Dicky menilai, alat tes UGM dapat difungsikan sebagai langkah awal skrining dini seperti penggunaan thermogun yang saat ini jamak digunakan. Dengan tingkat akurasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan thermogun.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, tidak dapat digunakannya GeNose sebagai pengganti uji usap PCR dan uji cepat antigen dikarenakan analisis terkait metode uji napas yang dilakukan alat tersebut sangatlah kompleks.

Sebab ada ratusan kandungan komponen yang keluar dari mulut, termasuk bakteri di saluran pernapasan. Belum lagi kondisi lingkungan tempat pengetesan maupun kondisi diri pasien juga dapat berdampak pada kualitas pengujian yang menggunakan nafas.

Karenanya, Dicky mengatakan, meski telah mendapat izin, GeNose harus tetap dimonitor dan diperbaiki lagi tingkat akurasinya. “Faktor ini yang harus menjadi pertimbangan dalam analisis, jadi ini tantangannya,” katanya.

Hal senada juga disampaikan oleh epidemiolog dari Universitas Indonesia, Pandu Riono. yang menegaskan, tidak mungkin alat tersebut fungsinya dapat menggantikan pendeteksian melalui uji usap serta uji cepat antigen.

Oleh sebab itu, dirinya mempertanyakan validitas dari alat yang diklaim dapat mendeteksi Covid-19 tersebut. Menurutnya perlu dilakukan kajian ulang secara terbuka sebelum alat tersebut digunakan secara luas oleh publik.

"Tidak mungkin menggantikan tes swab PCR dan Antigen. Masih perlu dikaji ulang secara terbuka untuk isu validitasnya sebelum dipakai luas di publik,” kata Pandu.

Publikasi data

Ahli biologi molekuler Indonesia, Ahmad Utomo memberikan sejumlah catatan terkait kehadiran dan pemberian izin edar GeNose.

Ahmad menjelaskan inovasi GeNose ini memang menarik. Dengan menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence, tim UGM bisa membaca dan membandingkan berapa banyak presentasi metabolit gas yang dikeluarkan saat bernapas. Sebab komposisi metabolit gas pada orang sehat dan yang terinfeksi virus berbeda. Alat ini juga dapat melihat seseorang sedang sakit apa.

Namun ia menilai, perlu ada publikas ilmiah terkait data yang dilaporkan kepada Kemenkes mengenai penelitian serta pengembangan GeNose yang dijadikan sebagai dasar izin edar.

Hal ini penting agar publik serta akademisi mengetahui bagaimana proses pengembangan dan penelitian alat tersebut. Salah satunya terkait profil relawan yang mengikuti pengujian GeNose, seperti orang dengan gejala seperti apa yang menjadi sumber pengetesan serta berapa jumlah sampel yang diambil untuk melakukan pengetesan.

Hal lain yang menurut Ahmad juga perlu disampaikan kepada publik adalah tingkat kegagalan alat melakukan deteksi, jendela optimal testing, dan kemampuan alat untuk membedakan pasien Covid-19 dengan pasien penyakit pernapasan lain.

Karenanya publikasi data mengenai penelitian dan pengembangan GeNose menjadi penting untuk dibuka agar dapat diketahui keterbatasan alat tersebut.

"Inti dari alat diagnostik itu pasti punya keterbatasan. Keterbatasan-keterbatasan itu yang perlu dipastikan dan juga jangan sampai ada liability (komplain pertanggungjawaban)," kata Ahmad, dikutip dari Kompas.

Ahmad lantas mengusulkan sebelum ada studi lebih detail terkait GeNose, maka sebaiknya peredaran alat tersebut dibatasi untuk kalangan akademik terlebih dahulu semisal digunakan pada rumah sakit akademik. Ia mengatakan, hal ini sekaligus berfungsi untuk memvalidasi keefektifan alat tersebut di lapangan.

“Jangan, misalnya, langsung diterapkan di bandara. Karena nanti ini akan menyulitkan tim pengendalian pandemi. Ini barang baru kan, bagaimana nanti menyikapinya," kata dia.

Terkait izin edar

Direktur Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi membenarkan izin edar terhadap GeNose.

“Jadi izin edar itu menyatakan alat ini secara legal boleh beredar. Kemudian fungsi alat ini untuk apa kan sudah dicantumkan dalam izin edar itu. Misalnya kalau ada rumah sakit yang ingin membeli dan menggunakan alat ini, silakan saja. Tetapi kalau bicara upaya penanggulangan pandemi Covid-19 ya masih perlu kajian lebih lanjut,” kata Nadia kepada Lokadata.id.

Nadia yang juga menjabat sebagai Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan menambahkan penggunaan alat ini masih memerlukan pendalaman dari ahli laboratorium, ahli wabah Covid-19, dan pelaporan Kementerian Kesehatan ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pendalaman ini diperlukan sebab GeNose adalah alat temuan baru. Selama ini dalam menentukan diagnosis Covid-19, pihaknya selalu berpedoman dari rekomendasi yang dikeluarkan WHO dan para ahli.

“Tetap saja kalau belum ada pedoman, untuk melakukan diagnosis harus konfirmasi dengan PCR swab,” katanya. Nadia belum bisa memastikan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengkaji GeNose ini.

Wakil Menteri Kesehatan Dante S. Harbuwono mengatakan pihaknya akan membantu melakukan validasi yang akurat pada alat tersebut. "Nanti tetap akan kami evaluasi post review validitasnya di Litbangkes, untuk memberikan masukan supaya lebih baik lagi," katanya.

Dante menambahkan meski surat izin edar sudah dikeluarkan tetapi standing position alat ini adalah sebagai skrining. "Sehingga diperlukan complementary diagnosis. Semakin banyak complementary test, maka semakin banyak data yang dikumpulkan semakin bagus mesin AInya," kata Dante.

Menanggapi surat izin edar dari Kementerian Kesehatan tersebut, Pandu mengatakan bahwa izin edar tersebut berlaku selama setahun dan masih bisa dibatalkan sewaktu-waktu . Oleh karena itu, lebih baik dimanfaatkan untuk melakukan penyempurnaan pada alat kesehatan itu.