Lokadata.ID

Pertalite didiskon, Premium disetop bertahap

Petugas SPBU melayani masyarakat dengan mengisi BBM jenis Pertalite di Kota Sorong, Papua Barat, Sabtu (5/12/2019).
Petugas SPBU melayani masyarakat dengan mengisi BBM jenis Pertalite di Kota Sorong, Papua Barat, Sabtu (5/12/2019). Olha Mulalinda / ANTARA FOTO

Penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite di sejumlah daerah menjadi salah satu aksi korporasi PT Pertamina (Persero) menggenjot penggunaan bahan bakar ramah lingkungan. Meski begitu, BBM jenis Premium masih tetap beredar, dan ke depan bertahap akan disetop.

Sebelumnya, Pertamina memberlakukan pemotongan harga berupa diskon bagi produk Pertalite sehingga harganya menjadi setara premium. Di Denpasar, Bali misalnya, BUMN minyak tersebut memberikan harga khusus sebesar Rp6.850 bagi konsumen.

Menurut Unit Manager Communication & CSR MOR V Jatimbalinus, Rustam, pemberlakuan harga Pertalite khusus tersebut merupakan bagian dari kampanye program Langit Baru yang mengajak masyarakat menggunakan BBM ramah lingkungan, Program tersebut, kata dia, telah berjalan sejak Juli 2020.

Sebagai catatan, BBM berkualitas yang dimaksud Pertamina adalah minyak dengan kadar oktan (research octane number/RON) tinggi. Di antaranya: Pertalite (RON 90), Pertamax (RON 92), dan Pertamax Turbo (RON 98).

Rustam menyebut, karena program tersebut, masyarakat mulai beralih mengkonsumsi BBM ramah lingkungan. Berdasarkan catatan Pertamina, konsumsi BBM jenis Pertalite dan Pertamax pada sepanjang Juli-Agustus 2020 mengalami peningkatan. Nilainya masing-masing mencapai 69 persen dan 6 persen dibanding Juni 2020.

Kebijakan serupa juga diberlakukan di Tangerang Selatan. Pertamina memberikan harga khusus Pertalite sebesar Rp6.450 per liter yang setara dengan Premium. Promo ini berlaku 38 SPBU di wilayah tersebut.

Menurut VP Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman, pemberlakuan harga Pertalite secara khusus tersebut bukan “penurunan harga”. Melainkan, kata dia, pemberian diskon.

“Sebanarnya bukan turun harga tetapi diskon harga,” kata Fajriyah kepada Lokadata.id, Rabu (16/9/2020). “Ini program edukasi bagi konsumen premium untuk mendapatkan customer experience agar bisa beralih ke Pertalite.”

Fajriyah bilang, pemberlakuan harga Pertalite khusus itu hanya menyasar sejumlah pengguna kendaraan bermotor. Di antaranya: pengguna roda dua dan tiga, angkutan umum kota, dan taksi plat kuning.

Terpisah, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa berpendapat, pemberian harga khusus Pertalite ini disinyalir karena harga minyak dunia sedang turun akibat pandemi korona.

“Yang kedua itu bisa jadi strategi marketing Pertamina untuk boosting (konsumsi) Pertalite atau Pertamax,” kata Fabby kepada Lokadata.id.

Sebagai catatan, harga minyak mentah berdasarkan acuan West Texas Intermediate (WTI) per Minggu (14/9) tercatat sebesar AS$37,26. Padahal, di periode yang sama tahun lalu (year-to-year/yoy) mencapai AS$62,90.

Sementara, harga minyak Brent yang juga digunakan sebagai standar internasional tercatat sebesar AS$41,10. Secara tahunan, harga minyak tersebut mencapai AS$61,25.

Fabby menambahkan, mestinya harga BBM yang turun tak hanya Pertalite. BBM jenis Pertamax, kata dia, juga perlu diturunkan karena harga minyak sedang anjlok. Dia pun mendesak pemerintah bisa menyesuaikan harga minyak dalam negeri sesuai dengan fluktuasi harga minyak dunia.

“Regulator yang bisa mengendalikan harga BBM sesuai dengan naik turunnya harga pasar,” ujarnya.

Penyetopan Premium

Fajriyah menegaskan, kendati harga Pertalite diturunkan dan sama dengan Premium, namun Pertamina masih menyediakan BBM jenis premium di sejumlah wilayah tersebut. Keputusan menyetop peredaran premium, kata dia, menjadi kewenangan dari pemerintah.

“Sampai saat ini premium masih dijual di daerah Bali dan Tangsel,” kata Fajriyah kepada Lokadata.id, Rabu (16/9/2020). “Premium adalah BBM penugasan dari pemerintah. Selama penugasan tersebut, Pertamina akan menjalankan dengan sebaik-baiknya. Kecuali ada aturan atau permintaan lain dari pemerintah maupun pemda.”

Meski begitu, Fajriyah menyebut, Pertamina berencana memperluas pemberlakuan harga khusus Pertalite ke pelbagai wilayah. Pertamina, kata dia, tengah berkoordinasi dengan Pemda di Jawa dan Bali.

“Untuk daerah lain sejauh ini koordinasi dilakukan kepada pemda di Jawa dan Bali,” ujarnya.

Rencana Pertamina tersebut direspons positif oleh Pengamat Energi dari Energy Watch Indonesia, Mamit Setiawan. Dia bilang, perluasan program tersebut akan mendorong masyarakat beralih menggunakan BBM Pertalite.

“Saya kira program baik ini diperluas seperti di wilayah Jamali (Jawa, madura, dan bali). Dengan memperluas wilayah masyarakat bisa merasakan pertalite seharga premium,” kata Mamit kepada Lokadata.id.

Menurut Mamit, keputusan terkait penyetopan peredaran Premium menjadi tanggung jawab dari pemerintah.

Sementara, Fabby berpendapat, penyetopan peredaran Premium merupakan keharusan karena ada aturan terkait standar baku mutu emisi yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2017.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Arifin Tasrif sempat mengatakan, pemerintah berencana melakukan uji coba penggantian Premium ke Pertalite secara bertahap. Dia menyebut, uji coba akan dilakukan di wilayah Jamali.

“Program itu (penggantian Premium ke Pertalite) kami akan lakukan secara bertahap. Kemarin dilakukan uji coba di Bali tapi itu aksi korporasi Pertamina. Ke depan juga Jamali bisa diimplementasikan,” kata Arifin, Rabu (2/9), seperti dikutip dari Detik.