Lokadata.ID

Harga minyak berfluktuasi di tengah ledakan varian Delta dan OPEC+

Suasana ruang kontrol jaringan pipa minyak di kilang unit pengolahan (Refinery Unit) V, Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (23/10/2019).
Suasana ruang kontrol jaringan pipa minyak di kilang unit pengolahan (Refinery Unit) V, Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (23/10/2019). Yulius Satria wijaya / ANTARA FOTO

Harga minyak dunia terus berfluktuasi. Pada Jumat (6/8) mengutip Reuters, harga minyak turun 1 persen dan mencatatkan kerugian mingguan tertajam dalam beberapa bulan.

Harga minyak mentah berjangka Brent turun 59 sen atau 0,8 persen menjadi AS$70,70 per barel. Sementara, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) turun 8,1 sen atau 1,2 persen menjadi AS$68,28 per barel.

Turunnya harga minyak ini menurut analis disebabkan melonjaknya kasus Covid-19 khususnya varian Delta di pelbagai negara, yang direspons pemerintah setempat dengan menerapkan lockdown. Cina, sebagai pengimpor minyak terbesar di dunia menerapkan pembatasan di beberapa kota dan membatalkan beberapa penerbangan.

Perkembangan jumlah rig minyak di Amerika Serikat, menurut perusahaan jasa energi Baker Hughes Co. juga melambat dalam beberapa bulan terakhir karena pengebor fokus pada pengetatan modal.

Namun, pada perdagangan Rabu (11/8), harga minyak kembali naik. Brent di pasar perdagangan berjangka naik ke posisi AS$71,44 per barel, sedangkan WTI ditutup pada harga AS$69,35 per barel.

Kendati demikian, analis menyebutkan kenaikan tersebut akan bersifat terbatas di tengah meningkatnya kasus Covid-19 dan pembatasan di pelbagai negara.

“Investor mempertanyakan pemulihan di Amerika Serikat di tengah meningkatnya jumlah kasus. Perjalanan udara Amerika Serikat telah stagnan selama hampir 2 bulan di tengah pembatasan perjalanan,” tulis ANZ Research.

Persediaan minyak mentah, dan bensin di Amerika Serikat kemungkinan akan turun minggu lalu. Stok bensin diperkirakan turun untuk periode keempat secara berturut-turut.

Bagaimana di Indonesia?

Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan berpendapat, merebaknya varian Delta menimbulkan kekhawatiran pasar akan pembatasan aktivitas yang berujung pada penurunan konsumsi bahan bakar. “Kalau pun cadangan minyak masih banyak, tetapi konsumsi turun hal itu akan memukul harga minyak dunia secara global,” katanya kepada Lokadata.id, Selasa (10/8/2021).

Kemudian, hal lain yang mempengaruhi harga minyak dunia adalah menguatnya dolar. “Karena semakin menguat maka semakin tinggi beban costnya,” kata lulusan Teknik Perminyakan Universitas Trisakti ini.

Mamit menambahkan, Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) Plus belum juga memutuskan apakah akan menambah pasokan sesuai dengan rencana atau tetap mempertahankan produksi yang sekarang. ”Kekhawatiran kelebihan suplai menguat di tengah melemahnya demand saat ini,” katanya.

Program vaksinasi yang sedang dilakukan oleh seluruh negara ke depan menjadi salah satu upaya meningkatkan perekonomian global. Dengan adanya vaksinasi, varian virus korona seperti varian Delta diharapkan bisa teratasi sehingga kasus Covid-19 semakin berkurang dan perekonomian global bisa kembali tumbuh.

“Dengan vaksin diharapkan kondisi pandemi bisa membaik 2-3 bulan ke depan, termasuk di Indonesia yang kasusnya mulai turun saat ini. Harga minyak dunia saya perkirakan tidak akan kembali ke AS$80-AS$75 per barel, tapi range moderatnya di AS$70 dan AS$60 sebagai angka terendah hingga akhir 2021 ini,” kata Mamit.

Mantan Drilling Engineer di PT Energy Drilling Indonesia ini menambahkan, harga Indonesia Crude Price (ICP) akan mengikuti Brent. “Asumsi saya harga ICP akan lebih tinggi dari asumsi APBN 2021 yang mematok AS$45 per barel, karena di awal 2021 saja harga ICP sudah di atas patokan tersebut. Ini akan berdampak baik pada penerimaan PNBP sektor migas kita,” kata dia.

Pada Januari 2021, harga ICP sebesar AS$65,38 per barel. Sempat turun di April 2021 menjadi AS$20,66 per barel. Namun, kembali naik di angka AS$72,17 per barel di Juli.