Lokadata.ID

Harga minyak dunia turun akibat stok bensin AS melimpah

Ilustrasi: warga menunggu giliran membeli  minyak tanah dan Pertalite di lokasi distribusi darurat di Waiwerang, Adonara Timur, Flores Timur, NTT, setelah banjir bandang menyebabkan SPB tidak beroperasi, Rabu (7/4/2021).
Ilustrasi: warga menunggu giliran membeli minyak tanah dan Pertalite di lokasi distribusi darurat di Waiwerang, Adonara Timur, Flores Timur, NTT, setelah banjir bandang menyebabkan SPB tidak beroperasi, Rabu (7/4/2021). Aditya Pradana Putra / ANTARA FOTO

Harga minyak dunia pada Kamis (8/4/2021) turun akibat stok bensin AS melonjak tajam. Melimpahnya cadangan di negara konsumen minyak terbesar dunia itu telah memicu kekhawatiran akan berkurangnya permintaan minyak mentah saat stok di seluruh dunia sedang tinggi.

Reuters melaporkan, hari ini harga minyak mentah Brent turun 36 sen, atau 0,6 persen, menjadi AS$62,80 per barel. Sedangkan harga West Texas Intermediate AS turun 38 sen menjadi AS$59,39 per barel.

Akhir pekan lalu, persediaan minyak mentah turun 3,5 juta barel menjadi hampir 502 juta barel, sementara stok bensin malah meningkat 4 juta barel menjadi lebih dari 230 juta barel.

"Pabrik penyulingan mungkin perlu sedikit mengurangi laju operasionalnya, agar penyimpanan bensin tidak melampaui rekor sepanjang masa," kata Bob Yawger, direktur energi berjangka di Mizuho Securities.

Saat ini pasokan minyak mentah di seluruh dunia sedang meningkat karena produksi Rusia naik dari rata-rata bulan Maret. Namun, Dana Moneter Internasional (IMF) yakin, pertumbuhan ekonomi yang mulai membaik akan membantu meningkatkan permintaan minyak mentah dan produk turunannya, sehingga dapat mengurangi kelebihan persediaan.

Analisis IMF yang dilansir Fox Business, menyebutkan, pengeluaran publik akan segera dikerahkan secara besar- untuk memerangi dampak pandemi korona. Hal ini akan mengerek pertumbuhan global hingga 6 persen pada tahun ini, tingkat yang sebenarnya tidak pernah tercapai sejak tahun 1970-an.

Sebelumnya, pada Selasa (6/4/2021) lalu harga minyak sudah sempat jatuh karena Terusan Suez kembali dibuka setelah terblokir selama sepekan karena kapal raksasa “Ever Given” terjebak di sana sejak 23 Maret 2021. Saat itu harga minyak mentah Brent turun 84 sen, atau 1,3 persen menjadi AS$64,14 per barel. Sementara harga minyak West Texas Intermediate AS merosot AS$1,01, atau 1,6 persen menjadi AS$60,55 barel.

Harga WTI dan Brent
Harga WTI dan Brent / Oilprice.com

Data mingguan American Petroleum Institute menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah AS membengkak 3,9 juta barel pada pekan lalu, kata sumber mengutip laporan. Analis dalam jajak pendapat Reuters yang dikutip The Hindu Business Line, memperkirakan produksi sekitar 100.000 barel.

“Kenaikan harga yang terakumulasi selama blokade Suez, seperti yang diperkirakan, berumur pendek. Sekarang (kenaikan harga) sedang terhapus oleh kembali normalnya lalu lintas di sana secara bertahap,” kata analis pasar minyak Rystad Energy, Louise Dickson.

Ia menambahkan, penguncian yang diperbarui dan hambatan pada vaksinasi massal akan menghalangi pemulihan permintaan minyak hingga 1 juta barel per hari saelama 2021.

Investor pun kini mengalihkan fokus ke pertemuan menteri OPEC+ yang dihelat pada hari Kamis ini. Para analis memperkirakan kelompok tersebut akan memperpanjang pembatasan pasokan karena prospek permintaan yang redup.

JPMorgan yakin sebagian besar anggota OPEC+ akan menghentikan pemotongan produksinya hingga Mei. Sedangkan Arab Saudi diperkirakan akan memperpanjang masa pemotongan produksi sukarelanya selama dua bulan lagi hingga akhir Juni. "Kami memperkirakan aliansi mulai menambah produksi dengan kenaikan 500.000 barel per hari (bpd) mulai bulan Juni hingga Agustus," kata analis JPMorgan.

"Guncangan yang kita lihat pada harga berarti bahwa OPEC + kemungkinan akan perlu mengambil pendekatan yang hati-hati sekali lagi," kata bank ING. “Kami berpandangan bahwa grup kemungkinan akan menahan tingkat output tidak berubah.”

Salah satu tantangan untuk membatasi pasokan global adalah ekspor di bawah radar yang dilakukan oleh anggota OPEC Iran ke Cina. Menurut para pedagang dan analis, mereka telah mengabaikan sanksi AS dan PBB terhadap Teheran.

Dari praktik ekspor di bawah radar ini, Cina dapat menerima minyak mentah dari Iran hingga 1 juta barel per hari. “Dan minyak itu dicatat sebagai minyak mentah dari negara lain,” kata sumber Reuters itu lagi.