Lokadata.ID

Harga pangan dunia lepas kendali, Indonesia bisa terdampak

Warga melintas di dekat daging sapi yang dijual di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (2/6/2021). Salah satu komoditas yang sangat dipengaruhi harga di pasar dunia.
Warga melintas di dekat daging sapi yang dijual di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (2/6/2021). Salah satu komoditas yang sangat dipengaruhi harga di pasar dunia. Sigid Kurniawan / ANTARA FOTO

Harga pangan dunia terus mencatatkan kenaikan di tengah krisis pandemi virus korona. Kenaikan harga di pasar internasional tersebut dikhawatirkan akan berimbas pada harga pangan di dalam negeri.

Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mencatat, indeks harga pangan dunia pada sepanjang Mei lalu mencapai 127,1, atau naik 4,8 persen secara bulanan. Bahkan, jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/yoy) indeks harga pangan tersebut naik luar biasa: 39,7 persen.

“Lonjakan harga minyak nabati, sereal, dan gula memimpin kenaikan indeks pangan. Peningkatan indeks merupakan yang tertinggi sejak September 2011,” tulis FAO seperti dikutip Lokadata.id, Kamis (10/6/2021).

FAO menyebutkan, hampir semua komoditas pangan harganya melonjak. Lembaga itu mencatat, harga sereal, misalnya, naik enam persen secara bulanan dipengaruhi kenaikan harga jagung. Setelahnya, harga minyak nabati juga naik 7,8 persen, harga gula 6,8 persen, harga daging 2,2 persen, dan harga produk susu 1,8 persen.

Di Indonesia, harga sejumlah komoditas pangan juga terlihat naik. Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), harga daging sapi, misalnya, per Rabu (9/6) lalu mencapai Rp123.450 per kilogram. Angka itu naik cukup tinggi 4,4 persen secara tahunan.

Meskipun tak terkait dengan kenaikan harga sejumlah komoditas di pasar internasional, PIHPS juga mencatat, harga telur ayam meningkat 5,4 persen secara tahunan menjadi Rp26.450 per kilogram. Demikian juga dengan harga cabai rawit yang naik bahkan mencapai dua digit 34,1 persen menjadi Rp45.250 per kilogram.

Menurut Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi), Abdullah Mansuri, para pedagang sangat merasakan fluktuasi harga pangan terutama sejak naik akibat momen Ramadan dan Idulfitri lalu. “Pemerintah belum bisa melakukan stabilisasi harga beberapa komoditas,” kata Abdullah kepada Lokadata.id.

Dia menyebutkan, sejumlah komoditas yang harganya masih fluktuatif ini, di antaranya: daging dan cabai. Menurut Abdullah, lantaran fluktasi harga pangan itu, saat ini tak sedikit para pedagang yang resah. Dia menduga, fluktuasi harga pangan ini akibat faktor ketidakseimbangan suplai dan permintaan serta persoalan psikologi pasar.

Faktor psikologi pasar, misalnya, bisa muncul dari sejumlah isu terkait harga pangan. Saat ini, katanya, yang menjadi perhatian pedagang adalah rencana pengenaan pajak pertambahan nilai (PPN) untuk sembako. “Kami memang belum tahu apakah isu itu sudah bikin harga pangan naik hari ini, meskipun kami tak mengharapkan ada kenaikan.”

Abdullah mendesak pemerintah segera mengantisipasi masalah harga pangan dengan menyesuaikannya berdasarkan harga acuan yang sudah ditetapkan. Dia juga meminta pemerintah memperbaiki masalah distribusi pangan serta manajemen tata niaga pangan. “Masalah kenaikan harga ini selalu terjadi setiap tahun. Harus ada perbaikan,” katanya.

PPN akan diterapkan pada sembako yang mencakup 13 bahan kebutuhan pokok. Yang bayar PPN 12 persen ya konsumen, melalui pedagang kena pajak.
PPN akan diterapkan pada sembako yang mencakup 13 bahan kebutuhan pokok. Yang bayar PPN 12 persen ya konsumen, melalui pedagang kena pajak. Antyo / Lokadata.id

Kepada Lokadata.id, Peneliti Center of Reforms on Economics (Core), Yusuf Rendy Manilet mengatakan, kenaikan harga pangan dunia, termasuk Indonesia, memiliki banyak faktor penyebab. Dia menyebut, kenaikan harga minyak sayur, misalnya, salah satunya dipengaruhi oleh peningkatan harga minyak sawit dan kedelai.

Kata Yusuf, harga minyak sawit naik dipengaruhi perlambatan produksi komoditas tersebut di sejumlah negara Asia Tenggara. Pada saat yang sama, permintaan sawit secara global meningkat.

Sedangkan kenaikan harga pangan di Indonesia, lanjutnya, ada beberapa yang menjadi penyebab, di antaranya: kenaikan permintaan saat Ramadan dan Lebaran serta anomali iklim saat ini. “Kalau melihat dari beberapa proyeksi juga disebutkan bahwa harga pangan masih cenderung meningkat bahkan sampai dengan tahun depan,” kata Yusuf.

Yusuf berpendapat, langkah antisipatif perlu dilakukan pemerintah soal perubahan harga, baik dari sisi hulu maupun hilir. Di sisi hulu, pemerintah bisa meningkatkan produksi pangan di kalangan petani. Sedangkan di sisi hilir, yang perlu diperhatikan adalah pengawasan jalur distribusi, khususnya bahan pangan yang distribusinya panjang.

Upaya pemerintah

Menurut Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kementerian Perdagangan, Kasan, kenaikan harga pangan dunia yang dicatat oleh FAO disebabkan setidaknya dua hal. Pertama, pengetatan pasokan dari negara-negara produsen pangan seiring dampak pandemi. Kedua, kenaikan permintaan.

Kasan menyebut, kementeriannya menyadari ada potensi kenaikan harga pangan pokok, terutama yang diperoleh dengan impor. “Kenaikan harga pangan dunia pasti akan ada transmisi ke Indonesia. Tapi, belum tentu ke seluruh harga pangan,” kata Kasan kepada Lokadata.id.

Kepada Lokadata.id, Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, Agung Hendriadi menambahkan,harga komoditas pangan yang sepenuhnya diproduksi di dalam negeri, seperti beras, cabai, bawang merah, daging ayam dan telur ayam, diperkirakan tidak terlalu terpengaruh harga pasar dunia.

Berbeda halnya dengan dengan harga minyak goreng yang naik seiring dengan kenaikan harga minyak sawit di pasar dunia. “Harga komoditas pangan yang kecukupannya dipenuhi dari impor sangat dipengaruhi perkembangan harga pangan dunia. Selama Januari-Mei 2021 ini yang terpengaruh harga pangan dunia adalah daging sapi dan kedelai,” kata Agung.

Sedangkan untuk kenaikan harga cabai, lanjutnya, disebabkan adanya pergeseran musim tanam dan masalah distribusi. Kemudian, untuk daging ayam dan telur ayam dipengaruhi oleh kenaikan harga pakan jagung

Agung menyebut, pemerintah telah memiliki sejumlah upaya guna mengendalikan harga pangan dalam negeri. Beberapa di antaranya adalah peningkatan produksi melalui intensifikasi dan ekstensifikasi lahan baru, mengurangi ketergantungan kebutuhan pangan di daerah defisit, memperlancar distribusi pangan, melakukan intervensi distribusi bila terjadi gejolak harga, dan memperkuat cadangan pangan pemerintah terutama beras.